
"Amara..." Ibu menempelkan jari telunjuknya di bibir pertanda meminta Amara untuk diam dan tak lagi bicara.
Amara mengangguk. Walau pun merasa penasaran, namun ia membiarkan saja Ibunya membawa masuk Naina ke dalam kamarnya.
"Apa yang terjadi dengan Kakak? Kenapa Kakak menangis? Bukankah Kakak baru saja pulang dari kencannya bersama Kak Aga? Apakah Kak Aga menyakiti Kakak?" Banyaknya pertanyaan kini berputar di benak Amara. Amara menatap pintu kamar Naina yang sudah tertutup rapat. "Semoga saja tidak ada kejadian buruk yang menimpa Kakak." Harapnya lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Di dalam kamar, Naina nampak masih menangis sambil menceritakan saja yang terjadi di rumah Aga pada Ibunya.
"Jadi Nak Aga dengan besar hati mau menerimamu, Nai?" Ibu terlihat tak menyangka.
Naina mengangguk membenarkan. "Nai merasa tidak pantas untuknya, Bu." Lirih Naina.
Ibu menghela nafas panjang. "Ibu tahu Aga pria yang baik. Tapi Ibu tak menyangka dengan kebesaran hatinya." Ibu kembali memeluk putrinya. "Jangan bersedih lagi dengan kenyataan ini, Nai. Setidaknya kau sudah berkata jujur kepada Aga dan tidak lagi menyembunyikan status Zeline darinya."
Naina menganggukkan kepalanya. "Nai tidak menyangka jika Kak Aga mau menerima keadaan Nai saat ini, Bu." Ucap Naina setelah pelukan ibunya terlepas. "Dulu Nai selalu berpikir apakah masih ada pria yang mau menerima wanita kotor seperti Nai?" Lirihnya.
"Sudahlah... yang lalu biarlah berlalu. Jangan lagi mengingatnya karena itu hanya akan membuat hatimu kembali terluka."
Naina menganggukkan kepalanya.
"Ibu harap kau dapat mengambil keputusan yang bijak atas ajakan pernikahan yang ditawarkan Aga.. Jangan sampai keputusanmu nantinya akan menjadi bumerang di dalam hidupmu kembali, Nai. Jangan memaksakan hatimu jika kau tidak bisa." Ibu menepuk pundak Naina seperti memberikan isyarat.
Naina kembali mengangguk.
"Apa kau ingin tidur dengan Zeline? Ayah bisa menggendongnya ke kamarmu jika kau ingin." Tawar Ibu. Karena Ibu yakin jika saat ini Naina sangat membutuhkan anaknya untuk menenangkan hatinya yang sedang gelisah saat ini.
"Apa Zeline sudah lama tidur, Bu!" Tanya Naina.
"Tidak lama setelah kepergianmu bersama Aga Zeline sudah tidur."
"Nai ingin tidur bersama Zeline, Bu." Lirih Naina.
"Ibu... Terimakasih." Ucap Naina dengan tulus.
Ibu tersenyum lalu mengelus kepala putrinya. "Ibu ke kamar dulu." Ucap Ibu yang diangguki oleh Naina.
*
Pukul dua malam, Naina yang baru saja terlelap pun kembali terjaga saat mendengar isakan kecil dari bibir putrinya.
"Zeline... Kenapa menangis?" Naina pun duduk dari pembaringannya. Menghidupkan lampu kamarnya agar dapat melihat dengan jelas wajah putrinya saat ini.
"Tatak... Hua..." Zeline semakin menangis kencang lalu memeluk tubuh Naina.
"Zeline... Ada apa dek? kenapa kau sering sekali terbangun di malam hari beberapa hari belakangan ini?" Tanya Naina dengan lembut.
Zeline hanya diam dan terus menangis.
Melihat sikap putrinya yang tidak seperti biasanya membuat Naina bingung dan bertanya-tanya.
"Jangan menangis... Ada Kakak di sini..." Naina pun hanya bisa menenangkN putrinya yang terus menangis dengan mata tertutup.
"Mau Tak Niel..." Ucap Zeline disela isakannya.
Deg
Jantung Naina berdetak begitu cepat mendengarkan ucapan putrinya. Naina pun memperhatikan mata putrinya yang sudah tertutup.
"Zeline..." Naina menggelengkan kepalanya. Berharap apa yang didengarnya baru saja hanyalah halusinasinya.
***