
"Mama tenanglah... kita hanya bisa menunggu jawaban dari Daniel untuk memastikan semuanya." Ucap Dara.
"Apa adikmu sudah melakukan perbuatan dosa besar Dara?" tanya Mama Hasna tanpa memperdulikan ucapan Dara.
"Dara tidak dapat memastikannya, Ma. Dara hanya mendapat informasi dari orang suruhan Dara. Lagi pula orang itu tidak bisa mengetahui apa saja yang terjadi di dalam apartemen Daniel waktu itu." Ucap Dara.
Tubuh Mama Hasna kian melemah. Memikirkan apa yang mungkin saja diperbuat putranya bersama seorang wanita di dalam apartemennya membuat kepalanya semakin sakit. "Antarkan Mama ke kamar, Dara." Pinta Mama Hasna dengan pelan.
"Mama..." Dara yang merasa cemas pun segera membantu Mamanya untuk berdiri lalu menuntun Mamanya dengan hati-hati masuk ke dalam kamar.
"Jangan beritahukan hal ini pada Papa." Ucap Mana Hasna saat sudah masuk ke dalam kamar yang sudah biasa ia tempatkan jika berada di rumah putrinya.
"Dara akan merahasiakan hal ini dari Papa, Ma." Balas Dara. Lagi pula Dara tidak akan berani memberitahukan hal ini pada Papanya yang akan membuat Papanya akan murka nantinya.
"Segera cari tahu ada hubungan apa antara Daniel dan Naina di masa lalu. Dan bagaimana bisa Daniel dengan beraninya membawa wanita masuk ke dalam apartemennya." Titah Mama Hasna.
"Dara akan mengusahakannya, Ma."
"Bila perlu tambah orang untuk menyelidiki apa saja yang dilakukan Naina selama ini saat Daniel kuliah di luar negeri. Dan bagaimana bisa dia mengganti identitas anaknya menjadi adiknya." Ucap Mama Hasna yang turut merasa penasaran atas kebenaran yang baru saja diketahuinya.
*
Selama dalam perjalanan menuju perusahaannya, perasaan Daniel dibuat tidak tenang memikirkan kondisi Mamanya saat ini. Apa lagi Daniel yakin jika saat ini Mamanya pasti berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Aku harap Mama akan baik-baik saja setelah mengetahui kesalahan terbesarku." Gumam Daniel.
Saat memasuki lobby perusahaan, wajah Daniel terlihat lebih dingin dan datar dari biasanya. Melihat wajah pimpinan mereka yang tidak bersahabat, para karyawan yang sedang berlalu lalang di lobby pun dibuat takut untuk menyapanya.
Ting
Suara pintu lift yang terbuka membuat Daniel mengalihkan pandangan pada lift khusus karyawan. Seseorang yang turut menyumbang beban fikirannya saat ini nampak keluar dari dalam lift bersama seorang teman wanita divisinya.
Daniel menatap dingin pada wanita itu sekilas lalu masuk ke dalam lift khusus untuk dirinya.
"Ada apa dengan Tuan Daniel? Kenapa wajahnya dingin sekali?" Sasa berbisik di telinga Naina saat pintu lift khusus Presdir sudah tertutup.
Naina mengangkat kedua bahunya. "Kenapa kau bertanya kepadaku? Tentu saja aku tidak tahu." Balas Naina mencoba tenang. Walau pun saat ini dadanya berdetak dengan kencang setelah mendapatkan tatapan dingin dari Daniel. "Sudahlah, ayo jalan. Kita hanya memiliki waktu lima belas menit untuk membeli minuman." Ucap Naina mengingatkan Sasa.
"Agh, ya. Ayo!" Balas Sasa lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Di dalam lift yang masih terus berjalan, Daniel nampak memijit pelipisnya yang terasa sakit.
Apa sudah saatnya Mama dan Papa mengetahui kebenaran ini? Tapi bagaimana dengan Naina? Batinnya gelisah.
***
Lanjut? Berikan dukungan dulu yuk degan cara komen, like dan votenya.
Dan sambil menunggu cerita Naina dan Daniel update, silahkan mampir ke karya aku yang baru yang berjudul Bukan Sekedar Menikahi. Lanjutan dari novel aku Hanya Sekedar Menikahi. Terimakasih😉