
Aga menghela nafasnya yang kian memberat. Melihat Naina menangis seperti saat ini sungguh membuat hatinya semakin terluka. Aga membiarkan wanita itu terus menangis mengeluarkan rasa sakitnya. Ia juga merasa sakit dengan kenyataan ini. Namun bukankah Naina yang lebih merasa sakit? Kenyataan pahit itu harus dirasakan oleh wanita polos dan lugu seperti kekasihnya itu.
"Siapa pria itu?" Tanya Aga setelah melihat Naina cukup tenang. "Siapa pria yang telah merenggut kesucianmu?" Tanya Aga dengan nada datar.
Naina menggeleng pertanda tak ingin menyebutkan pria yang telah menorehkan luka di hatinya.
Aga mengusap kasar wajahnya. Wajah tampannya semakin kusut dengan keadaan yang tidak ia harapakan seperti saat ini. Aga pun bangkit dari duduknya. Melihat itu tangisan Naina pun kembali tumpah.
"Aku tahu Kakak sangat kecewa. Aku sadar jika aku memang wanita yang tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari pria sebaik Kakak. Kakak bebas menentukan pilihan Kakak saat ini. Aku ikhlas jika Kakak ingin memutuskan hubungan ini. Karena aku sadar siapa aku. Sekotor apa diriku." Ucap Naina menatap pada pungggung kokoh Aga.
"Maafkan aku. Karena tidak sejak awal mengatakan kebenaran ini kepada Kakak." Suara Naina semakin terdengar lirih. Aga dapat merasakan kesedihan yang mendalam di diri kekasihnya itu saat ini.
"Terimakasih atas kebaikan Kakak selama ini. Terimakasih karena telah mau membersamai hari-hari bersama wanita kotor seperti diriku walau pun Kakak melakukannya dalam keadaan tidak tahu akan kenyataan ini." Suara Naina semakin terdengar menyayat hati.
Aga membalikkan tubuhnya. Tanpa banyak bicara ia pun membenamkan tubuh mungil Naina ke dalam pelukannya.
"Berhentilah berbicara jika itu semakin membuatmu terluka." Ucap Aga sambil mengeratkan pelukannya.
"Kak Aga... hiks..." Naina semakin menangis dengan deras. "Lepaskan aku Kak. Lepaskan wanita kotor ini..." Naina memberontak. Berusaha melepaskan pelukan Aga yang tak pantas bagi dirinya.
"Lepaskan aku Kak. Lepaskan!" Naina masih berupaya memberontak. Namun Aga tak membiarkannya begitu saja.
"Kau akan semakin terluka jika seperti ini, Naina. Berhentilah menyalahkan keadaan yang sudah terjadi. Jika kau pikir aku kecewa dengan kenyataan tentang dirimu, kau sangat benar. Aku sungguh kecewa. Namun aku bukanlah pria egois. Aku juga bukanlah pria yang tidak memiliki kekurangan. Aku sama seperti dirimu. Banyak sekali kekurangan di dalam diriku dan kau dapat menerimanya. Aku mencintaimu atas apa adanya dirimu bukan ada apa saja kelebihan di dalam dirimu." Aga mengelus punggung Naina yang bergetar.
"Tidak Kak... Kakak tidak pantas mencintai wanita sepertiku lagi." Balas Naina semakin merasa kerdil melihat ketulusan yang ada di dalam diri Aga.
"Tenanglah. Kita bahas masalah ini di dalam." Ucap Aga. Aga pun melepaskan pelukannya dari tubuh Naina. Menghapus air mata yang membasahi pipi Naina dengan jari jempolnya.
Naina pun menurutinya. Dengan wajah tertunduk, Naina melangkah mengikuti langkah Aga masuk ke dalam rumahnya.
"Tunggulah sebentar. Aku akan mengambilkan minuman yang baru untukmu." Ucap Aga lalu melangkah menuju dapur.
Naina kembali meneteskan air matanya. Kejadian di masa lalu yang telah merusak kehormatan benar-benar membuat kepercayaan dirinya hilang begitu saja. Perasaan bersalah pun turut menghantui dirinya. Mengingat ia menerima cinta dari pria tulus seperti Aga dengan alasan menjadi pelindung untuk anaknya.
***