Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Putraku ayah kandung anaknya


"Daniel masih dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba dia harus lembur karna ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini." Balas Mama Hasna.


Aga mengangguk paham.


"Kak Naina cantik sekali malam ini." Puji Agatha yang sejak tadi memperhatikan Naina.


Naina tersenyum. "Terimakasih Agatha. Kau juga sangat cantik setiap harinya." Puji Naina kembali.


"Kalau itu sudah pasti. Aku kan selalu cantik setiap harinya. Benar kan Papa?" Agatha menatap wajah Papa Andrew dengan tatapan menuntut.


Papa Andrew mengangguk tanpa bersuara.


"Naina, Aga. Ayo diminum dulu minumannya sambil menunggu Daniel pulang." Ucap Mama Hasna saat seorang pelayan datang membawa minuman untuk Naina dan Aga.


"Terimakasih, Bibi." Sahut Naina dan Aga hampir bersamaan.


Tak lama kemudian, sosok yang sejak tadi mereka tunggu akhirnya datang.


"Daniel... kau sudah pulang nak?" Mama Hasna bangkit dari duduknya lalu menghampiri putra bungsunya.


Daniel mengangguk. "Apa sudah lama menunggu?" Tanyanya yang dibalas gelengan kepala oleh Mama Hasna.


Mama Hasna pun memberikan ciuman di pipi Danile tanpa memperdulikan saat ini semua orang tengah memperhatikan mereka.


Daniel menghela nafas panjang saat Mama Hasna menciumnya begitu kuat hingga dapat ia pastikan saat ini bekas lipstik Mamanya tertinggal di pipinya.


"Eh, maafkan Mama." Mama Hasna tersenyum malu saat Daniel memegang pipinya yang terkena bekas lipstik.


"Tak masalah." Daniel mengelus lembut bahu Mama Hasna. Daniel dan Mama Hasna pun berjalan mendekat ke arah sofa.


Melihat kedatangan Daniel, Naina pun sontak menundukkan pandangannya.


"Kak Dara belum datang?" Tanya Daniel saat tak melihat keberadaan Kakaknya.


"Belum. Kak Dara masih menunggu suaminya pulang." Balas Mama Hasna.


Daniel mengangguk paham. Pandangannya lalu tertuju pada Naina yang kini tengah tertunduk seolah tak ingin menatapnya.


Daniel mengalihkan kembali pandangannya pada Mama Hasna. "Kalau begitu aku pamit ke atas dulu. Silahkan makan duluan saja dan tidak perlu menungguku. Aku akan menyusul setelah selesai." Setelah mengucapkannya, Daniel pun berpamitan pergi ke kamarnya.


*


Mama Hasna menggeleng tidak tahu. "Mama akan menyusulnya ke kamar." Mama Hasna pun bangkit. Namun belum sempat melangkah, melihat kedatangan Daniel membuat Mama Hasna mengurungkan niatnya.


"Daniel, ayo makan dulu." Ucap Mama Hasna.


"Aku sudah selesai makan di perusahaan tadi, Ma."


"Kalau begitu ayo kita kembali ke ruang tamu saja." Ajak Papa Alex.


Saaat sudah berada di ruang tamu, suasana canggung mulai menyelimuti Naina karena saat ini Daniel duduk berhadapan dengannya.


"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan malam ini." Ucap Papa Alex memecahkan keheningan diantara mereka.


"Kau ingin membicarakan apa?" Sahut Papa Andrew.


"Tentang anak kita." Balas Papa Alex.


Kening Papa Andrew mengkerut. "Tentang anak kita? Memangnya ada apa dengan anak kita?


Papa Alex menghela nafas panjang. Pandangannya mengedar menatap Daniel, Aga dan Naina bergantian.


"Aga, apa kau sudah memberitahu pada keluargamu tentang Naina?" Tanya Papa Alex pada Aga.


"Aku belum memberitahukannya, Paman." Balas Aga yang sudah paham kemana arah pembicaraan Papa Alex.


"Apa maksudnya ini?" Papa Andrew menatap Aga dengan tatapan bingung.


Aga menatap Naina yang kini tertunduk sambil mere-mas kedua tangannya.


"Maaf, Pa. Aku belum memberitahukan pada Papa jika Naina sebenarnya sudah memiliki seorang anak." Ucap Aga dengan wajah tenangnya.


"Apa?" Suara Papa Andrew terdengar meninggi. "Naina sudah memiliki seorang anak?" Papa Andrew menatap Naina dengan wajah terkejut.


Kepala Naina semakin tertunduk. Ia tidak menyangka pertemuan dua keluarga itu bertujuan untuk membahas statusnya saat ini.


"Dan ayah dari anak kandung Naina adalah putraku Daniel." Timpal Papa Alex yang membuat Papa Andrew semakin terkejut.


***


Lanjut? Kencengin vote, gift dan komennya dulu yuk😊