Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Hubungan diantara mereka


"Bibi Hasna... Kak Dara tidak jadi ikut?" Wajah riang Agatha berubah muram saat tak melihat wajah Dara— kakak kandung Daniel bersama mereka.


"Kak Dara tiba-tiba saja mendapatkan panggilan dari rumah sakit jika ada pasien yang ingin melahirkan dan hanya ingin dibantu olehnya." Jelas Bibi Hasna.


"Lalu kenapa Fahran dan Fahri juga tidak ikut?" Tanya Agatha lagi merasa tak puas.


"Mereka lebih memilih ikut dengan Papanya menghadiri undangan makan malam rekan bisnisnya." Jelas Bibi Hasna lagi.


"Yah... Padahal aku sudah tidak sabar untuk mencubit pipi mereka." Keluh Agatha yang membuat Bibi Hasna tertawa kecil karenanya.


Dari tempatnya berdiri, Naina nampak terdiam dengan kepala tertunduk karena sejak tadi pria yang berdiri di belakang Bibi Hasna terus menatapnya dengan tajam.


"Kak Daniel... kau semakin tampan saja..." wajah Agatha nampak malu-malu saat memuji ketampanan Daniel.


Daniel memutuskan tatapannya dari Naina lalu membalas ucapan sepupunya dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Sayang sekali aku tidak bisa ikut menghadiri acara pertunangan Kakak dan Kak Queen waktu itu." Sesal Agatha. Karena saat itu ia dan Papa Andrew berada di luar negeri untuk mengunjungi kakek dan neneknya di sana.


"Tak masalah... Kau sudah cukup memberikan hadiah yang berguna untukku." Ucap Daniel yang membuat Agatha kembali tersenyum malu.


"Hasna... kau sudah datang?" Suara Papa Andrew yang terdengar dari belakang tubuh Agatha membuat percakapan mereka terhenti.


"Kakak... Ya. Aku baru saja sampai." Ucap Bibi Hasna sambil menyalimi Papa Andrew. "Wanita cantik ini..." Suara Bibi Hasna terdengar lembut saat menatap pasa wajah Naina yang sedang tertunduk.


"Dia adalah calon kakak iparku." Ucap Agatha dengan riang sambil tersenyum.


Naina pun mengangkat wajahnya lalu mengulurkan tangannya pada Bibi Hasna. "Perkenalkan saya Naina, Bibi..." ucap Naina merasa sungkan sebab baru memberi sapaan pada Bibi Hasna.


Papa Andrew dibuat menggeleng melihat tingkah putrinya. "Sudahlah... ayo duduk dulu sambil menunggu Aga selesai mandi." Ajak Papa Andrew yang diangguki oleh Bibi Hasna dan Daniel.


Sebenarnya ada hubungan apa Kak Aga dengan Daniel? Kenapa Nyonya Hasna memanggil Papa Kak Aga dengan Kakak? Batin Naina bertanya-tanya atas apa yang dilihatnya. Naina yang masih diliputi kebingungan itu tak dapat menjawab rasa kebingungannya sendiri dan lebih memilih untuk ikut kembali diduk di sofa.


"Bagaimana keadaan Alexander saat ini?" Tanya Papa Andrew setelah mereka duduk di sofa.


"Keadaan Kak Alex baik-baik saja, Kak." Balas Bibi Hasna.


Papa Andrew mengangguk paham. "Aku lihat setelah kepemimpinan perusahaan berada di tangan Daniel perusahaan Alexander semakin berkembang dengan pesat." Ucap Papa Andrew sambil menatap bangga pada Daniel.


Bibi Hasna yang mendengar putranya mendapatkan pujian itu hanya tersenyum dan mengangguk. "Perusahaan keluarga kita juga pasti akan berkembang dengan pesat jika Aga langsung turun tangan memimpinnya." Ucap Bibi Hasna dengan serius.


"Aku juga yakin dengan itu. Untuk saat ini biarkan saja Aga melakukan hal yang diinginkannya sampai saat itu tiba ia harus memimpin perusahaan setelah ia menikah dengan wanita pilihannya." Ucap Papa Andrew sambil menatap pada Naina.


Naina yang menyadari tatapan penuh harap dari Papa Andrew padanya itu hanya bisa menelan paksa ludahnya sendiri. Sedangkan Daniel, entah mengapa mendengar kata menikah dari bibir Papa Andrew membuat tangannya terkepal erat begitu saja dengan raut wajah tak rela.


***


Lanjut lagi?


Vote


Komen


Likenya dulu?🙂