
"Tak Nai, apa kita benal akan pelgi belmain ke kota B?" Tanya Zeline dengan wajah berbinar saat Naina baru saja sampai di rumah sore itu.
Naina hampir saja terhuyung saat Zeline menarik kuat ujung rok yang di kenakannya.
"Tak Nai ayo jawab! Zel inda sabal ini!" Ucap Zeline memasang wajah tak sabaran.
"Lepaskan dulu rok Kakak baru Kakak akan menjawabnya." Ucap Naina.
Tangan mungil Zeline pun segera terlepas dari rok yang dikenakan Naina.
"Apa benal kita akan pelgi?" Tanya Zeline lagi. Menatap wajah Naina dengan wajah semakin tak sabar namun terlihat lucu di matan Naina.
"Benar. Kita akan pergi hari sabtu besok." Balas Naina pada akhirnya.
"Asik... seluna... seluna..." Zeline melompat kesana kemari. Membayangkan akan pergi jalan-jalan sungguh membuatnya begitu senang. "Jalan-jalan sana... jalan-jalan sini... asik semua." Sorak Zeline. Zeline pun mendekat kembali pada Naina lalu memeluk paha Naina. "Maci Tak. Pelgi main senang ini." Ungkapnya semakin senang.
Naina melebarkan senyumannya. Hal kecil yang belum ia lakukan saja sudah membuat Zeline begitu senang. "Cium dulu dong sebagai ucapan terimakasih." Ucap Naina tersenyum.
"Leh. Sini cium!" Zeline memajukan bibirnya. Melihat itu Naina hampir saja tertawa.
Naina membungkukkan tubuhnya hingga Zeline dapat mencium pipinya.
"Muah... tayang Tak Nai ini..." ucapnya lalu mengelus pipi Naina dengan tangan mungilnya.
Naina kembali tersenyum. Namun kedua bola matanya nampak berkaca-kaca.
"Oh... jadi hanya sayang sama Kak Nai saja ini?" Amara datang dengan memasang wajah cemberut.
Zeline memutar tubuhnya. Menatap Amara yang kini tengah bersedekap dada. "Sini... cium juga loh!" Ucap Zeline memajukan kembali bibirnya.
Amara memasang wajah jutek namun tetap memberikan pipinya ke bibir Zeline.
"Tayang Tak Mala juga loh." Ucapnya lalu mengelus pipi Amara.
Amara tak dapat membendung senyuman yang sejak tadi ia tahan. "Jika kau adalah makanan, kau sudah habis masuk ke dalam perutku!" Seloroh Amara lalu menggendong tubuh mungil Zeline. Menanamkan ciuman cukup lama di pipi Zeline lalu menggigitnya.
"Amara..." Naina menggelengkan kepalanya. Tentu saja Zel sampai menangis sebab Amara terlalu kuat menggigit pipi putrinya.
"Hua... tulunkan Zel!" Zeline memberontak sambil menangis.
Melihat itu Naina pun langsung mengambil alih tubuh Zeline ke dalam gendongannya.
"Hahaha..." Amara tertawa-tawa. Merasa lucu melihat Zeline menangis.
"Kau ini selalu saja membuatnya menangis." Ucap Naina sambil mengelus punggung Zeline.
"Benal. Tak Mala selalu saja membuat Zel menangis! Hua..." Zeline kembali menangis dengan kencang.
"Sudah-sudah. Ayo kita ke kamar saja. Kakak ingin mandi dan mempersiapkan barang-barang untuk keberangkatan kita dua hari lagi." Ucap Naina pada Zeline.
Zeline menganggukkan kepalanya namun tetap menangis. Naina pun berjalan melewati Amara lalu memberikan cubitan kecil di lengan adiknya. "Kau ini nakal sekali. Sudah seperti Zeline saja." Ucap Naina.
Amara meringis. Walau pun kecil namun cubitan Naina cukup membuat lengannya terasa panas.
Melihat Amara yang meringis, Zeline pun menjulurkan lidahnya pada Amara.
"Gadis kecil itu benar-benar! Dia masih menangis namun masih saja bisa mengejekku!" Amara menggerutu. Namun akhirnya tertawa melihat betapa lucunya keponakannya.
Tawa Amara tak berlangsung lama saat ini kembali mengingat ajakan Naina untuk ikut bersamanya ke kota B dua hari lagi.
"Apa aku harus pergi?" Gumam Amara dengan tatapan tak terbaca.
***
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku,
^ Bukan Sekedar Menikahi ^
Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗