Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Mengacaukan pemikiran


Daniel membalas perkataan Zeline dengan menarik sebelah bibirnya ke samping.


"Apa anak itu berbicara denganmu?" Tanya Queen yang sejak tadi memperhatikan Zeline.


"Sepertinya begitu." Balas Daniel namun tak mengalihkan pandangannya dari wajah Zeline.


"Gadis kecil yang manis..." Puji Queen menatap wajah polos dan lucu Zeline.


Daniel mengangguk pelan menyetujui ucapan Queen. Dan lagi-lagi detak jantungnya tidak bekerja dengan normal saat menatap dalam kedua bola mata milik Zeline.


Naina yang sejak tadi merasa diperhatikan oleh Daniel dan kekasihnya itu pun segera duduk di kursinya yang bersampingan dengan kursi Aga lalu memangku tubuh Zeline. Bukan tanpa alasan Naina lebih memilih memangku Zeline, karena putrinya itu cukup takut akan kegelapan bahkan Zeline mau menangis dengan keras jika dalam kegelapan tiada yang memeluk tubuhnya.


Lampu bioskop pun mulai dimatikan tanda Film akan dimulai. Saat film sudah mulai, Zeline nampak tidak tenang dan terus memutar kepalanya ke belakang seolah mencari sesuatu.


"Zel kenapa bergerak terus?" Tanya Naina yang sudah tidak fokus menonton.


"Ndak pa, Tak." Balas Zeline lalu mencoba untuk duduk tenang.


Merasa Zeline sedikit takut dengan kegelapan, Naina pun memutar tubuh Zeline menghadap ke arahnya.


Satu jam berlalu, suara dengkuran halus pun mulai terdengar dari bibir mungil Zeline menandakan putri kecil Naina itu telah tertidur.


"Mudah banget sih tidurnya kalau begini?" Gumam Naina sambil mencium gemas rambut putrinya.


Beberapa menit berlalu, suara tawa yang cukup keras pun mulai terdengar saat adegan komedi mulai ditayangkan. Melihat putrinya yang sedikit terganggu oleh suara keributan membuat Naina langsung mengelus punggung Zeline.


"Cup... Cup... Sayang..." Gumamnya sambil terus menonton.


"Apa Zeline tidur?" Tanya Aga yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Naina.


"Ya. Dia mudah sekali untuk tidur bila seperti ini." Balas Naina sambil memperagakan memeluk tubuh Zeline.


"Jika kau merasa tidak nyaman, biar aku saja yang memangkunya." Tawar Aga.


Naina menggeleng. "Tidak perlu, aku sudah terbiasa melakukannya." Balasnya tersenyum.


"Loh, Zel tidur?" Tanya Sasa merasa terkejut saat melihat ke arah samping tempat duduknya. Akibat terlalu fokus menonton membuatnya tidak mendengar bahkan menyadari pergerakan di sampingnya.


"Iya... Pulas banget tidurnya ini." Balas Naina sambil mengelap keringat yang membasahi pelipis putrinya.


"Biar aku yang menggendongnya." Tawar Aga lalu dengan hati-hati mengambil tubuh Zeline dari pangkuan Naina.


"Niel... Ayo keluar!" Ajak Queen yang sejak tadi melihat Daniel terus memperhatikan interaksi karyawannya di depannya.


"Ayo!" Ajak Daniel lalu berjalan meninggalkan ruangan setelah cukup puas memandang wajah gadis kecil yang seharian ini memenuhi pemikirannya.


"Apa kita langsung mencari cincin untuk acara pertunangan kita saja?" Tawar Queen saat mereka sudah berada di luar ruangan bioskop.


"Terserah kau saja." Balas Daniel dengan datar.


Queen sedikit melipat bibirnya. "Baiklah, selagi kita sudah ada di sini lebih baik kita mencarinya di toko perhiasan langganan Mamaku." Ajak Queen yang diangguki oleh Daniel.


"Niel... Apa yang ini bagus?" Tanya Queen menunjuk pada cincin yang saat ini dipegangnya.


Namun Daniel hanya diam sambil memandang kosong ke arah depan. Karena saat ini yang ada dipemikirannya adalah wajah gadis kecil yang mulai mengacaukan pemikirannya.


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺