
Satu minggu sudah Daniel menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya tinggal di rumah orang tua Naina. Dan pada hari ini Daniel berniat membawa Naina dan Zeline untuk tinggal di rumahnya.
"Apa kau tak masalah jika aku membawamu tinggal di rumahku?" Tanya Daniel dengan lembut pada Naina yang tengah memasukkan baju-bajunya dan Zeline ke dalam koper.
Naina menghentikan sejenak pekerjaannya lalu menatap Daniel dengan tersenyum. "Tak apa... lagi pula sudah kewajibanku untuk ikut kemana pun suamiku pergi." Balas Naina.
Daniel tersenyum. Tangannya dengan ragu mengelus rambut Naina. Walau kecanggungan masih menyelimuti mereka saat berdua sampai saat ini, namun baik dirinya maupun Naina sudah saling mencoba untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka.
Naina sedikit tertegun. Ia pun membiarkan tangan Daniel dengan lembut mengelus rambutnya. "Kita akan berangkat jam berapa?" Tanya Naina.
Daniel melihat jam di dinding kamar. "Setelah makan siang saja. Lagi pula saat ini Zel masih bermain di toko Ayah bersama Amara." Jawab Daniel.
Naina mengangguk paham. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya memasukkan baju-baju Zeline ke dalam kopernya.
"Jangan terlalu banyak membawa bajumu dan Zeline. Tinggalkan saja di sini untuk digunakan saat kita menginap di sini. Kita bisa membeli baju baru untukmu dan Zeline nanti untuk di rumah." Tutur Daniel.
"Tapi..." Naina nampak ragu. Terlebih membeli baju baru untuknya dan Zeline membuatnya merasa merepotkan Daniel.
"Sudahlah, tidak perlu banyak berpikir." Daniel mengusap-usap kening Naina lalu bangkit. "Aku ke belakang dulu ingin mengambil minum." Ucap Daniel.
"Biar aku saja yang mengambilkannya." Naina berniat untuk bangkit. Namun tangan Daniel dengan cepat mencegahnya.
"Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku bisa mengambilnya sendiri." Tutur Daniel.
"Baiklah." Balas Naina dengan tersenyum.
*
"Ini lumah Papah?" Kedua mata Zeline nampak berbinar memperhatikan rumah di depannya saat Daniel baru saja menurunkannya dari dalam mobil.
Daniel menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. "Apa Princess Papa menyukainya?" Tanya Daniel.
"Daniel... ini rumah siapa?" Naina yang sejak tadi merasa bingung karena Daniel ternyata tidak membawanya ke rumah orang tuanya pun bertanya-tanya.
"Ini adalah rumah kita." Balas Daniel dengan lembut.
"Rumah kita?" Kedua mata Naina membola. "Ma-maksudmu? Rumah ini milikmu?" Tanya Naina.
"Rumah kita..." koreksi Daniel. "Rumah ini adalah rumah tempat untuk kita tinggal dan membesarkan Zeline bersama-sama." Daniel mengelus rambut Naina dengan sayang.
Naina tertegun. Ia menatap rumah di depannya dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa Daniel membangun sebuah rumah yang tak kalah mewah dari rumah kedua orang tuanya hanya untuk mereka tinggali bertiga saja.
"Sudahlah, ayo masuk." Ajak Daniel melihat Naina yang masih larut dalam pemikirannya. Sedangkan Zeline sudah lebih dulu berjalan ke arah teras rumah.
Daniel menatap pada seorang pelayannya yang baru saja datang menghampirinya.
"Selamat datang Tuan Daniel, Nyonya Naina." Sapanya.
Naina dan Daniel mengangguk seraya tersenyum.
"Tolong bawakan koper Nyonya ke dalam." Ucap Daniel.
"Baik, Tuan." Balas pelayan itu dengan patuh.
"Ayo masuk." Daniel menggenggam tangan Naina dengan lembut lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah barunya.
"Besal sekali lumah Papah ini... tantik juga.." Zeline tak hentinya memuji kemewahan rumah barunya sampai mereka masuk ke dalam rumah.
***