Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Aku sudah ternoda


Aga pun mendudukkan kembali tubuhnya di kursi samping Naina. Aga memilih diam. Menunggu Naina yang sedang menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum berbicara.


"Maafkan aku Kak Aga. Jika apa yang akan aku katakan nanti akan membuat Kakak sangat kecewa kepadaku." Naina berucap sangat pelan. Namun indera pendengaran Aga yang sangat tajam dapat mendengarkannya.


"Katakanlah." Ucap Aga dengan nada lembut.


Naina menatap pada wajah Aga yang saat ini tengah menatapnya. Sungguh ia sangat tidak kuat melihat wajah rupawan itu akan terlihat kecewe beberapa saat lagi akan pernyataannya.


"Maaf jika aku bukanlah wanita seperti yang Kak Aga pikirkan selama ini." Naina tergagap. Mengumpulkan segenap keberaniannya untuk kembali berbicara.


Ekspresi wajah Aga tidak berubah. Pria itu masih nampak menunggu Naina melanjutkan ucapannya.


"Aku bukanlah wanita baik-baik seperti Kakak dan orang lain di luar sana pikirkan. Aku hanyalah wanita kotor." Tangan Naina terkepal kuat. Sekuat tenaganya ia kembali melanjutkan ucapannya. "Aku bukanlah wanita yang bisa menjaga kehormatanku dengan baik."


"Apa maksud ucapanmu, Naina?" Ekspresi wajah Aga terlihat mulai berubah. Antara rasa bingung dan ragu menjadi satu di dalam benaknya.


"Maafkan aku, Kak... Maaf karena sejujurnya aku sudah ternoda. Aku bukan lagi wanita suci yang seperti Kakak harapkan. Aku benar-benar kotor." Air mata Naina terjatuh seiring dengan kedua kelopak matanya yang mulai tertutup. Mengatakan kenyataan pahit yang sudah dialaminya membuat dada Naina selalu sesak.


"Maafkan aku..." Naina hanya bisa mengucapkan kata maaf itu berulang kali.


"Aku sudah melakukan dosa besar. Aku telah memberikan kehormatanku kepada pria yang bukan suamiku. Aku bukan hanya wanita kotor. Tapi aku juga adalah seorang Ibu dari gadis kecil yang telah lahir dari rahimku akibat perbuatan dosa besar yang aku lakukan itu." Naina mulai terisak. Melihat Aga hanya diam tak menggubris ucapannya membuat Naina berpikir jika Aga pasti sangatlah terkejut dengan apa yang ia katakan.


"Sekali lagi maafkan aku, Kak..." Naina menatap pada wajah Aga dengan tatapan bersalah.


"Naina..." kepala Aga menggeleng. Berharap apa yang dikatakan Naina tidak benar dan hanya mengada-ngada. "Ini semua tidak mungkin. Kau jangan bercanda!" Aga memegang kedua bahu Naina seraya mengguncangnya. Kilatan kekecewaan terlihat jelas di sana.


Air mata Naina semakin mengalir dengan deras. Raut wajah kecewa Aga benar-benar membuat dadanya kian sesak. "Aku tidak bercanda, Kak. Aku benar-benar wanita kotor. Hiks..." Naina tertunduk saat kedua tangan Aga merosot begitu saja dari bahunya.


Aga meluruskan tubuhnya. Menatap pada awan hitam yang seolah menggambarkan suasana hatinya saat ini. Ada apa ini? Apa benar wanita polos dan lugu yang ia lihat selama ini benar-benar sudah ternoda seperti yang wanita itu katakan? Apa benar wanita yang sangat dicintainya itu sudah memiliki seorang anak? Tapi apa itu mungkin?


Detak jantung Aga berdetak begitu cepat. Jujur saja kebenaran yang baru saja ia ketahui benar-benar membuatnya terkejut. Perasaan tidak percaya itu masih saja menolak kebenaran yang Naina katakan. Aga kembali memiringkan tubuhnya. Menatap pada wajah cantik yang kini sudah nampak basah oleh air mata. Tubuh kekasihnya itu bergetar. Menahan sesak dan isakan tangisannya agar tidak semakin keluar.


Bukan hanya Aga, Naina pun turut terluka dengan kenyataan hidupnya saat ini.


***