Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Mengenalinya dengan jelas


Aga terus bercerita hingga Naina pun larut dalam cerita menyedihkan yang keluar dari mulut Aga.


"Aku paham jika Kakak pasti sangat sulit untuk menerima kenyataan akan kehilangan sosok yang paling berharga di hidup Kakak. Tapi Kakak tidak boleh larut dalam kesedihan karena saat ini banyak orang-orang yang sangat menyayangi Kakak dan membutuhkan Kakak untuk tetap hidup demi masa depan Kakak." Ucap Naina sambil mengelus lengan Aga.


Aga menampilkan senyuman tipisnya. "Bolehkan aku meminjam pelukanmu sejenak?" Izin Aga.


Naina nampak berpikir sejenak lalu mengangguk sebagai jawaban.


"Terimakasih." Ucap Aga lalu membenamkan tubuh mungil Naina ke dalam pelukannya. "Aku harap kau adalah wanita yang dikirim Tuhan untuk menggantikan sosok Mama yang tidak pernah hilang di dalam hidupku." Ucap Aga penuh harap sambil menghirup aroma tubuh Naina yang mulai membuatnya nyaman.


Naina memejamkan kedua kelopak matanya. Menikmati kehangatan pelukan yang Aga berikan kepadanya. Tanpa sadar Naina pun turut membalas pelukan Aga hingga Aga semakin mempererat pelukan mereka.


"Terimakasih telah mengharapkan namaku di dalam doa-doa Kakak." Ucap Naina yang mulai merasakan perasaan aneh yang sempat ia rasakan sebelumnya saat bersama dengan Daniel.


Semakin hari bersama Aga semakin membuatnya bergantung pada perhatian dan kasih sayang yang pria itu berikan. Bahkan malam-malam yang dulunya Naina lalui dengan kesendirian dalam kenangan pahit bersama masa lalunya kini telah kembali hidup dengan kehadiran Aga di hidupnya.


Naina tak dapat membendung rasa yang seharusnya ia jaga. Kasih sayang tulus dari Aga benar-benar membuatnya terhanyut dalam perasaan cinta yang pria itu berikan. Sosok Aga yang pendiam dan dingin namun penyayang membuat arti tersendiri di hidup Naina. Aga bahkan bukan hanya menyayanginya. Tapi juga menyayangi anaknya dan juga keluarganya.


"Aku mencintaimu, Naina." Ucap Aga sambil memejamkan kedua matanya.


Detak kedua jantung yang berdetak begitu kencang itu saling beradu. Perasaan kasih sayang pun semakin hanyut menyelimuti jiwa kedua insan manusia yang saling berpelukan itu.


Di ambang pintu memasuki rooftop, sepasang kekasih yang sudah memiliki ikatan nampak memperhatikan interaksi kedua insan yang masih larut dalam pelukan erat Aga dan Naina.


"Apa kita masih mau berdiam di sini Daniel?" Tanya Queen yang sejak tadi hanya diam sambil mengikuti arah pandang Daniel.


"Tapi aku ingin makan di sini, Daniel." Queen terdengar tidak setuju dengan keputusan kekasihnya.


"Jika kau ingin, makanlah di sini tapi tidak denganku." Ucap Daniel.


Queen terdengar mendengus. "Apa karena sepasang kekasih tadi yang membuatmu tidak berselera?" Tebak Queen.


"Tentu saja tidak. Mereka tidak ada arti apa-apanya untuk membuat seleraku hilang." Kilah Daniel. Untung saja Queen tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita yang sedang berada di pelukan Aga hingga Queen tidak berpikiran macam-macam. Namun tidak dengan Daniel. Pria itu dapat mengenali dengan jelas siapapakah pemilik tubuh mungil itu. Tubuh yang dulunya selalu pasrah berada di bawah kungkungannya.


"Tapi akan memakan waktu lama jika kita mencari tempat makan yang baru Daniel. Dan aku sangat menginginkan makan di tempat ini." Rengek Queen.


Mendengar permintaan tunangannya itu membuat Daniel yang terus berjalan itu pun menghentikan langkahnya. "Baiklah. Kita akan makan di sini." Putusnya pada akhirnya.


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺