Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Will you marry me?


"Naina..." Aga tiba-tiba berjongkok di depan Naina.


"Kak Aga... Apa yang Kakak lakukan?" Naina dibuat terkejut karena sikap Aga.


"Dengarkan aku, Naina..." Aga menahan tangan Naina yang hendak bergerak menyuruhnya untuk kembali berdiri.


Pergerakan Naina terhenti. "Bisakah Kakak berbicara sambil duduk saja? akan sungguh tidak nyaman seperti ini." Ucap Naina.


Aga menggeleng. "Biarkan tetap seperti ini." Ucap Aga.


"Baiklah, Kak." Balas Naina. Pandangan mata mereka pun bertemu. Naina dapat melihat dengan jelas jika Aga benar-benar ingin mengatakan hal serius padanya.


"Naina... Aku mungkin bukanlah pria pertama yang hadir di dalam hidupmu. Dan aku mungkin juga bukanlah pria yang pernah kau harapkan menjadi masa depanmu." Aga perlahan menggenggam tangan Naina.


"Namun terlepas dari pada itu. Izinkanlah aku untuk menjadi sosok yang kau harapkan. Izinkan lah aku untuh menjadi pria terakhir yang akan menjagamu dan mencintaimu sekuat hatiku. Izinkanlah pundakku menjadi sandaran jika kau merasa lelah. Izinkan lah aku untuk benar-benar menjadi pri yang melindungimu untuk sekarang, nanti dan kedepannya." Ucapan Aga terdengar lembut dan tulus.


Kedua mata Naina berkaca-kaca. Matanya pun semakin dalam menatap pada mata Aga.


"Naina... Kau adalah wanita pertama yang berhasil meruntuhkan pertahanan yang aku buat. Kau adalah wanita pertama yang berhasil membuat aku sadar jika duniaku bukan hanya tentang kesedihan. Melihat wajahmu untuk pertama kalinya berhasil membuat hari-hariku yang gelap mulai terasa terang. Hatiku yang sudah membeku akan makna hidup akhirnya mencair. Kehilangan Mama sungguh membuatku hancur dan terluka. Namun saat kau hadir. Kau seolah menjadi obat yang dapat menyembuhkan luka itu."


Air mata pun tanta terasa jatuh di wajah Naina. Naina dapat menangkap kesedihan di wajah Aga saat membahas tentang kepergian sosok Ibunya.


"Apa maksud Kak Aga?" Tanya Naina dengan suara bergetar.


"Maukah kau menjadi istriku?" Ucap Aga pada akhirnya. "Maaf, mungkin ini terlalu cepat bagimu. Namun aku benar-benar tulus mencintaimu dan ingin menjadikanmu wanita terakhir di dalam hidupku." Ucap Aga dengan yakin saat melihat Naina nampak tertegun mendengar ucapannya.


"Kakak..." Naina tak dapat berkata-kata. Hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini.


"Maukah kau menjadi terang dalam dalam gelapku? Melewati hari tua bersamaku?" Aga kembali berucap. Menatap penuh harap pada wanita di depannya. Sebelah tangan Aga pun terlepas dari tangan Naina. Aga merogoh sesuatu di dalam saku celananya lalu mengeluarkannya.


Naina dibuat semakin terkejut saat kotak kecil bewarna merah itu sudah berada di tangan Aga.


"Will you Marry, me?" Ucap Aga setelah membuka kotak kecil di tangannya.


Naina menutup kedua mulutnya tak percaya. Air matanya pun semakin jatuh membasahi pipinya. Naina pun teringat dengan niat yang sudah ia bawa dari rumah. Dengan menghela nafas cukup panjang, Naina pun memberanikan diri untuk berbicara.


"Bolehkah aku menjawabnya setelah aku memberitahukan sesuatu kepada Kak Aga?" tanya Naina dengan suara sedikit bergetar.


Aga tersenyum. "Bicaralah. Aku akan menunggu jawabanmu kapan pun kau siap menjawabnya." Ucap Aga lalu kembali menutup kotak kecil yang ia buka. Aga dapat melihat jika saat ini benar-benar ada hal penting yang ingin Naina sampaikan dan Aga tak ingin menjadi pria egois yang mementingkan keinginannya sendiri.


***