Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Obat rindu Daniel


Laju mobil Daniel semakin melambat setelah masuk ke dalam gerbang komplek perumahan tempat orang tua Naina tinggal. Daniel merogoh ponselnya dari saku celananya lalu melakukan panggilan pada seseorang.


"Apa orang tua Naina masih berada di rumah?" Tanya Daniel saat panggilan terhubung. Setelah mendapatkan jawaban, Daniel pun menambah kecepatan mobilnya menuju rumah orang tua Naina.


"Aku harap keputusanku kali ini benar." Gumam Daniel.


Sebuah mobil mewah bewarna hitam yang baru saja terparkir di depan rumahnya membuat Zeline yang sedang asik memainkan boneka barunya di teras rumah mengalihkan pandangan ke arah mobil.


"Sapa tu?" Ucap Zeline lalu tegak dari duduknya. Kaki mungil Zeline pun melangkah tanpa rasa takut menuju mobil yang belum mengeluarkan sosok siapa pun dari sana. "Inda ada olang ini?" Tanya Zeline pada dirinya sendiri. Zeline pun berdiri tak jauh dari mobil sambil menunggu seseorang keluar dari sana.


Di dalam mobil, Daniel yang melihat putrinya sudah berada di dekat mobilnya menatap Zeline dengan senyuman lebar di bibirnya. Rasa rindu yang ia pendam setiap harinya pada putrinya terbayarkan sudah saat melihat wajah mungil dan lucu itu kini sudah ada di dekatnya.


Daniel segera membuka pintu mobilnya. Tak ingin putri kecilnya terlalu lama menunggu dirinya keluar dari dalam mobil.


"Tak Niel..." seru Zeline saat melihat sosok Daniel keluar dari dalam mobil. Kaki mungil Zeline pun segera melangkah menuju Daniel. "Tak Niel..." ucapnya lagi lalu memeluk erat kaki Daniel. "Main sini ya?" Tanyanya sambil mendongak menatap wajah Daniel yang jauh lebih tinggi darinya.


Daniel tersenyum. Lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan Zeline. "Iya. Apa boleh?" Tanya Daniel sambil mengelus rambut putrinya.


"Leh. Danteng gini kok." Ucapnya malu-malu.


Daniel hampir saja tertawa mendengarkan pujian putrinya. "Apa benar Kakak ganteng?" Tanyanya menggoda.


Kepala Zeline mengangguk-angguk hingga kedua rambutnya yang dikepang ikut berayun.


"Lucu banget sih." Ucap Daniel lalu mengecup sebelah pipi bulat putrinya.


"Satu lagi belum ini." Ucap Zeline sambil menunjuk sebelah pipinya yang belim dikecup.


Daniel tersenyum lalu memberikan yang diinginkan putrinya.


Daniel mengangguk. "Ibu dan Ayah ada?" Tanya Daniel walau pun sudah tahu jawabannya.


Zeline mengangguk. "Ada. Mandi itu tadi. Zel dah tantik gini." Balasnya tak jelas mengungkapkan maksud hatinya.


Di ambang pintu, Ibu yang ingin memberikan cemilan pada cucunya dibuat terkejut saat melihat Zeline sedang berbicara dengan seseorang yang sangat dikenalinya.


"Daniel..." gumam Ibu menyebutkan nama ayah dari cucunya. "Zeline..." panggil ibu pada cucunya hingga membuat pembicaraan Daniel dan Zeline terhenti.


"Ibu... Tak danteng ini datang main." Ucap Zeline sedikit keras sambil menunjuk wajah Daniel.


Daniel menegakkan tubuhnya. Menatap pada Ibu Fatma sambil tersenyum. Daniel pun segera menggendong tubuh Zeline lalu berjalan ke arah Ibu.


"Selamat pagi, Bibi." Sapa Daniel pada Ibu Fatma.


"Pagi, Daniel." Balas Ibu lalu tersenyum. "Zeline... ayo turun. Kak Daniel keberatan itu menggendongmu." Ucap Ibu pada cucunya.


"Tulun ja Tak." Ucap Zeline yang diangguki oleh Daniel.


"Daniel... Ada apa kau datang kemari?" Tanya Ibu saat menangkap jika Daniel memiliki maksud datang ke rumahnya. Walau pun merasa marah dan kecewa pada pria di depannya saat ini, namun Ibu masih memiliki etika untuk menghargai tamu yang datang ke rumahnya.


"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan pada Bibi dan Paman." Balas Daniel.


***


Berikan dukungan dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya dengan cara like, komen dan votenya. Dan ingat ya teman-teman semua. Untuk bisa bersabar sama jalan cerita yang aku buat karena aku gak bisa selalu seperti yang teman-teman mau. Aku memiliki keterbatasan sendiri untuk menulis jalan cerita yang aku tulis.😊