
Melihat ponselnya yang terus berdering membuat perasaan Naina semakin tidak enak. Naina pun memutuskan untuk izin keluar dari ruang rapat untuk mengangkat panggilan telefon dari Amara.
"Ada apa Amara?" Tanya Naina saat panggilan sudah terhubung.
Kakak... apa Kakak bisa pulang ke rumah? Zeline badannya semakin panas. Zel sejak tadi memanggil nama Kakak.... Amara takut Kak... Amara takut Zel kenapa-napa.... Amara juga tidak berani membawa Zel ke rumah sakit dalam keadaan panik seperti ini... Suara Amara di seberang telefon terdengar panik dan cemas.
Tak Nai.... Pulang... Hua.... Naina pun dapat mendengar putrinya kini menangis memanggil-manggil namanya.
"Amara... Dengarkan Kakak. Tolong siapkan keperluan Zel, kita akan bawa Zel ke rumah sakit. Kakak akan pulang sekarang juga!" Ucap Naina lalu mematikan sambungan telefonnya.
Dengan panik dan langkah tergesa-gesa, Naina pun kembali ke ruangan rapat. Langkah Naina pun tertuju pada Mbak Wiwin yang kini sibuk mencatat sesuatu di atas buku kecilnya.
"Ada apa, Naina?" Tanya Mbak Wiwin dengan pelan saat melihat raut tak bersahabat dari wajah Naina.
Naina pun mengutarakan niatnya yang ingin izin pulang lebih awal dan menceritakan kejadian di rumahnya.
Kepala Mbak Wiwin mengangguk. "Pergilah." Balas Mbak Wiwin dengan suara yang masih pelan karena tak ingin mengganggu staff lain yang sedang berdiskusi.
Dari kursi kebesarannya, Daniel tak melepaskan pandangannya dari Naina yang terlihat cemas. Daniel dapat menangkap dengan jelas raut wajah tak bersahabat Naina saat ini.
Naina pun kembali keluar dari dalam ruangan yang membuat Sasa yang sejak tadi memperhatikannya bertanya-tanya.
Ada apa dengan Naina? Kenapa wajahnya panik begitu? Batin Sasa merasa penasaran.
*
Setelah mengambil tasnya dari dalam ruangan kerjanya, tak membuang waktu lama Naina pun langsung bergegas turun untuk mengambil motornya di parkiran.
Selama dalam perjalanan, Naina nampak tidak fokus membawa motornya. Beberapa kali ia hampir saja menabrak pengendara lainnya. Dan beberapa kali juga Naina mendapatkan klakson yang cukup kuat saat motornya menghalangi jalannya kendaraan lain.
"Amara..." Suara Naina terdengar begitu cemas memanggil nama adiknya saat masuk ke dalam rumahnya.
"Kakak... kakak sudah pulang..." tak berbeda jauh dengan Naina, wajah Amara pun nampak begitu cemas.
"Dimana Zeline?" Tanya Naina.
"Zel ada di kamar, Kak." Balas Amara.
Naina mengangguk paham lalu segera berjalan menuju kamarnya.
"Tak... hua..." Zeline langsung menangis dengan keras saat melihat wajah Naina. "Tatit ini..." Adunya memegang kepalanya sambil menangis.
Naina memegang kening putrinya. "Ya ampun... Panas sekali..." Ucapnya begitu panik.
"Hua..." Zeline semakin menangis dengan keras.
"Sabar ya... Kakak akan membawa Zel ke rumah sakit." Ucap Naina berusaha menenangkan putrinya. "Amara, ayo kita bawa Zel ke rumah sakit!" Ajak Naina pada Amara yang diangguki oleh Amara.
"Biar aku saja yang membawa motornya, Kak. Dalam keadaan panik seperti ini tidak baik untuk Kakak berkendara." Ucap Amara menahan Naina yang hendak memberikan tubuh Zeline kepadanya.
Naina pun mengangguk dengan cepat. "Zeline... Jangan menangis sayang... kakak akan membawamu ke rumah sakit..." Melihat Zeline yang masih menangis membuat Naina turut menangis.
***
Lanjut lagi?
Mana ini komen, vote dan likenya😌