Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Sangat merindukanmu


Kepala Zeline Mengangguk hingga rambutnya yang dikepang ikut terayun. "Main sini sama Tak Nai... Tak Aga... Tak Mala." Jelas Zeline.


"Apa?" Daniel dibuat semakin terkejut dengan jawaban putrinya. Bagaimana bisa Naina dan Aga bisa berada di tempat yang sama dengannya saat ini? Sungguh kebetulan sekali.


"Balu sampai tadi loh Tak." Ucap Zeline lagi.


Daniel mengangguk paham. Pandangannya kini terisi penuh dengan wajah putrinya yang sudah beberapa minggu ini sangat dirindukannya.


Tuhan... apakah ini jalan aku bertemu dengan putriku? Kedua bola mata Daniel nampak berkaca-kaca saat menatap wajah cantik putrinya.


"Dantengnya..." puji Zeline sambil membelai wajah tampan Daniel dengan jari mungilnya.


Daniel melebarkan senyumannya. Entah mengapa putrinya itu selalu memuji ketampanannya saat mereka bertemu.


"Kita duduk di sana saja, ya." Ucap Daniel lalu melangkahkan kakinya menuju kursi santai yang ada di dekat kolam renang.


"Tak Niel main sini juga?" Tanya Zeline saat Daniel telah mendudukkan tubuh Zeline di atas pahanya.


Daniel mengangguk. Tangannya terulur mengelus lembut rambut pirang putrinya.


"Seneng loh temu Tak Niel sini." Ucap Zeline.


"Apa benar begitu?" Goda Daniel.


Zeline mengangguk pasti. "Kangen ini... lama inda jumpa Tak Niel." Wajah Zeline berubah sendu. Melihat itu Daniel pun mengecup pipi putrinya.


"Kita akan sering bertemu sebentar lagi." Ucap Daniel penuh arti.


"Selius?" Wajah Zeline berubah senang.


"Iya... selius..." balas Daniel mengikuti ucapan putrinya.


"Asik... seneng loh!" Ucap Zeline lalu mengecup kedua pipi Daniel secara bergantian.


Ada rasa bahagia dan bersalah yang dirasakan Daniel saat Zeline terlihat begitu menyayanginya. Rasa bahagia karena Zeline begitu menyayanginya walau Zeline belum mengetahui siapakah dirinya. Dan perasaan bersalah karena pernah berkata menolak kehadiran Zeline di dunia ini.


"Zeline sayang... Papa sangat menyayangimu..." ucap Daniel tanpa sadar lalu memeluk erat tubuh putrinya.


"Papah?" Tanya Zeline dengan wajah bingung saat Daniel melepas pelukannya.


"Maksudnya Kakak." Ralat Daniel.


"Tak Niel loh!" Koreksi Zeline walau pun artinya sama saja.


Daniel mengangguk saja. Tak lama Daniel pun teringat jika ia tak melihat keberadaan Naina.


"Dimana Kak Naina?" Tanya Daniel pada Zeline yang kini tengah sibuk mengelus wajahnya.


"Jalan lual tuh." Balas Zeline.


"Apa Kak Nai tahu Zel main di sini?"


Zeline menggeleng. "Inda. Kabul tadi Zel tuh." Jawabnya jujur.


"Kenapa bisa kabur?" tanya Daniel.


"Bibi tadi bawa es klim masuk sini. Suka Zel tuh. Zel ikutin aja." Jawabnya tanpa menghentikan kegiatannya.


Daniel menggelengkan kepalanya mendengar jawaban polos putrinya.


"Kak Naina pasti saat ini mencarimu. Ayo Kakak antar kembali ke Kak Nai." Ajak Daniel.


Kepala Zeline dengan cepat menggeleng. "Inda mahu... mau sini ja sama Tak Niel. Main sama Tak Niel... kangen Zel tuh. Lama inda jumpa. Kemalin Ayah malahin Tak Niel jadi inda jumpa lagi." Wajah Zeline berubah sendu.


Daniel menghela nafas panjang. "Kakak juga sangat merindukan Zeline." Daniel memeluk erat tubuh mungil putrinya. Rasa kerinduan yang beberapa minggu ini ia tahan pun akhirnya terbayarkan karena Zeline putrinya ternyata juga sangat merindukannya. Cukup lama Daniel memeluk erat tubuh putrinya namun tak membuat Zeline kesulitan bernafas. Daniel pun mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah.


Di luar villa, Naina yang sudah mengetahui dimana putrinya pun langsung masuk ke dalam villa setelah dipersilahkan oleh Bibi Marni. Langkah kaki Naina pun langsung tertuju ke arah kolam renang dimana putrinya berada saat ini dari info yang diberikan Bibi Marni. Saat sudah berada di dekat kolam, pandangan Naina pun terjatuh pada putrinya yang saat ini tengah duduk di pangkuan seorang pria.


"Zeline..." panggil Naina hingga Zeline dan pria yang tengah memangku Zeline menatap ke arahnya.


Naina tertegun. Tubuhnya tiba-tiba menegang saat melihat dengan jelas siapakah sosok pria yang tengah memangku putrinya.


***


Komen, vote dan likenya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya🄰