
"Mereka itu benar-benar!" Lidah Kevin berdecak. Kevin pun turut melangkah menyusul Dio dan Marvel.
Saat sudah berada di depan ruangan Daniel, lagi-lagi Dio dan Marvel menyempatkan diri untuk menggoda sekretaris Daniel.
"Apa kalian sudah selesai menggodanya?" Tanya Kevin dengan tatapan tajamnya.
Marvel dan Dio terdiam lalu memasang wajah seriusnya.
"Ayo masuk. Daniel ada di dalam." Ucap Dio lalu melangkah lebih dulu ke arah pintu. Marvel mengangguk lalu mengikuti langkah Dio.
Ceklek
Mendengar suara pintu yang terbuka membuat perhatian Daniel teralihkan dari setumpuk dokumen di depannya.
"Ada apa kalian datang ke sini?" Tanya Daniel menatap malas ketiga sahabatnya.
"Tentu saja kami memiliki tujuan untuk datang ke sini." Balas Marvel dengan santai. Marvel pun menjatuhkan bokongnya di sofa diikuti Dio dan Kevin.
Daniel bangkit dari kursi kebesarannya lalu berjalan ke arah sofa. Tatapannya kini terhunus tajam pada ketiga sahabatnya. "Katakan, siapa diantara kalian yang membelikan ranjang untuk Naina!" Ucap Daniel dengan tegas.
Dio, Marvel dan Kevin diam seolah tidak ada diantara mereka yang membelikannya untuk Naina.
Daniel dibuat geram. Menjatuhkan bokongnya di sofa single tanpa melapaskan tatapannya dari ke tiga sahabatnya.
"Katakan! Jangan membuatku marah!" Bentak Daniel.
Marvel dan Dio menatap wajah kesal Daniel dengan kening mengkerut.
"Kami memang tidak ada yang membelikan ranjang untuk Naina." Balas Dio.
"Kau jangan berbohong!" Bentak Daniel.
"Dio memang tidak berbohong. Kami membelikan ranjang untuk Zeline bukan untuk Naina." Timpal Marvel dengan santai.
"Tentu saja beda. Kau itu lucu sekali." Marvel memasang wajah tak bersalahnya.
"Apa kau tahu efek dari perbuatan kalian aku dan Naina kesusahan memberikan pengertian pada Zeline agar tidak tidur bersama!" Sembur Daniel lagi.
"Nah, itu adalah yang kami inginkan." Balas Dio dengan tersenyum miring.
"Kau..." Daniel menggertakkan giginya. Emosinya selalu dibuat naik jika berbicara dengan ketiga sahabat terkutuknya itu.
"Sudahlah. Lagi pula kau dan Naina akan menikah. Jadi kau tidak perlu lagi repot-repot memberikan alasan agar tidak tidur bersama Naina dan Zeline." Ucap Kevin memecahkan keributan diantara ketiga sahabatnya.
"Kevin benar. Seharusnya kau itu berterimakasih pada kami karena kau tidak perlu repot lagi mengeluarkan uang untuk membeli ranjang yang baru." Seloroh Marvel.
Daniel menghembuskan nafas kasar di udara. Ia harus mempersiapkan kesabaran tiada batas untuk menghadapi ketiga sahabatnya.
"Sekarang katakan apa tujuan kalian datang ke sini?" tanya Daniel tak ingin lagi membahas masalah ranjang.
"Kami ingin kau mengajak Naina untuk bertemu dengan kami nanti malam. Kami berniat untuk meminta maaf secara langsung padanya atas kesalahan kita di masa lalu." Terang Dio.
Daniel memijit pangkal hidungnya. Mengajak Naina bukanlah hal yang mudah. Terlebih ia tidak pernah lagi pergi berdua dengan Naina setelah beberapa tahun lalu.
"Kau bisa membawa putrimu agar Naina tak bisa menolak ajakanmu." Ucap Kevin seolah mengerti isi pemikiran Daniel.
"Katakan saja pada putrimu jika kau ingin membawanya dan Naina pergi menemui kami. Aku yakin Zeline sangat bersemangat untuk ikut mengingat dia sangat menyukai kami." Seloroh Marvel.
"Ya, Marvel benar. Putri kecilmu itu pasti bersemangat untuk menemui kami." Dio pun tertawa di akhir ucapannya saat mengingat betapa centilnya Zeline saat bertemu dengan mereka.
***
Siapa nih yang mau bertemu Zeline?