
Satu minggu pun berlalu semenjak Zeline keluar dari rumah sakit. Naina pun sudah kembali bekerja seperti semula dengan pemikiran yang cukup tenang sebab keadaan Zeline sudah kembali sehat dan sudah kembali ceria seperti sedia kala.
Namun berbeda dengan pagi itu. Naina berangkat menuju perusahaan Alexander dengan perasaan tidak tenang. Entah mengapa ia merasa beberapa hari ini ada seseorang yang terus mengawasi rumahnya dari jarak dekat. Bahkan setiap ia pulang bekerja, Naina selalu merasa jika ada orang yang mengikutinya. Dan rasa tidak tenangnya itu semakin bertambah sebab tadi malam Naina mimpi buruk tentang kejadian masa lalu yang pernah dialaminya.
Karena pagi itu Naina berangkat lebih awal, saat masuk ke dalam ruangan kerjanya, Naina hanya melihat keberadaan Aga di sana. Kebiasaan Aga yang selalu datang lebih awal dari mereka memang tidak pernah berubah sampai saat ini.
"Naina... apa kau baik-baik saja?" Tanya Aga yang dapat menangkap raut wajah tidak tenang dari Naina.
"Aku baik-baik saja, Kak." Balas Naina tersenyum kaku.
"Kenapa wajahmu tegang begitu? Apa ada sesuatu yang mengganggu pemikiranmu?" Selidik Aga merasa curiga.
"Tidak ada. Aku baik-baik saja, Kak." Naina kembali berkata untuk menenangkan Aga.
Aga tak langsung mempercayainya. Pria itu pun kini memenuhi pandangannya dengan wajah cantik Naina. "Jika kau merasa ada sesuatu yang mengganggu pemikiranmu, kau bisa mengatakannya kepadaku."
"Baik, Kak. Tapi untuk saat ini aku sungguh baik-baik saja. Kalau begitu aku ke meja kerjaku dulu." Pamit Naina yang diangguki oleh Aga.
Kau mungkin bisa berbohong dengan ucapanmu Naina. Namun tidak dengan wajahmu. Batin Aga.
*
"Naina... bisa ke ruangan saya sebentar?" Ucap Mbak Wiwin pada Naina saat jam kerja sudah dimulai. Semua orang yang ada di dalam ruangan divisi Humas hari itu nampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Bahkan Sasa yang biasanya banyak berbicara pun nampak membisu di meja kerjanya.
Naina yang sedang fokus pada layar komputer di depannya pun menghentikan kegiatannya. "Baik, Mbak." Balasnya kemudian berdiri.
"Ada apa Naina? Kenapa Mbak Wiwin memanggilmu?" Bisik Sasa pada Naina.
Naina mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu, kalau begitu aku ke ruangan Mbak Wiwin lebih dulu." Ucap Naina yang diangguki oleh Sasa.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka membuat Mbak Wiwin menatap ke sumber suara.
"Ada apa Mbak Wiwin?" Tanya Naina setelah berada di depan meja kerja Mbak Wiwin.
"Saya ingin minta tolong kepadamu untuk mengantarkan laporan bulanan tim Humas ke ruangan Presdir sekarang karena Presdir sudah menunggu di ruangannya." Ucap Mbak Wiwin lalu menyerahkan sebuah map berisikan laporan kepada Naina tanpa memberikan kesempatan Naina untuk berbicara.
"Baik Mbak." Mau tidak mau Naina pun menerima laporan itu. Kenapa harus aku? Bukankah biasanya Thoriq atau Dimas? Batin Naina mulai resah.
Dengan langkah ragu Naina pun segera melangkah keluar dari ruangan Mbak Wiwin untuk menuju ruangan Presdir.
Saat sudah berada di lantai khusus petinggi perusahaan, Naina dibuat terkejut sebab Marko terlihat berdiri di depan ruangan presdir seperti menunggu kedatangannya di sana.
"Nona Naina... silahkan masuk. Tuan Daniel sudah menunggu anda sejak tadi." Ucap Marko dengan nada datarnya lalu membukakan pintu ruangan presdir untuk Naina.
***