Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Detik-detik pernikahan


Daniel terdiam. Ucapan Aga benar adanya. Sejak kecil Aga sudah bagaikan Kakak kandung baginya yang selalu mengalah padanya. Di balik sikap dinginnya, Aga adalah sosok pria yang sangat menyayangi adik-adiknya.


"Ingatlah pesanku untuk membahagiakan Naina dan juga Zeline. Kau cukup melakukan apa yang aku pinta untuk membayar rasa terimakasihmu kepadaku." Lanjut Aga kemudian.


"Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk membahagiakan Naina dan putri kami." Balas Daniel dengan yakin.


Aga tersenyum tipis. "Kau harus bersyukur karena Tuhan masih memberikanmu kesempatan untuk membayar kesalahanmu di masa lalu. Jangan sampai kau menyia-nyiakan kesempatan itu." Tekan Aga.


Daniel mengangguk pasti. "Aku tidak akan menyia-nyiakannya." Ucapnya kemudian.


"Bagus. Aku percaya kau bisa menjadi kepala keluarga yang baik nantinya." Tutur Aga.


Daniel tersenyum tipis. "Apa Kakak benar akan keluar dari perusahaan ini?" Tanya Daniel.


"Ya, sudah saatnya aku memimpin perusahaan keluarga kita. Aku tidak bisa lagi mengulur waktu sampai menikah baru akan memimpin perusahaan." Terang Aga.


Daniel menghela nafas sesaat. Cukup banyak hal yang dikorbankan Aga untuk dirinya yang membuatnya semakin merasa bersalah.


"Sudahlah, tidak perlu memikirkanku. Saat ini kau harus fokus pada pernikahanmu dan Naina yang akan berlangsung beberapa minggu lagi." Aga menepuk pundak Daniel.


"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih." Ucap Daniel dengan tulus.


Aga mengangguk. "Kalau begitu aku keluar dulu." Pamit Aga yang diangguki oleh Daniel.


*


Suasana di rumah Naina hari itu nampak disibukkan dengan persiapan acara pernikahan Naina dan Daniel yang akan berlangsung esok hari. Sejak pagi Ibu beserta keluarga Naina yang berasal dari desa sudah sibuk memasak makanan untuk dihidangkan di acara pernikahan Naina esok hari.


Walau keluarga Daniel sudah memfasilitasi makanan dari restoran ternama, namun Ibu tetap ingin memasak masakan khas dari keluarga mereka pada saat ada acara pernikahan. Tak berbeda dengan Ibu, Zeline pun turut sibuk berjalan ke sana kemari memperhatikan pihak WO yang sedang mendekor tenda dan dalam rumah.


"Banak bunga gini mana belinya Om?" Tanya Zeline pada pria yang tengah membawa bunga untuk hiasan di pelaminan.


"Bunga ini dibeli dari toko bunga yang cukup terkenal di kota ini." Balas pria itu.


"Tokonya berada di dekat pusat kota." Balasnya lagi.


Zeline mengangguk saja walau ia tidak tahu dimana tempat yang pria itu maksud. Kaki mungilnya pun kemudian berlari masuk ke dalam rumah saat ia merasa telah lelah bertanya pada pihak WO tentang apa saja yang dilihatnya.


"Mamah..." kepala Zeline nampak menyembul dari pintu yang terbuka sebagian.


"Zeline..." Naina tersenyum lalu mengulurkan tangannya agar Zeline masuk ke dalam kamarnya.


"Tantiknya kamal Mamah ini..." kedua bola mata Zeline nampak berbinar melihat hiasan kamar Naina yang sudah sempurna.


"Tentu saja cantik. Karena kamar Mama sudah cantik seperti ini, maka nanti malam Zel tidak boleh tidur di kamar Mamah." Timpal Amara.


"Napa inda boleh?" Wajah Zeline nampak protes.


"Tentu saja tidak boleh karena Zel pasti akan mengacaukannya." Ucap Amara.


"Mamah... Zel mau bobo sini ja nanti malam sama Mamah..." Zeline mulai merengek.


"Amara... kau jangan menggodanya seperti itu!" Tegur Naina.


"Lagi pula Zeline harus dibiasakan tidur terpisah dengan Kakak. Jika tidak maka dia akan lama memiliki seorang adik." Kelakar Amara yang membuat kedua mata Naina membola sempurna.


***


Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).


Terimakasih☺️