Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Kembali ke tempat yang seharusnya


"Pergilah... Hati-hati di jalan..." Ucap Ibu sambil mengelus kepala putrinya.


"Baik, Bu." Balas Naina. Naina pun mengalihkan pandangannya pada Zeline yang sedang duduk di pangkuan Amara. "Zel tidur sama Ibu dulu ya malam ini." Ucapnya sambil mengelus puncak kepala putrinya.


Zeline mengangguk-angguk dengan mata yang sudah nampak sayu.


Setelah berpamitan pada seluruh anggota keluarganya, Naina dan Aga pun berangkat menuju suatu tempat yang masih Aga rahasiakan.


"Kakak tidak jadi mau membersihkan diri lebih dulu?" Tanya Naina pada Aga yang sedang sibuk dengan layar ponselnya.


Aga mengangkat wajahnya. Menatap pada Naina. "Nanti. Aku akan membersihkan diri setelah kita sampai." Ucap Aga sambil mengelus rambut Naina. "Apa tubuhku sudah berbau tidak enak, hem? Hingga kau selalu bertanya itu saja?" Tanya Aga dengan menaikkan sebelah alis matanya.


Naina sontak menggeleng. "Bukan begitu Kak. Hanya saja tidak biasanya Kakak pergi tanpa membersihkan diri lebih dulu." Ucap Naina.


"Untuk kali ini tak masalah. Lagi pula kita akan pergi ke tempat aku ingin membersihkan diri." Ucap Aga.


Pelipis Naina mengkerut. Ia masih tidak mengerti maksud ucapan Aga dan dibuat semakin bingung.


Mobil pun terus melaju melewati bangunan-bangunan menjulang tinggi hingga memasuki kawasan perumahan elit yang ada di kotanya. Naina memperhatikan tiap rumah mewah yang ia lewati dengan banyak pertanyaan di benaknya.


Sebenarnya kami mau kemana? Kenapa Kak Aga membawaku ke kawasan ini. Dan mobil ini? Mobil siapa? Beribu pertanyaan bersarang di benak Naina. Namun wanita itu masih merasa enggan untuk bertanya.


Hari semakin gelap. Awan hitam mulai bergumpulan menutupi langit. Mobil yang membawa mereka pun akhirnya berhenti di sebuah rumah yang sangat mewah dibandingkan rumah yang lainnya yang tadi mereka lewati.


"Ayo turun." Ajak Aga sambil mengulurkan tangannya pada Naina.


"Kak Aga... sebenarnya ini rumah siapa? Kenapa kita ke sini?" Tanya Naina yang sejak tadi dibuat penasaran dengan arah dan tujuan Aga mengajaknya.


"Masuklah. Dan kau dapat menemukan jawabannya." Ucap Aga sambil menggenggam tangan Naina.


Naina menurutinya. Kakinya pun terayun melangkah demi langkah memasuki rumah mewah itu. Saat sudah masuk ke dalam rumah, Naina dibuat begitu tertegun saat melihat sebuah foto berukuran besar yang menampilkan wajah Aga di sana.


"I-ini..." Naina tak dapat berkata-kata. Pertanyaan demi pertanyaan yang ada di benaknya akhirnya terjawab sudah.


"Ya. Rumah ini adalah rumah kedua orang tuaku." Ucap Aga sambil membawa Naina terus melangkah masuk.


Naina kembali memperhatikan wajah wanita dewasa yang ada di dalam foto besar itu dan sangat mencerminkan wajah Aga.


"Wanita itu adalah Ibuku." Ucap Aga dalam langkahnya. Seolah mengerti apa yang ada di benak Naina saat ini. "Dan gadis kecil itu adalah adikku, Agatha." Lanjutnya kemudian.


Saat mereka sampai di ruangan tengah, seorang gadis remaja yang Naina perkirakan seumuran dengan adiknya nampak berlari ke arah mereka.


"Kak Aga... Huu..." Gadis itu menangis dengan keras saat sudah berada di dekat Aga. Dan tanpa aba-aba gadis itu pun langsung memeluk Aga begitu erat. "Akhirnya Kakak mau kembali lagi ke rumah ini..." Raungnya di dalam pelukan Aga.


***


Lanjut lagi?


Komen, vote dan likenya dulu deh🥴