
Tapi aku yakin jika pria itu yang membayarkan biaya pengobatan rumah sakit Zeline. Batin Amara.
"Sudahlah. Sebaiknya kau membayar baju-baju ini lalu kita membawa Zeline bermain." Perintah Ibu.
Amara menatap pada wajah Zeline yang nampak tak bersemangat lalu mengangguk.
"Tunggu di depan saja, Bu. Mara akan membayarnya lebih dulu." Ucap Amara yang diangguki oleh Ibu.
"Zeline, ayo kita menunggu Kakak di depan saja." ajak Ibu.
"Ndong Bu. Tapek ini." Keluh Zeline lalu merentangkan kedua tangannya pada Ibu.
Ibu tersenyum. "Capek habis ilang ya?" Ucap Ibu lalu mengangkat tubuh Zeline.
*
"Daniel, ada apa denganmu? Kenapa sejak tadi Mama perhatikan kau tidak bersemangat setelah bertemu dengan gadis kecil itu?" Tanya Mama Hasna saat mereka baru saja sampai di di rumah Dara.
Dara yang mendengarkan ucapan Mamanya pun menghentikan langkahnya yang ingin masuk ke dalam rumah. Menatap pada wajah Daniel yang memang nampak berubah sejak awal masuk ke dalam mobil.
"Aku tidak apa-apa. Kenapa Mama berbicara seperti itu?" Tanya Daniel.
"Mama hanya merasa ada yang aneh denganmu, Niel." Ucap Mama Hasna lagi.
"Memangnya Daniel habis bertemu dengan siapa, Ma?" Timpal Dara merasa penasaran.
"Kita bahas di dalam saja. Daniel, ayo masuk dulu. Kau boleh kembali ke perusahaan setelah pembahasan kita selesai." Ucap Mama Hasna.
Daniel menghembuskan nafasnya kasar di udara. Sungguh ia sudah sangat malas untuk berbicara saat ini. Terlebih perasaan tidak rela yang menghimpit dadanya karena hanya bertemu sebentar dengan putrinya masih terasa sampai saat ini.
"Jadi apa yang ingin Mama bicarakan?" Tanya Daniel setelah duduk di sofa.
Dara yang sejak tadi merasa penasaran dengan apa yang terjadi pun menatap Daniel dan Mamanya secara bergantian dengan wajah penasaran.
"Katakanlah makan aku akan menjawabnya." Balas Daniel.
"Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Mama dapat merasakan kau menjalani hari-harimu dengan tidak tenang dan semangat seperti biasanya. Bahkan kau sudah sangat jarang bepergian dengan teman-temanmu." Ucap Mama Hasna mengutarakan perubahan putranya.
"Aku tidak apa-apa, Ma." Balas Daniel dengan singkat.
"Katakan Daniel, ada apa denganmu? Dan setelah bertemu dengan gadis kecil itu kau terlihat semakin tidak bersemangat." Ucap Mama Hasna menatap intens wajah putranya.
"Aku sungguh tidak apa-apa, Ma. Lagi pula kenapa Mama membawa gadis kecil tadi? Dia tidak ada hubungannya dengan—"
"Kau jangan berbohong, Daniel. Mama baru menyadari jika wajah gadis kecil tadi sangat mirip dengan foto walpaper ponselmu." Ucap Mama Hasna yang berhasil membuat Daniel tertegun.
"Gadis kecil siapa yang Mama maksud?" Dara yang sejak tadi sudah merasa penasaran pun angkat bicara.
"Mama juga tidak tahu siapa gadis kecil itu. Tapi wajahnya sangat mirip dengan foto wajah gadis kecil di ponsel adikmu." Balas Mama Hasna.
"Lagi pula sangat aneh sekali adikmu memasang foto gadis kecil yang hanya berstatus sebagai adik dari temannya menjadi walpaper ponselnya." Lanjut Mama Hasna lagi sambi menatap Daniel dengan penuh pertanyaan.
"Sudahlah, Ma. Aku memasang fotonya karena aku menyukai gadis kecil sepertinya yang sangat lucu. Lagi pula Mama bisa merasakan sendiri bukan jika gadis kecil itu sangat menyenangkan?" Ucap Daniel menatap wajah Mamanya dengan serius.
"Tapi Daniel—"
"Sudahlah, Ma. Aku harus segera kembali ke perusahaan karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Daniel lalu bangkit dari sofa. Maafkan aku, Ma. Namun untuk saat ini belum waktunya Mama mengetahui kebenarannya sebelum aku menyelesaikan masalah ini dengan Naina. Ucap Daniel dalam hati.
"Aku pergi dulu." Pamitnya. Daniel yang hendak melangkah pun menghentikan niatnya saat mendengar Mamanya kembali berbicara
"Siapa gadis kecil itu? Kenapa warna matanya sangat mirip sekali dengan warna matamu dan Dara?" tanya Mama Hasna yang berhasil membuat tubuh Daniel menegang.
***
Lanjut lagi kalau like, vote, komen dan giftnya banyak deh😉