Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Melamarnya untuk Daniel


Daniel memperhatikan baju yang kini dikenakan putrinya memang sangat mirip dengan yang ia kenakan.


"Kak Daniel, ayo masuk. Keluarga Kak Aga dan Keluarga Kakak sudah berada di dalam semuanya." Ucap Amara yang membuat perhatian Daniel teralihkan dari putrinya.


"Ayo masuk Papah!" Ajak Zeline.


Daniel menangangguk. "Baiklah, ayo." Balas Daniel.


"Papah ndong!" Pinta Zeline sambil mengulurkan kedua tangannya pada Daniel.


Daniel tersenyum lalu mengangkat tubuh Zeline dan menggendongnya. Daniel pun berjalan lebih dulu meninggalkan Amara yang kini terdiam di posisinya.


"Kenapa baju yang dikenakan Kak Daniel sangat mirip dengan baju yang dikenakan Kak Nai dan Zeline?" Gumam Amara bertanya-tanya. Tak ingin larut dalam kebingungannya, Amera pun segera melangkah mengikuti langkah Daniel masuk ke dalam rumahnya.


Kedatangan Daniel masuk ke dalam rumah membuat perhatian orang-orang teralihkan padanya. Daniel memperhatikan kelurganya dan keluarga Aga tidak mengenakan pakaian yang seragam dengannya.


Kenapa baju mereka tidak ada yang sama denganku? Batin Daniel bertanya-tanya. Bukankah tadi pagi Mamanya datang ke perusahaan memberikan seragam yang sama untuk acara lamaran Aga malam ini? Lantas kenapa tidak ada yang memakai baju yang sama dengannya? Tak lama, kebingungan Daniel berubah jadi keterkejutan saat matanya menangkap hanya Naina yang mengenakan pakaian yang sama dengannya.


Apa maksud semua ini? Batinnya kembali bertanya-tanya.


Tak jauh beda dengan Daniel, Naina pun turut bertanya-tanya dalam hati saat melihat baju yang dikenakan Daniel saat ini seharusnya dikenakan oleh Aga.


"Daniel, ayo duduk." Suara Papa Alex membuat lamunan Daniel terhenti.


Daniel memperhatikan Papa Alex yang kini menatapnya dengan tatapan memerintah.


"Papah, duduk sana ja yuk." Ucap Zeline menunjuk tempat yang masih kosong berada di samping suami Dara.


Daniel mengangguk mengiyakan ucapan putrinya lalu duduk di sebelah suami Dara. Zeline pun mendaratkan bokongnya duduk di pangkuan Daniel.


"Zeline... kemarilah. Duduk dengan Nenek saja." Ucap Ibu lembut pada Zeline.


"Zeline..." Ibu menggeleng tanda memerintah.


Wajah Zeline berubah cemberut. "Ya Nek." Balasnya lalu bangkit dari pangkuan Daniel. "Papah, Zel duduk sama Nenek ja situ." Ucapnya pada Daniel.


Daniel tersenyum. "Iya... nanti Zel duduk sama Papa lagi, ya." Balas Daniel agar putrinya tak lagi murung.


"Ya Pah." Balas Zeline lalu mengecup kedua pipi Daniel sebelum berjalan ke arah Ibu.


Interaksi antara Zeline dan Daniel pun tak luput dari pandangan semua orang yang ada di sana.


*


Setelah menikmati hidangan yang disediakan keluarga Naina, Papa Alex pun akhirnya diberikan kesempatan untuk berbicara atas tujuan mereka datang ke rumah Naina.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas jamuan dari keluarga Bapak Arif atas kedatangan kami." Ucap Papa Alex yang diangguki Keluarga Naina. "Maksud dan tujuan kedatangan kami ke rumah ini adalah untuk melamar Naina menjadi istri dari anak kami yang bernama—" Papa Alex menjeda perkataanya lalu mengarahkan pandangan pada Daniel dan Aga yang tengah menatap ke arahnya dengan intens. "Daniel." Lanjutnya kemudian yang membuat Daniel, Naina dan Amara terkejut.


Kenapa jadi Kak Daniel? Batin Amara bertanya-tanya.


"Apa?!" Daniel memasang wajah keterkejutannya. "Apa maksud semua ini Papa?" Tanya Daniel menatap tajam pada Papanya lalu bergantian menatap Aga yang kini memasang wajah datarnya.


Pertanyaan Daniel pun sontak membuat suasana di ruangan tamu Naina berubah tegang.


***


Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya. Buat teman-teman yang masih mengikuti DABA sampai sejauh ini SHy ucapkan terimakasih🤍🤍


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru Shy, Bukan Sekedar Menikahi🌹