
"Bibi Mama Tak Niel?" Tanya Zeline saat mengingat pertemuan mereka terakhir kali di mall.
Mama Hasna tersenyum lalu mengangguk. "Bukankah waktu itu Bibi sudah berkata untuk memanggil nenek saja?" Ucap Mama Hasa.
Zeline menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya. Nenek deh." Balasnya tersenyum.
"Tak Mala... Mama Tak Niel ini..." Ucap Zeline pada Amara yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa nampan di tangannya.
"Mama Kak Daniel?" Tanya Amara merasa terkejur. Amara pun meletakkan minuman di depan Mama Hasna lalu menatap wajah Mama Hasna dengan intens. "Bibi benar Mama Kak Daniel?" Tanya Amara memastikan kembali.
Mama Hasna mengangguk membenarkan.
"Oh astaga..." lirih Amara sangat pelan.
Ada apa Mama Kak Daniel datang ke rumah ini? Apa dia ingin mengatakan pada Zeline jika dia adalah Nenek Zeline?
Amara menatap Mama Hasna dengan awas. Amara pun segera duduk di samping Zeline dan meragkul pinggal Zeline erat.
"Sesak ini. Napa peluk si Tak!" Protes Zeline menggoyangkan pinggulnya merasa risih.
Mana Hasna yang dapat menangkap ketakutan Amara pun angkat bicara.
"Saya berniat baik datang ke sini untuk menemui Bu Fatma dan Pak Arif. Dan saya tidak memiliki niat buruk apa pun." Ucap Mama Hasna memenangkan Amara.
Amara yang merasa tidak enak dengan sikapnya pun melepas rangkulannya dari pinggang Zeline.
"Tak Mala sih. Nenek sedih itu!" Ucap Zeline menatap Amara dengan bibir mengerucut.
Amara tersenyum kaku. "Maafkan saya, Bibi." Ucapnya kemudian.
"Tak masalah." Balas Mama Hasna turut tersenyum.
"Inda Bibi loh Tak. Nenek ini!" Protes Zeline.
Amara menggaruk keningnya yang tidak gatal. Merasa bingung bagaimana menjelaskannya pada Zeline.
Kedatangan Ibu masuk ke dalam rumah berhasil membuat Amara tidak menjawab pertanyaan Zeline.
"Ibu dah pulang? Ada Nenek ini." Ucap Zeline menunjuk pada Mama Hasna.
Mama Hasna mengangguk. "Benar... saya Mamanya Daniel."
Ibu tersenyum. Tangannya pun terulur menyalimi Mama Hasna lalu duduk di kursi single.
"Apa anda sudah lama?" Tanya Ibu dengan lembut.
Mama Hasna menggeleng. "Saya baru saja sampai." Balasnya.
"Silahkan diminum dulu minumannya, Bu—"
"Hasna. Panggil saja saya Hasna."
"Oh, iya. Silahkan diminum minumannya Bu Hasna." Ucap Ibu lagi.
"Terimakasih Bu Fatma." Balas Mama Hasna tersenyum lalu menyambar gelas di depannya.
"Nenek, napa Tak Niel ndk ikut main sini? Takut malain Ayah lagi ya?" Tanya Zeline dengan wajah sedihnya.
Mama Hasna menggeleng. "Kak Daniel tidak ikut karena sedang bekerja, sayang." Balas Mama Hasna.
"Inda takut dimalahin Ayah?" Tanya Zeline lagi.
"Tidak..." balas Mama Hasna meyakinkan.
Dari tempat duduknya, Ibu menatap interaksi antara Mama Hasna dengan Zeline dengan intens. Ibu dapat melihat jika Mama Hasna menyayangi cucunya walau mereka baru bertemu beberapa kali.
"Ibu... Nenek bilang mau jumpa Ayah dan Ibu tadi." Adu Zeline pada Ibunya.
"Ada apa Bu Hasna ingin menjumpai saya dan suami saya?" Tanya ibu.
"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan, Bu Fatma. Tapi sayang sekali Pak Arief sedang tidak ada di rumah saat ini." Balas Mama Hasna.
Ibu terdiam beberapa saat. "Apa anda ingin membahas tentang anak kita?" Tanya Ibu yang sudah paham tujuan Mama Hasna datang ke rumahnya.
***
Kalau gak sibuk nanti Aku lanjut lagi ya😊