Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Ada hati yang tersakiti


Pembicaraan dua insan manusia itu pun terus berlanjut dengan saling berbagi cerita satu sama lain. Perasaan nyaman yang dirasakan oleh Naina saat bersama Aga pun berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


Setelah merasa cukup melewati waktu bersama di gelapnya malam, akhirnya Aga pun mengajak Naina untuk kembali pulang. Walau pun masih sangat ingin bersama dengan Naina, namun Aga masih menyadari jika ia tidak boleh mengembalikan wanita itu di waktu yang terlalu lama.


"Terimakasih untuk malam ini, Kak." Ucap Naina setelah turun dari motor Aga.


Aga tersenyum tipis. "Lain kali kita bisa pergi bersama lagi bukan?" Tanyanya memastikan.


Naina mengangguk ragu. Mendapat jawaban dari Naina membuat senyuman Aga semakin terkembang.


Kak Aga tersenyum? Batin Naina meragu melihat wajah tampan Aga yang semakin manis saat tersenyum.


"Apa Ayah dan Ibumu sudah tidur? Aku ingin berpamitan pada mereka." Ucap Aga.


"Sepertinya sudah, Kak." Balas Naina saat melihat jam di pergelangan tangannya.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Pamit Aga.


"Hati-hati di jalan, Kak." Ucap Naina yang diangguki oleh Aga.


Motor pun mulai melaju meninggalkan Naina yang masih terus menatap punggung Aga yang semakin lenyap dari pandangannya.


Seseorang yang sejak tadi mengikuti mereka dari jarak aman itu pun nampak mengetatkan rahangnya melihat betapa manisnya sikap Aga dan Naina.


"Pulang!" Titah pria itu lalu menyandarkan punggungnya di sandaran mobil. Kedua kelopak matanya pun mulai tertutup meresapi setiap kejadian yang ia lalui selama ini.


Sedangkan seorang wanita yang sejak tadi mengintip interaksi Kakaknya dan pria yang sudah menggetarkan hatinya itu dari balik jendela nampak tersenyum kecut saat menyadari jika pria yang mulai memenuhi pemikirannya itu sepertinya menyukai Kakak kandungnya. Melihat kakaknya yang hendak memasuk rumah, membuat wanita itu buru-buru masuk ke dalam kamarnya agar aksinya tidak ketahuan.


Saat sudah berada di dalam kamarnya, Naina memegang dadanya merasakan perasaan aneh yang sudah lama tidak ia rasakan. "Kak Aga..." Ucap Naina lirih sambil menyematkan senyuman di kedua sudut bibirnya.


Pandangan Naina pun jatuh pada putrinya yang masih terlihat lelap dengan mulut yang sedikit terbuka. Naina tersenyum. "Anak Mama... Tidur yang nyenyak ya..." Gumam Naina lalu memberikan ciuman singkat di kening putrinya.


*


Semenjak malam itu, hubungan Aga dan pun semakin hari semakin dekat, setiap harinya Aga selalu memberikan ucapan selamat pagi pada Naina dan tak lupa memberikan senyuman manisnya saat berjumpa dengan Naina di perusahaan yang dulunya sangat sulit untuk ia lakukan.


"Sepertinya misi kita berhasil." Bisik seorang wanita di telinga teman prianya saat tak sengaja membaca isi pesan Aga pada Naina.


"Ya, sepertinya begitu, Sasa." Balas pria itu yang tak lain adalah Dimas.


Ya. Pria dan wanita itu adalah Sasa dan Dimas yang sedang menikmati makan siang mereka di luar kantor bersama dengan Aga dan Thoriq tanpa adanya Naina. Karena hari ini, Naina memiliki pekerjaan di luar perusahaan bersama dengan Mbak Wiwin.


"Kita harus memberikan lebih banyak misi pada Aga, agar Aga bergerak lebih cepat untuk menjalin sebuah hubungan dengan Naina." Timpal Thoriq tanpa berbisik karena Aga baru saja pergi meninggalkan meja untuk pergi ke toilet.


"Kau benar... Jika Aga dibiarkan bekerja sendiri, akan memakan waktu lama untuk kita segera memiliki Kakak ipar!" Balas Sasa begitu bersemangat.


***


Mana nih like, komen dan votenya?


Komen yuk, masak enggak😌