
Perkataan Daniel sontak membuat Marvel, Dio dan Kevin terdiam.
"Yang benar saja. Kau hanya pernah menyentuh si cupu itu dan mengabaikan begitu saja tubuh Queen yang selalu terpampang nyata di depanmu?" Lidah Dio berdecak. Tidak habis pikir dengan ucapan Daniel.
"Entahlah. Namun aku tidak memiliki selera untuk menyentuh wanita mana pun setelah aku menyentuh Naina." Balas Daniel dengan jujur.
Prok
Prok
Prok
Tepuk tangan dari Kevin berhasil mengalihkan pandangan Marvel dan Dio dari arah Daniel ke arahnya.
"Itulah balasan sebab kau telah menghancurkan masa depan Naina. Sehingga masa depanmu sendiri tidak bereaksi selain kepadanya." Ucap Kevin dengan seringaian tipis di bibirnya.
"Kau..." Daniel mengeram kesal. Namun ia tidak menampik ucapan Kevin yang ada benarnya.
"Namun aku heran kenapa Naina tidak hadir di acara wisuda kita waktu itu. Padahal dia adalah wisudawan terbaik dengan nilai tertinggi waktu itu." Ucap Marvel saat mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Kau benar. Waktu itu aku sangat penasaran kemana perginya wanita itu. Apa lagi setelah hari dia menyelesaikan administrasi wisuda, dia tak lagi menginjakkan kaki ke kampus." Timpal Dio.
Ucapan Dio pun berhasil membuat ke empat pria itu bertanya-tanya.
"Pembahasan tidak penting. Lebih baik kalian segera pergi dari ruanganku karena aku ingin bekerja!" Usir Daniel pada ke tiga sahabatnya.
Marvel nampak mendengus. "Kau terlalu suka mengusir kami, Niel..." Cetusnya. "Ayolah... Sebaiknya kita kembali ke perusahaan masing-masing. Karena pria ini ingin menikmati pekerjaannya yang sudah menumpuk." Cibir Marvel sambil menatap pada tumpukan berkas di atas meja Daniel.
Marvel, Dio dan Kevin segera beranjak.
"Jangan lupa untuk pertemuan kita nanti malam." Pesan Kevin pada Daniel sambil menepuk pundak Daniel.
Daniel berdecak. "Akan aku usahakan." Ucapnya malas.
"Naina..." Lirih Daniel saat mengingat kembali nama wanita taruhannya. Ucapan Marvel, Dio dan Kevin berhasil mengacaukan pemikirannya. Bayangan tentang masa lalu itu terus kembali terngiang di benaknya.
"Wanita bodoh itu berhasil membuatku tidak berselera dengan wanita lain." Umpat Daniel sambil mencengkram erat bolpoin yang dipegangnya.
Daniel pun teringat, jika hubungannya dan Naina belum ada kata perpisahan dari salah satu diantara mereka.
"Cuih, berani-beraninya kau tidak datang dan membalas pesanku waktu itu. Kau pikir kau itu siapa?!" Geram Daniel mengingat saat malam panas yang sudah direncanakannya sirna begitu saja karena Naina tidak datang ke cafe tempat janjian mereka bahkan tak membalas pesan singkat darinya.
*
"Kak Aga... Tunggu..." Naina berusaha menjangkau pergelangan tangan Aga saat pria itu terus berjalan tanpa memperdulikan terikannya.
"Kak..." Ucap Naina lagi saat sudah berhasil menjangkau tangan Aga.
"Ada apa lagi, Naina?" Aga mendesahkan nafas kasar di udara saat langkahnya harus terhenti oleh Naina.
"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas bantuan Kakak kemarin." Ucap Naina.
"Kau hanya ingin mengatakan itu saja?" Ucap Aga dengan datar.
Kepala Naina mengangguk. "Aku belum sempat mengatakannya karena kemarin harus menidurkan Zeline lebih dulu." Ucapnya sungkan.
"Jika sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan, bisakah kau untuk melepas tanganmu sekarang juga?" Ucap Aga sambil melirik ke arah tangan Naina yang masih mencekal tangannya.
"Agh, iya. Maaf." Naina buru-buru melepas cekalan tangannya di tangan Aga.
***
Beri dukungannya yuk biar author semangat buat upnya.
Jangan lupa like, komen dan votenya, ya☺