Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Tak lagi menempatinya sendiri


"Apa tak masalah?" Tanya Naina sambil mengelus rambut putrinya.


"Tak masalah. Pelgilah Tak..." Ucap Zeline lalu menjatuhkan wajahnya di pundak Ibu.


"Sepertinya Zel sudah mengatuk." Ibu pun turut mengelus rambut Zeline. "Pergilah, Nai. Maaf Ibu tak bisa melihat nak Aga. Ibu ingin membuatkan susu untuk Zel lebih dulu." Ucap Ibu.


"Baiklah, Bu. Kalau begitu Nai pamit pergi." Ucap Naina yang diangguki oleh Ibu. Naina pun turut berpamitan pada Amara lalu keluar dari dalam rumahnya.


"Bibi dan Paman tidak ada?" Tanya Aga saat melihat Naina keluar dari rumahnya seorang diri.


"Ibu sedang sibuk mau menidurkan Zeline. Dan Ayah seperti sedang pergi ke warung." Balas Naina.


"Baiklah. Ayo pergi." Ajak Aga yang diangguki oleh Naina.


"Ayo." Balas Naina lalu masuk ke dalam mobil setelah Aga membuka pintu mobilnya.


Setelah menutup pintu mobil, Aga pun turut masuk ke dalam mobilnya.


"Kita akan pergi kemana Kak?" Tanya Naina saat mobil mulai melaju meninggalkan perkarangan rumahnya.


"Ke suatu tempat yang belum pernah kau datangi." Balas Aga. Tangan Aga pun terulur mengelus rambut Naina. "Kau selalu cantik setiap harinya." puji Aga lalu mengelus lembut pipi Naina.


Naina tersenyum mendengarnya. Namun hatinya mulai tidak tenang untuk mengungkapkan rahasia besarnya pada Aga nantinya.


Mobil pun terus melaju membelah keramaian malam. Aga dan Naina terus terlibat perbincangan kecil hingga mobil Aga pun masuk ke dalam perumahan yang tak kalah elit dari rumah orang tua Aga.


"Kita ingin kemana, Kak?" Tanya Naina merasa bingung. Karena untuk kedua kalinya Aga mengajaknya masuk ke kawasan perumahan elit.


Aga hanya tersenyum tanpa membalas pertanyaan Naina. Mobil pun terus melaju hingga sampai di rumah mewah yang berada di ujung jalan.


Rumah siapa ini? Naina merasa bingung. Namun percuma saja ia bertanya karena Aga tak akan menjawabnya.


Seorang penjaga yang melihat kedatangan mobil Tuannya pun membukakan pintu gerbang. Mobil Aga pun masuk setelah memberikan klakson tanda terimakasih dan sapaan pada penjaga.


"Ayo turun." Ajak Aga pada Naina yang masih nampak terdiam sambil menatap keselilingnya.


"Agh, iya Kak." Naina pun membuka seatbeltnya lalu turun dari dalam mobil.


Naina mengangguk. "Rumahnya cantik sekali. Dan aku sangat menyukai desainnya." Ucap Naina dengan pandangan yang tak henti menatap keindahan di depan matanya.


"Ayo masuk!" Ajak Aga sambil memegang tangan Naina.


"Tapi rumah siapa ini Kak?" Tanya Naina menahan pergerakan Aga yang ingin melangkah.


"Masuklah lebih dulu maka kau akan tahu jawabannya." Ucap Aga dengan tersenyum.


Naina menurutinya. Mengikuti langkah Aga menuju pintu rumah. Saat pintu sudah terbuka, pandangan Naina pun langsung tertuju pada foto berukuran besar yang terpajang di dinding.


"Ini rumah orang tua Kak Aga juga?" Tanya Naina setelah melihat foto keluarga Aga yang sama persis ia lihat di rumah Papa Andrew.


"Bukan. Ini rumahku." Balas Aga sambil terus melangkah.


"A-apa?" Naina terbelalak. "Apa Kakak serius?" Tanya Naina setelah Aga berhenti melangkah dan menatap ke arahnya.


"Apa kau pernah melihatku bercanda?" Tanya Aga kembali.


Naina menggeleng.


"Ini memang rumahku. Rumah yang sudah lama aku tinggali seorang diri semenjak kematian Mama." Terang Aga.


Naina terdiam. Naina dapat merasakan kesedihan di wajah Aga saat Aga mengatakannya.


"Dan aku harap, beberapa waktu ke depan aku tak lagi menempatinya seorang diri seperti biasanya." Ucap Aga penuh arti.


***


Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺


Sambil menunggu cerita DABA update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Hanya Sekedar menikahi (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)