
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Zeline masih saja terus menangis. Naina pun turut menangis. Ia benar-benar merasa khawatir melihat keadaan putrinya saat ini.
"Sabar ya... sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Naina sambil menggenggam erat jemari mungil putrinya.
Amara yang turut merasa khawatir dengan keadaan Zeline pun berusaha fokus dengan kemudinya. Untung saja jalanan siang itu tidak terlalu macet sehingga mereka cepat sampai di rumah sakit.
"Kakak duluan saja masuk ke dalam. Mara akan menyusul setelah memarkirkan motor." Ucap Amara setelah menurunkan Naina di depan rumah sakit.
Naina mengangguk cepat. Dengan tubuhnya yang mungil itu, Naina pun menggendong tubuh putrinya yang semakin terasa panas.
"Zel tunggu di sini sebentar ya, Kakak ingin mendaftarkan Zel lebih dulu." Ucap Naina setelah mendudukkan tubuh Zeline di atas kursi tunggu.
Zeline menggeleng. "Inda mahu... Zel mau itut..." Ucapnya sambil menangis.
Tak ingin putrinya semakin menangis, Naina pun kembali menggendong tubuh Zeline lalu mendaftarkan putrinya di bagian administrasi.
Setelah melakukan pendaftaran, Naina pun kembali ke kursi tunggu lalu duduk di sana sambil memangku Zeline.
"Sabar ya... Sebentar lagi Zel akan diperiksa." Ucap Naina dengan lembut.
Zeline tidak menjawab. Gadis kecil itu masih saja terus menangis menahan rasa sakitnya.
"Kakak... bagaimana? Apa Kakak sudah mendaftar?" Tanya Amara yang sudah kembali dari memarkirkan motornya.
Naina mengangguk. "Tinggal tunggu dipanggil saja." Ucap Naina yang diangguki paham oleh Amara.
Amara pun duduk di samping Naina. Ia pun turut membantu menenangkan Zeline yang masih menangis. "Kakak tenanglah... Zel pasti akan baik-baik saja." Ucap Amara mengelus lengan Naina. Amara dapat melihat jika saat ini Naina tengah menahan tangisnya agar tidak keluar.
Tak lama nama Zeline pun dipanggil. Naina pun dengan segera bangkit lalu berjalan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
Saat sudah masuk ke dalam ruangan, Naina dibuat begitu terkejut saat melihat wajah Dokter yang akan memeriksa keadaan putrinya. Namun tidak dengan dokter itu yang nampak tenang menatap pada wajah Naina.
"Suster. Tolong dibantu membaringkan pasien." Perintah Dokter cantik itu yang diangguki oleh asistennya.
"Tidak apa-apa... Ibu Dokter hanya ingin memeriksa keadaan Zel agar cepat sembuh." Ucap Naina menenangkan putrinya.
Zeline pun mengangguk. Namun tangannya tak melepas tangan Naina agar Naina tak berada jauh darinya.
Dokter cantik itu pun mulai memeriksa keadaan Zeline yang masih nampak ketakutan.
"Bagaimana keadaan adik saya Dokter?" Tanya Naina dengan nada ragu.
"Adik..." Dokter cantik itu nampak bingung. Namun setelahnya ia kembali memasang wajah normal. "Kondisi adik anda saat ini demam tinggi. Sebaiknya adik anda dirawat inap sampai demamnya menurun. Dan kami akan melakukan pengecekan dengan demam tinggi yang dialami adik anda jika saja ada penyakit yang tidak diinginkan." Tutur dokter cantik itu.
Naina nampak berpikir.
"Bagaimana, Nona?" Tanya dokter itu melihat Naina yang masih terdiam.
"Baiklah. Saya setuju. Saya mohon tolong berikan perawatan terbaik untuk adik saya." Pinta Naina penuh harap. Ia juga merasa khawatir jika demam Zeline bukanlah sakit demam biasa.
Dokter itu mengangguk. "Suster. Tolong persiapkan semua keperluannya!" Titah dokter cantik itu pada asistennya yang diangguki patuh oleh asistennya.
Setelah beberapa orang suster membawa Zeline menuju ruangan perawatan, dokter cantik itu pun menahan pergelangan tangan Naina yang masih berada di ruangannya dan hendak ingin keluar.
"Apa benar dia adik anda, Nona?" Tanyanya dengan wajah serius pada Naina.
***
Lanjut? Kasih semangat dulu yuk dengan cara
Vote
Like
Dan komennya😮💨