Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Kasur besar untuk Papah


"Papah..." Zeline menjatuhkan wajahnya di bahu Daniel sangking malunya. "Malu Zel tuh. Temen Papah itu danteng semua." Lirih Zeline.


Daniel menggelengkan kepalanya merasa gemas dengan sikap putrinya yang selalu ceria melihat pria tampan di sekitarnya. Daniel mengelus lembut rambut putrinya lalu mengarahkan pandangan pada ketiga sahabatnya.


"Sedang apa kalian di sini?" Tanya Daniel dengan tatapan tak ramah.


"Tentu saja kami di sini untuk ikut menemani princess Zeline bermain." Seloroh Dio.


Marvel mengacungkan kedua jari jempolnya menyetujui ucapan Dio.


"Kalian jangan bercanda. Bukankah sekarang harusnya kalian itu bekerja!" Cetus Daniel.


"Memang seharusnya begitu. Tapi kami memutuskan untuk tidak bekerja." Balas Dio dengan enteng.


"Dan sebagai gantinya kaki akan menemanimu bermain bersama princess Zeline." Tambah Marvel.


Daniel menggelengkan kepalanya merasa tak habis pikir dengan jalan pemikiran ke tiga sahabatnya.


"Daniel, siapa mereka?" Ibu memasang wajah ramah pasa Marvel, Dio dan Kevin.


Dio pun sontak maju mendekat pada Ibu diikuti Marvel dan Kevin.


"Perkenalkan Tante, nama saya Dio, yang ini Kevin dan ini Marvel." Dio memperkenalkan dirinya, Marvel dan Kevin.


Ibu tersenyum. "Perkenalkan saya Ibu Naina. Dan silahkan memanggil Ibu saja seperti Nak Daniel." Balas Ibu dengan ramah.


Dio, Marvel dan Kevin pun mengangguk mengiyakan ucapan Ibu.


"Kalian yakin ingin ikut aku?" Tanya Daniel menatap satu persatu sahabatnya.


Marvel dan Dio sontak mengangguk. Sedangkan Kevin hanyak diam tanpa ekspresi.


"Baiklah, kalau begitu ayo masuk. Aku tidak memiliki waktu meladeni kalian lebih lama." Cetus Daniel. Pandangan Daniel pun beralih pada Ibu. "Ibu, ayo kita segera masuk." Ajak Daniel.


"Ayo." Balas Ibu.


"Banyak danteng yah Nek teman Papah." Bisik Zeline saat Ibu berada di samping Daniel.


Ibu menaruh jari telunjuk di bibir. "Tidak boleh sembarangan bicara." Ucap Ibu.


"Ya, Nek." Balas Zeline dengan bibir mengerucut.


*


Daniel mengikuti arah pandangan Zeline. Keningnya mengkerut saat Zeline menunjuk sebuah ranjang yang ada di dalam toko furniture.


"Zel ingin melihat kasur di sana?" Tanya Daniel.


Kepala Zeline mengangguk. "Ayo Pah sana." Ajakanya lagi tanpa mengalihkan pandangan dari ranjang yang mencuri perhatiannya.


"Baiklah, ayo. Balas Daniel lalu berjalan masuk ke dalam toko furniture.


"Princess, apa kau ingin membeli kasur baru?" Tanya Dio yang kini berjalan di belakang Daniel.


"Inda Om. Mau lihat ja Zel tuh." Balasnya dengan polos.


Dio mengangguk paham. Saat sudah masuk ke dalam tolo furniture, Zeline pun memberontak meminta diturunkan.


"Kasul besal itu!" Ucap Zeline lalu berlari ke arah ranjang yang terlihat cukup besar.


Dio pun tanpa sadar ikut berlari mengikuti Zeline. Sedangkan Daniel menghentikan langkahnya saat seorang pramuniaga datang menghampirinya.


"Om Dio, kasul besal ini." Zeline menepuk sisi samping matras.


"Iya, kasurnya cukup besar. Apa Zel ingin kasur baru?" Tebak Dio.


Kepala Zeline mengangguk cepat. "Mau Zel tuh. Bial Mama sama Papa tuh Bobo sama di kamal Mamah. Kamal Mamah sempit itu kasulnya Papa inda muat bobo sana." Jelas Zeline. Wajahnya berubah murung. "Tapi Mamah inda ada uang itu beli kasul besal." Lanjutnya kemudian.


"Oh... jadi Zel ingin beli kasur yang besar agar Mama dan Papa bisa tidur bersama Zeline?" Tanya Marvel yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka.


Zeline mengangguk membenarkan.


"Baiklah kalau begitu. Om Marvel yang tampan ini akan membelikannya agar Zel, Mama dan Papa bisa tidur bersama." Balas Marvel dengan tersenyum menyeringai.


***


Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya. Buat teman-teman yang masih mengikuti DABA sampai sejauh ini SHy ucapkan terimakasih🤍🤍


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi🌹