
"Tak..." Suara Zeline terdengar mengalun saat melihat Naina turun dari mobil Aga.
"Zeline..." Naina mengembangkan senyumannya saat melihat putrinya yang terlihat lucu dengan taburan bedak di wajahnya.
"Tak danteng..." Zeline ikut tersenyum senang saat melihat wajah Aga.
"Hai girl..." Sapa Aga lalu menggendong tubuh Zeline.
Tak lama Amara nampak keluar dari dalam rumah dengan memegang tempat bedak bayi di tangannya. "Zeline..." Amara lalu terdiam saat melihat Zeline berada di dalam gendongan Aga.
"Amara... Ibu dan Ayah mana?" Tanya Naina pada Amara yang nampak terdiam.
"Ibu dan Ayah pergi sebentar membeli jajanan untuk Zeline, Kak." Jelas Amara setelah memutus pandangannya dari wajah Aga.
Naina mengangguk paham. "Apa kau yang memandikan Zeline?" Tanya Naina yang diangguki oleh Amara.
"Motor Kakak mana?" Tanya Amara saat tak melihat motor Naina.
"Motor Naina masih ada di perusahaan. Nanti malam akan ada orang yang akan mengantarkannya ke sini." Ucap Aga membalas ucapan Amara.
Amara mengangguk paham. "Apa Kakak dan Kak Aga ingin pergi?" Tanya Amara.
Naina mengangguk. "Tolong jaga Zeline ya, Mara. Kakak akan pergi bersama Kak Aga setelah Kakak mandi." Pinta Naina.
"Baiklah, Kak." Amara nampak tersenyum paksa. Pandangannya pun kembali beralih pada Aga yang nampak sedang bercanda dengan Zeline. Kak Aga sepertinya sangat menyayangi Zel. Batin Amara dengan perasaan campur aduk.
"Ayo masuk dulu, Kak." Ajak Naina pada Aga yang diangguki oleh Aga.
"Zeline... ayo sama Kakak dulu. Kakak belum selesai menyisir rambutmu." Ucap Amara sambil mengulurkan tangannya pada Zeline.
"Ndak usah sisil, Tak. Dah tantik gini." Tolak Zeline sambil menggelengkan kepalanya.
"Huh, kau ini anak kecil tau apa? Lihatlah rambutmu masih berserakan. Ayo sini." Ucap Amara lalu mengambil tubuh Zeline dari pangkuan Aga. Namun saat mengangkat tubuh Zeline, Amara tak sadar jika rambutnya yang terjatuh itu menyapu wajah Aga hingga Aga dapat merasakan aroma wangi rambut Amara.
Setelah kepergian Naina, suasana di ruang tamu itu nampak canggung sebab Aga terus memenuhi pandangannya pada Amara yang sedang menyisir rambut panjang Zeline.
"Amara..." Panggil Aga dengan suara beratnya.
Amara menolehkan wajahnya pada Aga hingga ia dapat melihat wajah Aga yang kini terlihat sangat tampan dari jarak dekat.
"Bukankah kau sudah sudah menyelesaikan studymu?" Tanya Aga.
Amara menganggukkan kepalanya.
"Lalu kapan kau akan wisuda?" Tanya Aga lagi.
"Dua bulan lagi, Kak." Balas Amara yang diangguki paham oleh Aga.
Dengan menahan detak jantungnya yang semakin berdetak tidak normal, Amara pun kembali menyisir rambut Zeline. Kenapa semakin hari wajah dinginnya semakin tampan saja? Batin Amara memuji makhluk ciptaan Tuhan yang kini berada dekat dengannya.
"Tak Nai mau pelgi main sama Tak danteng?" Tanya Zeline pada Aga setelah Amara selesai menyisir rambutnya.
"Ya. Kakak akan membawa Kak Naina pergi sebentar. Tak apa bukan?" Tanya Aga.
Kepala Zeline mengangguk-angguk. "Leh. Ibu boleh Tak?" Tanyanya yang diangguki oleh Aga.
Dua puluh menit menunggu Naina pun sudah nampak siap dengan gaun bewarna lilac yang nampak cantik membungkus tubuh mungilnya.
"Ayah... Ibu... Nai pamit mau pergi sama Kak Aga, ya." Ucap Naina pada Ayah dan Ibunya yang sudah bergabung bersama Aga di ruang tamu.
***
Lanjut?
Komen dulu....