Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Wanita masa depan Daniel


Daniel menghela nafas panjang. "Baiklah. Tunggulah sebentar. Ada sedikit pekerjaan lagi yang ingin aku kerjakan." Putus Daniel tak ingin melihat kekasihnya bersedih.


Queen seketika melebarkan senyumannya. Lalu berjalan menuju sofa untuk duduk menunggu Daniel di sana.


Lima belas menit berlalu, Daniel pun beranjak dari kursi kebesarannya. "Ayo pergi." Ajak Daniel sambil menggulung lengan kemejanya ke atas.


"Ayo!" Ucap Queen sambil memeluk manja lengan kekar kekasihnya.


Saat sudah berada di lobby, bisik-bisik karyawan pun mulai terdengar memuji betapa cantinya kekasih presdir mereka. Queen yang mendengarkan pujian untuknya pun tak dapat menahan senyumannya.


Berbeda dengan Daniel yang hanya acuh saja sambil terus berjalan menuju pintu keluar. Saat sudah berada di pintu keluar. Langkah Daniel pun terhenti saat berpapasan dengan Sasa dan Naina yang ingin masuk ke dalam perusahaan sambil membawa minuman dingin di tangan masing-masing.


Pandangan Daniel dan Naina pun bertemu. Namun Naina buru-buru memutus tatapan mereka lalu menunduk. Daniel pun kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Sasa yang tengah menyapanya.


"Bukankah mereka wanita yang tempo hari bertemu dengan kita di mall?" Tanya Queen yang masih mengingat jelas wajah Naina dan Sasa.


Daniel mengangguk tanpa bersuara. Namun wajah pria itu terlihat semakin dingin entah apa yang dipikirkannya.


"Nona Queen terlihat sangat cantik hari ini. Dia memang wanita sempurna untuk masa depan Tuan Daniel..." Puji Sasa setelah Daniel dan Queen lenyap dari pandangannya.


"Ya. Dia sangat cantik dari dulu." Ucap Naina yang sudah mengingat siapakah Queen.


"Dari dulu?" Kening Sasa mengkerut. "Apa kau sudah lama mengenal Nona Queen?" Tanya Sasa penasaran.


"Sudahlah... Tidak usah dipikirkan. Lebih baik kita segera kembali sebelum Kak Aga akan marah." Ajak Naina tak ingin Sasa terlalu banyak bertanya yang akan menjebak dirinya sendiri.


"Naina itu aneh sekali..." Gumam Sasa menatap punggu Naina lalu ikut berjalan.


*


"Bobo, Tak?" Ucap Zeline yang sudah mengambil posisi di atas ranjang.


Naina mengangguk. "Iya... Ayo bobo." Ajak Naina lalu ikut berbaring sambil memegang botol susu Zeline.


"Belum nantuk ini, Tak." Ucap Zeline dengan mata yang masih nampak cerah.


Naina tak kehabisan ide. Ia pun mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur agar penglihatan Zeline semakin redup.


"Minum susu dulu, ya..." Ucap Naina lalu memberikan dot susu ke mulut Zeline.


Zeline menerimanya. Mata gadis kecil Naina itu pun sudah mulai redup bersamaan dengan susunya yang sudah hampir habis. Naina pun terus menepuk bokong Zeline agar cepat tertidur pulas. Dan tak berapa lama, kedua kelopak mata Zeline pun mulai tertutup dan dot yang berada di mulutnya sudah jatuh begitu saja di atas kasur.


"Akhirnya... Bobo yang nyenyak anak Mama." Ucap Naina lalu mengecup lama kening putrinya.


Setelah menyelimuti Zeline, Naina pun segera turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah siap dengan penampilannya, Naina pun segera keluar dari dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan hati-hati.


"Loh... Kak Aga sudah datang?" Ucap Naina sedikit terkejut saat melihat Aga sudah duduk di ruang tamu bersama dengan kedua orang tuanya.


***


Lanjut lagi kalau like, komen dan votenya banyak ya, hehe😌