Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Apa dia anakku?


"Zeline..." Naina menatap sendu pada wajah putrinya saat sudah berada di samping ranjang Zeline. Tangannya pun terulur mengambil tangan mungil putrinya lalu mengecupnya sayang. "Jangan sakit seperti ini... Hati Mama benar-benar sakit melihatmu terbaring lemah seperti ini." Ucap Naina dengan menahan isak tangisnya.


Naina pun duduk di samping ranjang. Tangannya masih setia menggenggam erat tangan mungil buah hatinya. "Kau adalah semangat Mama. Bagaimana bisa Mama menjalani hari dengan baik-baik saja saat melihatmu sakit seperti ini." Naina menjatuhkan wajahnya di atas tangan putrinya.


Cukup lama Naina terdiam sambil menatap wajah damai putrinya yang masih tertidur. Hati dan pikirannya benar-benar dibuat kalut dengan sakitnya buah hatinya. Tubuhnya yang sudah lelah seharian merawat dan mengurus segala keperluan anaknya pun membuat Naina mulai mengantuk. Perlahan kedua kelopak matanya pun mulai terpejam. Namun Naina tak membiarkan sama sekali tangannya melepas tangan mungil putri kecilnya.


Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka itu dapat mendengar dengan jelas setiap ucapan yang keluar dari mulut Naina. Tubuh orang itu nampak menegang dengan detak jantung yang bekerja tidak normal.


Mama? Batinnya mengulang ucapan yang keluar dari mulut Naina. Jadi benar jika Naina yang diceritakan Kak Dara adalah Naina kekasih masa laluku. Dan anak itu.... Batin orang itu semakin tidak tenang.


Orang itu pun menutup rapat pintu ruang rawat Zeline tanpa menimbulkan suara.


"Tuan..." Suara seseorang yang sejak tadi berdiri di belakangnya membuat Daniel memutar kepalanya ke arah belakang.


"Marko. Segera cari cara untuk melakukan tes DNA untukku dan Zeline. Bagaimana pun caranya, kau harus bisa melakukan tes DNA itu hari ini juga!" Titah orang itu yang tak lain adalah Daniel dengan tegas.


Marko mengangguk patuh. "Ada sesuatu hal yang ingin saya berikan pada anda, Tuan." Ucap Marko sambil menyerahkan sebuah amplop pada Daniel.


"Apa ini?" Kening Daniel mengkerut dalam menerima map dari Marko.


"Ini adalah hasil penyelidikan yang Tuan minta." Balas Marko.


"Saya akan membacanya nanti. Untuk saat ini kau lakukan apa yang saya minta." Titah Daniel tanpa berniat membuka isi amplop itu lebih dulu. Daniel pun segera berlalu dari hadapan Marko.


Tanpa melakukan tes DNA, anda sudah bisa mendapatkan jawaban dari apa yang ingin anda ketahui, Tuan. Batin Marko menatap kepergian Daniel.


*


Daniel pun kembali mengingat pertemuannya dan Zeline untuk pertama kalinya. Dimana saat itu ia dibuat begitu tertegun saat melihat warna mata gadis kecil itu yang sangat mirip dengan warna matanya.


Bagaimana wajah gadis kecil itu selalu terngiang di benaknya bahkan membuat tidurnya selalu bermimpikan wajah gadis itu. Hatinya pun semakin tidak tenang saat mengumpulkan ingatan atas kejadian demi kejadian yang pernah ia lewati bersama Naina.


Daniel kembali melajukan mobilnya saat lampu lalu lintas telah berubah warna. Sore itu Daniel memutuskan untuk pergi ke apartemennya yang sudah lama tidak ia datangi setelah kuliah di luar negeri.


Selama dalam perjalanan hatinya terus tidak tenang jika apa yang ada dipemikirannya saat ini menjadi kenyataan. "Jika gadis kecil itu adalah anak Naina bukan adiknya, apa mungkin jika gadis kecil itu juga adalah anakku?" Ucap Daniel sambil mencengkram erat kemudinya.


***


Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺


Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Hanya Sekedar menikahi (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)