
Naina terdiam. Tatapannya dan Daniel pun beradu. Naina buru-buru memutus tatapan mereka saat matanya tak kuat berlama-lama menatap Daniel. Aga yang sejaka tadi memperhatikan tingkah mereka hanya diam dengan tatapan tak terbaca.
"Naina, sudah saatnya kau berangkat." Ibu menepuk pundak Naina hingga membuat Naina memundurkan tubuhnya.
"Nenek, Mama belum cium ini." Protes Zeline.
"Zeline... Mama harus berangkat bekerja sekarang atau Mama akan terlambat."
Bibir Zeline mengkerut. "Ya deh. Mama mau pelgi kelja lagi ini?" Tanya Zeline dan diangguki oleh Naina. "Dadah Mama... Dadah Om Aga... Zel nanti main sama Papah yah!" Ucapnya.
Naina mengangguk. "Kalau begitu Mama pergi dulu. Jangan nakal pergi sama Papa nanti." Tutur Naina lembut.
"Ya, Ma!" Balas Zeline.
*
"Kau tidak ingin istirahat dulu, Daniel?" Tanya Ibu setelah meletakkan air minum di depan Daniel.
Daniel menggeleng. "Saya bisa istirahat setelah pulang membawa Zel bermain, Bu."
Ibu memperhatikan guratan lelah di wajah Daniel. "Jangan terlalu memaksa kondisimu, Nak." Tutur Ibu lembut. Ibu menjatuhkan bokongnya di atas sofa berhadapan dengan Daniel.
"Saya tidak memaksakan, Bu. Saya senang melakukannya dan kondisi saya masih kuat untuk membawa Zel jalan-jalan." Balas Daniel lalu menyematkan senyuman di akhir ucapannya.
Ibu menghela nafas panjang. Melihat ketulusan Daniel entah mengapa membuat hati Ibu menjadi merasa bersalah. "Minumlah. Ibu ingin melihat Zeline lebih dulu." Ibu pun kembali bangkit.
Daniel mengangguk. Tangannya terulur meraih gelas lalu meneguk minuman yang diberikan Ibu.
"Nenek... apa Zel sudah Tantik?" Tanya Zeline sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
Ibu tersenyum. Langkahnya kian mendepat pada Zeline yang kini tengah berdiri di depan kaca.
"Cantik sekali cucu Nenek." Ibu meraih tubuh Zeline lalu menggendongnya.
"Apa benal?" Zel tersenyum malu-malu. Ibu pun mengangguk membenarkan.
"Tentu saja kau sangat cantik, itu semua kan berkat Aunty Mara!" Amara yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi kamar membusungkan dadanya.
Ibu menggelengkan kepalanya. Kini ia sudah memiliki anak dan cucu yang cukup percaya diri akan kecantikannya.
"Iya benar. Zel sangat cantik." Ibu mengiyakan ucapan cucunya lalu mengecup pipi Zeline.
"Ayo blangkat, Nek. Papah lama nunggu itu di depan." Ajak Zeline.
Ibu mengangguk lalu menatap Amara. "Amara, apa kau tidak mau ikut?" Tanya Ibu meyakinkan Amara kembali.
"Tidak, Bu. Hari ini Mara ada janji dengan Agatha." Jelas Amara.
Ibu mengangguk paham. "Kalau begitu Ibu pamit dulu. Jangan lupa kunci pintu jika kau ingin pergi." Pesan Ibu dan diangguki oleh Amara.
*
"Senangnya, senangnya... main sana... main sini... sama Papah ini!" Di kursi belakang Zeline nampak bernyanyi sambil bertepuk tangan mengisi waktu mereka di perjalanan.
Ibu menolehkan kepala ke belakang menatap gemas pada cucunya. Sedangkan Daniel sejak tadi terus mencuri pandang memperhatikan putrinya dari kaca spion mobil.
Mobil pun terus melaju hingga sampai di salah satu mall yang sering Daniel datangi begitu pula dengan Zeline.
"Ayo turun." Daniel meraih tubuh Zeline keluar dari dalam mobil lalu menggendongnya.
Saat sudah keluar dari dalam mobil, pandangan Zeline tertuju pada tiga sosok pria yang tengah berjalan ke arahnya.
"Teman Papah itu!" Tunjuk Zeline pada ketiga sahabat Daniel.
Daniel sontak menolehkan wajahnya dan wajahnya nampak terkejut saat melihat Marvel, Dio dan Kevin sudah berdiri tegak tak jauh di belakagnya.
"Hai princess Zeline." Sapa mereka berbarengan pada Zeline hingga membuat Zeline tersenyum malu-mau ke arah mereka.
***
Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya. Buat teman-teman yang masih mengikuti DABA sampai sejauh ini SHy ucapkan terimakasih🤍🤍
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi🌹