
"Tu-tuan Daniel... Sedang apa Tuan berada di sini?" Tanya Naina sedikit gugup sekaligus bingung. Karena baru saja Daniel memasangkan cincin di jari manis Queen dan sekarang pria itu sudah berada di depannya.
"Kenapa kau berbicara formal seperti itu. Apakah kau sudah melupakan jika kita adalah mantan sepasang kekasih dulunya? Agh, bahkan mungkin masih sepasang kekasih karena belum ada kata perpisahan diantara kita. Benar begitu bukan, Naina?" Ucap Daniel yang membuat Naina begitu terkejut.
"Apa yang anda bicarakan, Tuan? Saya sungguh tidak mengerti." Ucap Naina berusaha menutupi kegugupannya saat ini.
Daniel menarik tipis bibirnya ke samping. "Apa kau yakin benar-benar tidak mengerti, hem?" Daniel mendekatkan tubuhnya. Hingga jaraknya dan Naina kini hanya benerapa jengkal saja.
Naina sontak memundurkan langkahnya. Namun sayang, langkahnya itu terhenti karena tubuhnya sudah menyentuh pintu kamar mandi.
"Kenapa kau terlihat gugup begitu, hem?" Daniel menyeringai. Menatap senang wajah ketakutan Naina saat ini.
"Kau mau apa sebenarnya, Daniel..." Ucap Naina sambil menutup wajahnya karena ia sudah tidak sanggup berlama-lama menatap wajah tampan Daniel yang membuat dirinya selalu lemah.
"Akhirnya kau menyebut namaku dengan benar, Naina." Ucap Daniel sedikit menggeram.
Naina meringis. Saat tangan Daniel mencengkram erat rahangnya saat ini.
"Da-daniel..." Naina semakim meringis sebab cengkraman Daniel semakin kuat hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Kau pikir kau itu siapa dengan berani-beraninya mengabaikan pesanku begitu saja waktu itu, hem?" Wajah Daniel nampak memerah. Sepertinya pria itu tengah menahan amarah saat ini yang entah karena apa.
"Juga... Apa kau pikir dengan merubah penampilanmu saat ini akan merubah wajah cupu dan bodohmu itu?" Daniel tersenyum sinis. "Sepandai apa pun kau merubah penampilanmu, namun itu percuma saja. Karena kau tetaplah wanita bodoh dan cupu yang pernah aku kenal." Cecar Daniel.
Naina berkaca-kaca. Merasakan sakit yang teramat di dalam dadanya mendengar perkataan menyakitkan dari bibir Daniel.
"Le-paskan a-aku..." Naina memberontak. Berusaha melepas cengkraman tangan Daniel.
Naina tak dapat membendung air matanya. Mengingat kembali perkataan Daniel beberapa tahun yang lalu begitu menyakiti hatinya sampai saat ini. Perkataan sekaligus hinaan padanya.
Tiba-tiba saja Daniel melepas cengkramannya di leher Naina saat melihat air mata jatuh di kedua pipi wanita masa lalunya itu. Daniel terdiam beberapa saat. Pandangannya kini terisi penuh dengan wajah Naina yang basah.
"Apa salahku sehingga kau memperlakukan dengan buruk? Apa aku memiliki kesalahan padamu sehingga kau mempermainkan hati dan tubuhku waktu itu. Naina semakin menangis kencang.
Daniel hanya diam. Dadanya tiba-tiba saja terasa sakit saat melihat masa lalunya menangis seperti itu.
"Tolong biarkan aku pergi... Bukankah kau sudah menyelesaikan misimu untuk menjadikan aku wanita taruhanmu? Aku sungguh tidak apa akan perlakuan burukmu. Dan saat ini ku mohon lepaskan aku..." Ucap Naina sambil mengatupkan kedua tangannya pada Daniel.
"Kau jangan berbohong. Lalu apa tujuanmu bekerja di perusahaanku, heh?" Tanya Daniel mengeluarkan isi pemikirannya selama ini. Sejak pertama kalinya ia menyadari jika Naina sudah berada di dekatnya.
***
Selamat membaca☺
lanjut??
Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺
Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺