Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Tangisan Zeline


Zeline pun akhirnya menangis setelah mengungkapkan keinginannya. "Hua... Zel mau Papah..." Zeline menjatuhkan wajahnya di atas kasur sambil menangis.


"Zeline jangan seperti ini..." Naina buru-buru mengangkat wajah putrinya yang menempel dengan kasur.


Zeline menggelengkan kepala dengan mata terpejam. "Zel mau Papah Niel saja, Ma... inda mau Papah lain...."


"Zeline..." Naina membawa tubuh putrinya ke dalam pelukannya. "Jangan menangis lagi..." Naina dibuat semakin dilema dengan permintaan putrinya.


Zeline pun terus menangis di dalam pelukan Naina. "Papah... Papah..." ucapnya sambil terisak.


"Iya, iya... besok jumpa Papa ya..." balas Naina.


"Mau Papah Niel ja Ma..." ucap Zeline lagi.


Naina menghela nafas panjang. "Iya... Papa Niel tetap jadi Papa Zel..." balas Naina.


Cukup lama Naina menenangkan Zeline yang terus menangis memanggil nama Daniel. Hingga akhirnya Zeline pun tertidur di dalam pelukannya setelah lelah menangis.


"Putri Mama... Mama harap suatu saat nanti Zel akan terbiasa dengan keberadaan Kak Aga di sisi Zel." Lirih Naina penuh harap.


*


"Nty Mala..." Zeline berlari ke arah Amara setelah Naina dan Ibu berangkat ke pasar pagi itu.


"Zeline..." Amara segera menangkap tubuh Zeline saat sudah berada di dekatnya.


"Nty Mala... hua..." Zeline menangis kencang saat sudah berada di gendongan Amara.


"Zeline ada apa ini?" Wajah Amara mulai panik melihat keponakannya yang tiba-tiba menangis.


"Nty Mala... Zel inda mau Papah lain. Zel mau Papah Niel saja..." ucap Zeline sambil terisak.


"Zeline sayang..." Amara mengecup kening Zeline lalu membawa Zelie duduk di atas sofa.


"Na-napa Mamah inda nikah sama Papah Niel saja... napa sama Om Aga..." ucap Zeline sedikit terbata.


"Zeline... apa Zel tidak sayang dengan Om Aga? Bukankah Zeline sangat menyayangi Om aga dan menyukai Om Aga karena Om Aga baik dan juga tampan?" Tanya Amara dengan lembut.


"Z-zel sayang Om Aga... tapi Zel inda mahu Om Aga jadi Papah Zel... Zel mau Papah Niel ja..." balas Zeline sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Amaraz


"Kenapa tidak mau? Om Aga pria yang baik dan juga sangat menyayangi Zel. Om Aga pasti akan menjadi Papa yang baik untuk Zel nantinya." Tutur Amara dengan lembut.


Zeline menggelengkan kepalanya. "Zel mau Papah Niel saja... inda mahu Papah lain Nty!" Zeline semakin menangis dengan kencang.


Amara yang dibuat bingung melihat sikap Zeline pun akhirnya tak lagi membahas Aga dan memilih menenangkan Zeline yang menangis terisak.


Kenapa Zeline jadi seperti ini? Bukankah sebelum mengenal Kak Daniel Zeline sangat menyukai Kak Aga. Tapi kenapa sekarang Zel seperti enggan menerima Kak Aga menjadi suami dari Kak Nai nantinya. Batin Amara bertanya-tanya.


Mendapatkan kondisi putrinya yang habis menangis setelah pulang dari pasar membuat Naina menghela nafas panjang. Naina pun buru-buru meletakkan barang belanjaannya di dapur lalu mencuci tangannya.


"Apa Zel dari tadi menangis?" Tanya Naina dengan pelan pada Amara.


Amara mengangguk. Tangannya masih sibuk mengusap kepala Zeline yang nampak memejamkan mata sambil terisak.


"Naina... untuk saat ini jangan lagi membahas tentang Papa barunya pada Zeline. Pelan-pelan saja menjelaskan padanya karena Zel masih sangat kecil untuk memahami keadaan ini." Tutur Ibu dengan lembut. Ibu pun turut merasa sedih melihat kondisi cucunya saat ini.


***


Lanjut? Berikan vote, gift dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnya. Buat teman-teman yang masih mengikuti DABA sampai sejauh ini SHy ucapkan terimakasih🤍🤍


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi🌹