Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Apa aku egois?


"Zeline..." Naina perlahan melepaskan tangan Zeline dari kakinya. Kedua bola matanya nampak berkaca-kaca setelah mendengarkan permintaan penuh harap dari putrinya.


"Ya Mah... bobo sama Papah ya." Pintanya lagi dengan tatapan sendunya.


Tangan Naina terulur mengelus rambut putrinya. "Zel membeli ini menggunakan uang siapa?" Tanya Naina dengan lembut tanpa membalas permintaan Zeline.


"Lahasia. Inda boleh bilang." Kepala Zeline menggeleng lemah.


Wajah Naina nampak berubah. Pemikirannya kini menebak-nebak siapakah yang membelikan kasur untuknya. Dan tebakannya pun jatuh pada ayah dari anaknya.


Apa Daniel? Ucapnya dalam hati mengingat Zeline baru saja pergi dengan Daniel.


"Inda Papah yang bayal, Mah." Ucap Zeline yang seolah mengerti pemikiran Naina.


Naina menghela nafas panjang. Pandangannya pun beralih pada Ibu seolah menuntut jawaban. Namun Ibu mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.


"Apa sudah bisa dibawa masuk ke dalam kasurnya, Nona?" Tanya sopir.


"Mamah telima yah..." wajah Zeline nampak ingin menangis melihat Naina yang seperti enggan menerima hadiah darinya.


Hembusan nafas Naina kian melambat. Sungguh hatinya tidak kuat melihat tatapan kesedihan putri kecilnya. "Tentu saja Mama menerimanya, sayang..." Naina mengangkat Zeline lalu menggendongnya. "Tapi Mama bingung, kasur di kamar kan masih ada." Jelas Naina.


"Masukin gudang ja Mah." Balas Zeline.


Ibu menepuk lembut pundak Naina. "Untuk sementara kasurnya dipindahkan ke gudang saja, Nai." Ucap Ibu membenarkan ucapan cucunya.


"Letakkan di sini saja dulu ya, Pak. Kasur di kamar saya belum dikeluarkan." Ucap Naina pada sopir.


"Baiklah, Nona." Balas sopir lalu kembali melanjutkan pekerjaan mereka menurunkan kasur dan divan dari bak pick up.


"Maci Mamah, besok udah bisa bobo sama Papah ini!" Seru Zeline begitu riang.


Naina terdiam tak dapat berkata-kata membalas ucapan putrinya.


*


Malam semakin larut, namun Naina masih nampak termenung duduk di kursi meja rias sambil menatap ke arah putrinya yang nampak begitu nyaman tidur di atas kasur barunya. Tentu saja, kasurnya saat ini berukuran lebih besar 40 cm dari pada kasurnya yang lama. Dan jangan lupakan kasur barunya jelas lebih empuk dibandingkan kasur lamanya yang kini sudah berada di gudang.


"Aku tahu Zeline sangat membutuhkan sosok ayahnya saat ini bahkan sampai seterusnya. Aku tahu Zeline pasti sangat ingin bersama-sama dengan Daniel dalam jarak dekat. Aku tahu kebutuhan putriku saat ini. Namun aku... aku tidak bisa memberikan apa yang dibutuhkan putriku saat ini." Naina menghela nafasnya yang kian memberat.


"Apa aku begitu egois lebih mementingkan perasaanku sendiri dibandingkan putriku?" Bulir air mata mulai berjatuhan membasahi kedua pipi Naina. "Maafkan Mama Zeline... maafkan Mama yang belum bisa sepenuhnya menyembuhkan goresan luka yang telah Papamu torehkan. Hati Mama masih begitu sakit saat mengingat perkataan Papa dulu. Mama sudah berusaha berdamai dengan masa lalu, namun hati Mama tak bisa berbohong jika Mama masih sakit ketika mengingat itu semua." Naina mulai terisak.


Sampai saat ini pun Daniel hanya memintanya untuk memberikan kesempatan memberikan kasih sayang pada Zeline dan tidak ada kata yang lainnya. Naina pun sadar diri jika dirinya bukanlah wanita yang sesuai dengan selera Daniel. Terlebih saat ini sudah ada Aga yang berniat meminangnya dalam waktu dekat ini. Naina benar-benar dibuat bingung dengan keadaan ini. Terlebih Naina tidak ingin menyakiti hati pria sebaik Aga yang selama ini begitu tulus mencintainya bahkan sampai saat pria itu tahu jika dirinya bukanlah wanita yang suci.


***


Jadi bagaimana pendapat kalian gaes? Naina lagi galau ini🄲