Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Aurelia Zeline


Naina terdiam sambil memikirkan perkataan Mama Hasna yang ada benarnya. "Nai akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini pada Kak Aga, Bibi."


Mama Hasna melebarkan senyumannya. "Baguslah jika begitu. Bibi yakin Aga adalah pria yang bijak dan dia tidak akan mengambil tindakan gegabah." Ucap Mama Hasna.


Naina mengangguk mengiyakan.


"Naina, apakah boleh siang ini Bibi datang ke rumahmu untuk menemui Zeline? Bibi sangat ingin bertemu dengannya." Mama Hasna menggenggam erat tangan Naina seraya menatap Naina penuh harap.


"Tidak ada alasan untuk Nai melarang Bibi menemui Zel. Namun Nai mohon agar Bibi tidak membahas jati diri Zel karena Zel hanya tahu jika dia adalah adik Nai." Pinta Naina.


"Terimakasih Naina. Bibi tidak akan melakukan apa yang kau takutkan." Balas Mama Hasna lalu memeluk Naina barang sejenak.


*


Di ruang tamu rumahnya, Zeline nampak menghitung jumlah boneka yang ada di depannya. "Satu... Dua... Tiga... Empat..." Ucapnya sambil menunjuk satu persatu boneka yang baru saja ia bawa keluar dari dalam kamar Naina. "Duduk sini ja ya. Jatuh nanti itu kalau inda sandal." Ucapnya setelah menyandarkan boneka beruang besarnya di dinding.


"Kamal Tak Mala masih ada itu boneka. Ambil ja deh!" ucapnya lalu bangkit dari duduknya. Saat hendak melangkah menuju kamar Amara, langkah Zeline terhenti saat mendengar suara klakson mobil dari depan rumahnya.


"Sapa tuh?" Tanyanya lalu berlari ke depan rumah. "Inda kenal itu." Ucapnya saat melihat wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Siapa Zel?" Amara yang juga mendengar suara klakson mobil pun menghampiri Zeline yang sudah berdiri di depan rumahnya.


"Inda tahu. Nda kenal itu." Balas Zeline tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita paruh baya yang kini sedang berjalan ke arah mereka.


"Selamat siang, apa benar ini rumah Naina?" Tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah Mama Hasna.


"Benal, ini lumah Tak Nai." Balas Zeline. Zeline pun menatap wanita di depannya dari atas sampai bawah. "Pelnah ketemu ini!" Serunya saat mengingat pertemuannya dan Mama Hasna di Supermarket dan Mall waktu itu.


Mama Hasna tersenyum. "Ya. Sebelumnya kita memang sudah pernah bertemu di supermarket dan di Mall."


"Maaf, ada urusan apa Bibi datang ke sini?" Tanya Amara merasa bingung. Apa lagi melihat penampilan wanita di depannya saat ini terlihat elegan dan mewah.


"Saya ingin menemui Ibu dan Ayah dari Naina. Apa mereka ada?" Tanya Mama Hasna tanpa menyebutkan niatnya yang sebenarnya.


Mama Hasna mengangguk mengerti. "Agh sayang sekali. Padahal saya sangat ingin bertemu dengan mereka." Ucapnya kemudian.


"Silahkan masuk saja dulu, Bibi. Sepertinya Ibu akan pulang sebentar lagi." Balas Amara merasa sungkan.


Mama Hasna pun dengan cepat mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. Setelah masuk ke dalam rumah, Amara pun berpamitan ke belakang untuk membuatkan minuman untuk Mama Hasna.


"Hai gadis kecil... Siapa namamu?" Tanya Mama Hasna sambil tersenyum menatap pada Zeline yang kini menatap bingung kepadanya.


"Aulelia Zeline, Bibi." Balas Zeline menyebutkan nama panjangnya.


"Oh... Aulelia Zeline..." Ucap Mama Hasna mengulang ucapan Zeline.


Zeline menggelengkan kepalanya. "Aulelia Zeline." ulangnya lagi sambil menunjuk foto kecilnya dan nama panjangnya yang tertulis di bingkai foto.


"Oh... Aurelia Zeline..." Ucap Mama Hasna membenarkan ucapannya lalu melipat bibirnya saat menyadari cucunya belum fasih menyebutkan huruf R.


***


Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗


Sambil menunggu cerita Naina dan Daniel update, teman-teman silahkan mampir di karya aku yang lainnya ya.


- Bukan Sekedar Menikahi (On Going)


- Hanya Sekedar Menikahi (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)