Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Hanya kau yang pernah


"Naina..." suara Daniel terdengar mulai melemah.


"Jangan memanggil namaku karena aku tidak sudi dipanggil oleh pria sepertimu!" Cetus Naina.


Daniel memejamkan kedua matanya. Melihat kebencian yang kini sudah memenuhi hati Naina untuknya entah mengapa membuat dadanya begitu sesak.


Daniel semakin mendekatkan langkahnya tanpa memperdulikan wajah Naina yang semakin tegamg. Naina pun turut memundurkan langkahnya.


Hap


Daniel menahan pinggang Naina karena wanita itu hampir saja terjatuh saat sudah berada di dekat sofa.


"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku! Lepaskan!" Naina memberontak saat merasa tubuhnya begitu dekat dengan Daniel.


Daniel menulikan telinganya. Karena pria itu lebih memilih mendekap tubuh Naina dengan erat agar wanita itu berhenti memberontak. Dan benar saja, setelah cukup lama memberontak akhirnya Naina pun mulai melemah.


"Lepaskan aku berengsek!" Umpat Naina untuk kesekian kalinya.


Daniel menundukkan wajahnya. Menatap pada wajah yang kini tengah menatap garang padanya. Detak jantung Naina yang berdetak begitu cepat dapat ia rasakan dengan jelas. Detak jantung itu masih sama saat terakhir kali mereka merasakan indahnya kebersamaan mereka.


Daniel pun melonggarkan pelukannya, ia sangat benci melihat Naina yang hampir menangis saat ini karena ketakutan karena dirinya.


"Jangan pernah lancang menyentuh tubuhku lagi!" Hardik Naina dengan kuat.


"Apa tujuanmu datang ke sini?" Tanya Daniel tanpa memperdulikan ucapan Naina.


Naina mendongakkan wajahnya. Menatap begitu sangar pada Daniel.


"Apa tujuanmu menemui Zeline kemarin?" Tanya Naina.


"Aku sedang tidak bercanda!" Maki Naina.


"Karena aku ingin berdekatan dengan anakku. Apa itu salah?"


"Salah! Sangat salah karena Zeline bukan anakmu!" Sembur Naina menolak kenyataan yang ada.


Tangan Daniel terkepal.


"Kau masih ingin menyangkal bukti yang sudah aku dapatkan jika Zeline adalah anakku? Jika Zeline bukan anakku lalu anak siapa dia?" Wajah Daniel mulai berubah dingin. "Apa kau ingin berkata jika kau adalah wanita yang suka berganti teman tidur pria sehingga kau tidak yakin siapakah pria yang sebenarnya menjadi ayah Zeline?" Lanjutnya dengan menatap Naina tajam. Rasanya Daniel sudah sangat muak dengan sikap Naina yang selalu saja menolak kenyataan yang ada.


Plak


Satu tamparan cukup keras melayang di pipi Daniel. Daniel sedikit meringis karena sangking kuatnya tamparan Naina.


"Jaga ucapanmu Tuan Daniel yang terhormat! Aku bukanlah wanita murahan yang dengan mudahnya memberikan tubuhku pada banyak pria!!" Wajah Naina semakin memerah. Antara perasaan marah dan sakit akan ucapan Daniel kini menjadi satu.


"Lalu dengan siapa kau tidur jika bukan denganku? Aku bahkan dapat mengingat dengan jelas jika akulah yang mengambil kehormatanmu!" Ucap Daniel menantang. Namun perasaan bersalah semakin mendominasi di dalam dadanya saat mengatakannya karena ialah pria yang merusak masa depan wanita yang ada di depannya saat ini.


"Kau benar jika hanya kau yang pernah menyentuh tubuhku dan kaulah pria berengsek itu!" Ucap Naina yang seolah membenarkan ucapan Daniel jika ialah ayah dari Zeline. Naina memukul dada bidang Daniel dengan kuat mengeluarkan rasa sakit yang ia pendam selama ini seorang diri. Setelah merasa cukup puas, Naina pun kembali menatap nyalang Daniel.


"Saya peringatkan pada anda Tuan Daniel. Mulai saat ini jangan pernah lagi anda menunjukkan wajah anda di depan Zeline atau pun keluarga saya. Karena anak saya tidak membutuhkan seorang ayah berengsek seperti anda!" Ucapnya dengan lantang sambil menunjuk wajah Daniel. Naina tidak memperdulikan letak kesopanannya karena rasa sakitnya mengalahkan semuanya.


***


Selamat pagi... sudah berikan dukungan buat karya author pagi ini?


Berikan dukungan dengan cara Vote, like dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya😊