Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Tolong lepaskan aku!


"Aku benar-benar tidak tahu jika perusahaan Alexander adalah perusahaan milik keluargamu. Jika aku tahu sejak awal, aku juga tidak ingin bekerja di sana." Balas Naina dengan jujur.


"Kau jangan berbohong." Ucap Daniel dengan keras di depan wajah Naina. Merasa tidak puas dengan jawaban Naina.


"Aku benar-benar tidak berbohong. Ku mohon biarkan aku pergi... Aku berjanji bila kontrakku bekerja di perusahaanmu telah habis, maka aku akan mengundurkan diri saat itu tiba." Naina mengatupkan tangannya di depan wajahnya. Berharap Daniel dapat mempercayainya.


Dada Daniel kembali dibuat begitu sesak melihat air mata Naina mengalir semakin deras. Daniel terdiam beberapa saat. Memahami arti sesak di dadanya saat ini. Dan diamnya Daniel membuat Naina mengambil gerakan cepat menginjak keras sepatu Daniel lalu segera berlari meninggalkan pria itu.


"shht..." Daniel meringis. Namun tidak memanggil nama Naina yang akan membuat orang-orang curiga bila mendengarnya.


Seorang penjaga yang telah diperintahkan Daniel untuk melarang siapa pun untuk masuk ke dalam kamar mandi itu pun nampak bingung saat melihat Naina melewatinya begitu saja sambil menangis. Tak lama Daniel pun turut melewatinya sambil memberikan perintah untuk membuka kembali akses ke kamar mandi.


"Tuan muda yang aneh..." Gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.


Saat sudah kembali ke meja, semua orang yang sedang sibuk menghabiskan makanan di depan mereka nampak terkejut melihat wajah sembab Naina yang seperti habis menangis.


"Tak... Lama sekali di kamal mandi?" Tanya Zeline yang tidak terlalu mengerti dengan keadaan kakaknya saat ini.


"Naina... Kau kenapa? Kenapa kau seperti habis menangis?" Sasa pun turut bertanya. Pertanyaan Sasa pun berhasil membuat Aga, Dimas dan Thoriq kini memusatkan pandangan mereka pada Naina.


"A-aku tidak apa-apa." Balas Naina mencoba tersenyum agar teman-temannya tidak curiga.


"Kau jangan berbohong. Jelas-jelas kau seperti habis menangis." Sasa merasa tak puas dengan jawaban Naina.


"Benar... Ada apa denganmu Naina?" Timpal Dimas.


"Naina..." Aga pun turut mengeluarkan suara hingga membuat Naina merasa bingung harus menjawab apa.


Naina menghela nafas panjang. "Aku benar-benar tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedang tidak enak badan saat ini. Emh... Kak Aga... Bisakah Kakak mengantarkan aku untuk pulang sekarang?" Tanya Naina pada Aga karena saat ini tubuhnya benar-benar merasa lemas setelah berbicara kembali dengan ayah dari anaknya setelah sekian lama mereka saling membisu.


Aga nampak menimbang-nimbang. Apa lagi masih ada hal penting yang harus ia lakukan sebelum acara pertunangan Daniel selesai.


"Jika Kakak tidak bisa tidak masalah, aku akan pulang naik taksi online saja." Ucap Naina lagi.


"Yah.... Tak... Napa pulang..." Keluh Zeline menatap Naina tak bersemangat.


"Besok kita main lagi, ya. Sekarang kita harus pulang dulu." Ucap Naina mencoba memberi pengertian pada putrinya.


"Ya, Tak." Balas Zeline lalu merentangkan kedua tangannya pada Naina untuk digendong.


"Zel sama Kakak saja." Ucap Aga lalu segera menggendong tubuh Zeline.


Naina dan Aga pun berpamitan pada Dimas, Sasa dan Thoriq lalu segera berlalu dari sana.


"Kalian merasa tidak jika Naina terlihat sangat aneh malam ini?" Tanya Sasa sambil menatap punggung Naina yang mulai lenyap dari pandangannya.


Dimas dan Thoriq mengangguk bersamaan.


"Tidak perlu terlalu banyak bertanya. Kita hanya perlu menjadi pendengar yang baik jika Naina mau bercerita." Ucap Dimas pada Sasa yang selalu kepo itu.


Sasa terdengar mendengus. "Iya-iya..." Balasnya singkat.


Sedangkan pria yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Naina nampak menatap kepergian Naina dengan tatapan yang sulit diartikan.


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺