Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Wajah yang selalu terbayang


"Niel... Ada apa denganmu? Kenapa sejak tadi kau mengacuhkanku?" Tanya Queen saat mereka sudah dalam perjalanan pulang. Sebenarnya Queen sangat ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama dengan Daniel di saat libur seperti saat ini, namun karena Daniel meminta untuk pulang karena kepalanya terasa berat, mau tidak mau Queen pun menyetujuinya.


"Aku tidak apa-apa." Balas Daniel dengan datar tanpa melirik ke arah Queen yang kini berada di sampingnya.


Queen terdiam. Namun ia menyadari jika perubahan Daniel terjadi setelah mereka bertemu dengan gadis kecil bernama Zeline.


Mobil pun terus melaju menuju arah rumah orang tua Queen.


"Kau akan langsung pulang?" Tanya Queen saat mobil Daniel sudah berhenti di depan gerbang rumahnya.


"Ya. Kepalaku sungguh berat. Dan aku membutuhkan istirahat saat ini." Balas Daniel.


Queen menghela nafasnya. Sebenarnya apa yang memberatkan pemikiranmu saat ini? Batin Queen sambil menatap Daniel.


"Baiklah. Kabari aku jika kau sudah sampai." Ucap Queen yang diangguki oleh Daniel.


"Kemarilah." Ucap Daniel sambil merentangkan kedua tangannya. Melihat wajah sendu Queen membuatnya merasa tidak enak.


Queen tersenyum senang lalu menghambur ke dalam pelukan Daniel.


"Sampai bertemu lagi." Ucap Daniel lalu memberikan ciuman singkat di bibir Queen.


Queen mengangguk dan tersenyum. Lalu keluar dari dalam mobil setelah membalas singkat ciuman kekasihnya.


"Ada apa denganku? Kenapa perasaanku sungguh tidak enak setelah melihat wajah gadis kecil tadi?" Gumam Daniel sambil mencengkram erat kemudinya.


Dua puluh menit berlalu, akhirnya mobil yang dikendarai Daniel pun telah sampai di depan mansion.


"Loh, Niel... Kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali" Tanya Mama Hasna merasa heran pada putranya yang baru saja masuk ke dalam mansion.


"Ini loh Mama mau main ke rumah sakit Kakakmu. Mama sungguh bosan sendirian di rumah." Balas Mama Hasna.


Daniel mengangguk paham. "Sampaikan salamku pada Kakak, Ma. Dan minta pada Kakak untuk datang ke mansion dengan membawa anak-anaknya." Pinta Daniel.


"Baiklah... Mama akan menyampaikannya. Kalau begitu Mama pergi dulu." Pamit Mama Hasna yang diangguki Daniel.


"Hati-hati di jalan." Ucap Daniel saat Mama Hasna mencium pipi kirinya.


*


Daniel menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Semakin mengingat wajah gadis kecil itu, entah mengapa dadanya semakin merasa sesak seakan ada sesuatu yang berat tengah menghimpit dadanya.


"Mata itu..." Lagi-lagi kepala Daniel dibuat menggeleng saat mengingat dengan jelas warna mata gadis kecil yang sudah mengacaukan pemikirannya.


Tiba-tiba saja ingatannya pun beralih pada Marko. Dimana ia telah memerintahkan sebuah tugas pada asistennya itu. Daniel pun segera menyambar ponselnya yang ada di atas nakas lalu melakukan panggilan pada Marko. Tak lama menunggu akhirnya panggilan telefon pun sudah terjawab oleh Marko.


"Apa kau sudah mencaritahu apa yang aku perintahkan?" Tanya Daniel tanpa basa-basi.


Dari seberang telefon kepala Marko nampak mengangguk walau Daniel tidak akan melihatnya. "Saya sudah mendapatkan sebagian informasinya, Tuan. Dan untuk kelengkapan informasinya akan saya dapatkan esok hari." Jelas Marko.


Tak lama panggilan pun terputus. "Hal bodoh apa yang aku lakukan sehingga mencari tahu sesuatu yang tidak penting seperti ini!" Gerutu Daniel lalu menutup wajah tampannya dengan kedua tangannya.


***


Lanjut lagi kalau like, komen dan votenya banyak ya, hehe😌