Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Terbawa fikiran


"Maaf jika saya lancang." Dokter cantik itu nampak merasa sungkan. "Saya hanya tertarik dengan warna matanya."


Naina dibuat terdiam seribu kata. "Maaf. Namun saya harus mengikuti adik saya sebelum dia menangis saat menyadari saya tidak ada di dekatnya." Ucap Naina.


"Baiklah. Sekali lagi maafkan saya." Ucap Dokter itu yang diangguki oleh Naina.


Naina pun segera keluar dari dalam ruangan dokter itu dengan jantung yang berdetak begitu cepat. "Semoga saja dokter itu tidak mengenaliku. Namun bagaimana bisa dia memeriksa keadaan Zel? Bukankah dia dokter kandungan?" Naina dibuat bingung dan takut dalam langkahnya.


"Kakak..." Suara Amara yang terdengar memanggil namanya membuat Naina mengalihkan pandangan ke sumber suara.


"Dimana ruangannya?" Tanya Naina pada Amara.


"Di sana, Kak. Ayo!" Amara memegang tangan Naina agar mengikutinya.


Saat sudah berada di dalam ruangan perawatan, Zeline terlihat menangis sambil memanggil nama Naina.


"Tak... kok ilang? Zel takut ini..." Adunya sambil menatap takut pada para suster yang ada di sebelahnya.


Naina mendekat. "Tadi Kakak ada urusan sebentar dengan dokter. Jangan takut... Kakak sudah ada di sini." Naina mengelus rambut putrinya agar menenangkannya.


Tak lama dokter cantik yang tadi memeriksa Zeline pun masuk ke dalam ruangan.


Naina dan Amara pun memberi jarak saat suster dan dokter mulai memasangkan jarum infus di tangan Zeline.


"Hua... inda mahu ditusuk ini..." Zeline kembali menangis. Merasa takut dengan jarum suntik yang kini dipegang oleh Dokter.


Naina pun mendekat. "Sakitnya cuma sebentar saja... Zel mau cepat sembuh bukan?" Tanya Naina dengan lembut menahan agar air matanya tidak kembali jatuh. Ia harus menjadi ibu yang menguatkan putrinya saat ini.


"Mahu... tapi takut ini..." Balasnya dengan wajah takut.


"Sakitnya cuma sedikit... Ayo sini lihat Kakak." Naina mengarahkan pandangan Zeline ke arahnya. Mengelus sayang rambut putrinya. Naina pun memberi kode pada dokter agar memasang jarum infus di tangan Zeline.


Setelah jarum infus itu terpasang, Naina pun melepaskan tangannya dari kepala putrinya. "Tidak sakit kan?" Tanya Naina yang diangguki oleh Zeline. Pandangan putri kecilnya itu kini tertuju ke arahnya sambil menahan tangis.


Naina kembali menenangkan putrinya hingga putrinya itu tertidur.


"Kakak.... Tenanglah... Semua akan baik-baik saja..." Amara mengelus pundak Naina yang mulai menangis kembali.


*


Sore harinya.


Seorang wanita paruh baya nampak memasuki ruangan kerja putrinya dengan menggandeng tangan kedua cucunya.


"Dara..." Suaranya terdengar mengalun hingga membuyarkan lamunan putrinya.


"Mama... Mama sudah datang?" Wanita bernama Dara itu pun bangkit dari kursinya.


"Ya. Mama datang menjemputmu bersama Adikmu."


"Daniel?" Tanya Dara.


"Tentu saja. Siapa lagi adikmu jika bukan dia?" Mama memukul lengan putrinya.


Dara tertawa kecil.


"Ayo pulang. Bukankah jam kerjamu sudah habis?" Tanya Mama yang diangguki oleh Dara.


"Mamah... Ayo!" Dua bocah laki-laki itu pun menarik tangan Mama mereka agar segera keluar dari dalam ruangan kerjanya.


Dara mengangguk lalu mengambil tasnya.


"Ayo." Ucapnya yang diangguki Mama dan kedua anaknya.


Saat sudah berada di dalam mobil, Dara kembali termenung. Mama Hasna yang menyadari itu pun kembali bertanya.


"Dara, ada apa denganmu? Kenapa sejak tadi Mama lihat kau seperti memikirkan sesuatu?" Tanya Mama.


***


Lanjut?


Vote, komen dan likenya yuk😊