Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Kakek Alexander


"Ini tantik... ini tantik juga..." Zeline menunjuk beberapa gaunnya yang ia keluarkan dari dalam lemarinya. Jari telunjuknya kemudian mengetuk-ngetuk keningnya seolah berpikir gaun mana yang lebih bagus.


"Tantik semua. Bingung Zel tuh!" Zeline berkacak pinggang. Merasa sebal tak dapat menjatuhkan pilihan pada gaun yang terlihat lebih cantik di matanya.


Suara decitan pintu akibat didorong Naina membuat Zeline mengalihkan pandangan ke pintu yang kini sudah terbuka.


"Zeline... kenapa belum memakai singlet?" Kedua bola mata Naina membola melihat putrinya masih mengenakan handuk yang melilit tubuhnya dengan tangan berkacak pinggang. "Zeline..." kepala Naina menggeleng melihat banyaknya gaun Zeline yang kini berserakan di atas lantai.


"Mana tantik ini, Tak? Bingung Zel tuh." Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Naina.


"Semua gaunnya cantik. Memangnya Zel bertanya untuk apa?" Kening Naina mengkerut. Mendekat ke arah putrinya yang masih berkacak pinggang.


"Untuk pakai malam ini jumpa Tak Niel." Balasnya memasang wajah masam.


"Zeline..." Naina hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Sekarang masukkan kembali gaunnya karena Kakak sudah menyiapkan gaun untuk Zel pakai." Tutur Naina dengan lembut.


"Mana?" Kedua mata Zeline berbinar.


"Masukkan dulu gaunnya baru Kakak akan memperlihatkannya."


"Ya deh." Zeline buru-buru memasukkan kembali gaun-gaunnya ke dalam lemari.


Naina berjalan ke arah lemarinya lalu mengeluarkan sebuah gaun anak yang masih nampak baru.


"Ini dia." Ucap Naina sambil mengangkat gaun di tangannya.


"Tantiknya..." Zeline buru-buru berjalan ke arah Naina lalu mengambil gaunnya. "Balu ini, Tak?" Tanya Zeline.


Naina mengangguk lalu tersenyum. "Kakak baru membelinya setelah gajian kemarin. Sekarang ayo pakai singletnya. Sebentar lagi Kak Daniel akan datang." Ucap Naina yang diangguki oleh Zeline.


*


Suara deru mesin mobil yang terdengar di depan rumahnya membuat jantung Naina semakin berdetak kencang. Naina menegakkan tubuhnya. Menatap ibu yang kini tersenyum kepadanya.


"Tak Niel itu, Bu?" Tanya Zeline yang baru keluar dari dalam kamar Amara.


"Sepertinya begitu." Ucap Ibu yang hendak keluar dari rumahnya.


Zeline berlari keluar dari dalam rumahnya tanpa menunggu Ibu.


Kaki mungilnya berlari ke arah Daniel lalu memeluk erat sebelah kaki Daniel dengan tangan mungilnya. "Akhilnya datang juga..." ucapnya begitu senang.


Daniel mengelus kepala Zeline dengan sayang. "Apa sudah lama menunggu kedatangan Kakak?" Tanya Daniel.


Zeline mengangguk polos. "Lamanya... Zel sampai ngantuk ini." Adunya. Mengangkat kepalanya hingga matanya bersitatap dengan mata Daniel.


"Zeline..." suara lembut Mama Hasna berhasil mengalihkan pandangan Zeline dari Daniel.


"Nenek? Nenek main sini juga?" Tanyanya dengan mata membulat sempurna.


Mama Hasna mengangguk. "Bersama Kakek juga." Tambahnya menunjuk pada Papa Alexander.


Zeline mengikuti pandangan Mama Hasna hingga kini ia dapat melihat sosok yang hampir menggambarkan sosok Daniel.


Papa Alexander tersenyum tipis membalas tatapan Zeline.


"Kakek ini?" Tanyanya dengan nada takut.


"Iya... ayo salim dulu dengan Kakek." Ucap Mama Hasna.


Zeline mengangguk. Tangan mungilnya pun terlepas dari kaki Daniel.


"Aulelia Zeline ini..." ucapnya memperkenalkan diri setelah mengecup tangan Papa Alexander.


Senyuman di wajah Papa Alexander terkembang. Tangannya terulur mengelus rambut pirang Zeline. "Kakek Alexander." Ucapnya turut memperkenalkan diri.


"Kakek Alex...." ulang Zeline tersenyum malu-malu.


"Mulai sekarang nama Zeline bukan Aurelia Zeline. Tapi Aurelia Zeline Alexander." Ucap Papa Alexander.


"Napa diubah Kakek?" Tanya Zeline dengan kening mengkerut.


***


Lanjut lagi? Kencengin vote, gift, like dan komennya dulu yuk untuk mendukung karya SHy🥰


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi☺️