Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Melindungi Daniel


"Kenapa Ayah memukul Tak Niel." Zeline menangis terisak-isak sambil memeluk kaki Daniel. Seolah-olah ingin menjadi pelindung agar Daniel tak lagi mendapatkan pukulan dari ayahnya.


"Zeline... menyingkirlah..." Ayah berupaya berucap selembut mungkin pada cucunya.


"Indah mahu... hua..." Zeline semakin memeluk erat kaki Daniel. Gadis kecil itu nampak ketakutan jika Ayah kembali memukul Daniel.


"Zeline..." Daniel berupaya melepas pelukan putrinya di kakinya. Setelah terlepas, Daniel pun segera mengangkat tubuh Zeline ke pangkuannya. "Jangan menangis... Kakak sungguh tidak apa-apa." Jemari Daniel menghapus air mata yang terus mengalir membasahi pipi putrinya.


"Jahat Ayah itu... pukul Tak Niel..." Zeline memeluk tubuh Daniel. Menumpahkan ketakutannya di dada bidang pria yang belum ia ketahui adalah ayah kandungnya.


"Zel..." suara Ayah tertahan. Emosinya yang belum surut ingin sekali ia lampiaskan pada pria berengsek di depannya saat ini. Namun melihat cucunya yang ketakutan membuat Ayah mengurungkan niatnya.


Ibu yang masih menenangkan Amara pun melepaskan pelukannya dari Amara lalu mendekat kepada Ayah. "Sudahlah, Yah..." ucap Ibu sambil menggeleng. "Kasihan Zel..." ucap Ibu dengan lirih berharap agar suaminya dapat mengerti.


Ayah menghembuskan nafas kasar di udara. Menatap pada langit-langit ruang tamu tamunya sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit.


"Zeline... lepaskan pria itu." Titah Ayah tanpa berniat menyebutkan nama Daniel.


Zeline menggeleng sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Daniel. "Inda mahu... Ayah jahat itu... Hua..." Zeline semakin menangis dengan kencang. Gadis kecil dan polos itu benar-benar tidak memahami keadaan yang terjadi. Yang ia tahu hanyalah ia tak ingin pria yang disebutnya Kakak itu mendapat pukulan lagi dari Ayah.


"Zeline..." Daniel berupaya melepaskan pelukan Zeline. Namun Zeline menggeleng sambil mengeratkan pelukannya.


Ayah pun memilih diam dan tak lagi bersuara. Melihat betapa sayangnya Zeline pada ayah kandungnya entah mengapa membuat dada Ayah dan Ibu terasa sesak.


"Sudah cukup, Yah... ingatlah dalam hal ini putri kita juga bersalah." Ucap Ibu mengingatkan kembali suaminya pada pembicaraan mereka beberapa hari yang lalu.


"Ayah... Ibu..." Amara yang sejak tadi diam di posisinya pun bersuara.


Amara mengangguk paham lalu berjalan mendekat kepada Zeline dan Daniel.


"Zeline... ayo kembali ke kamar." Ajak Amara sambil mengulurkan kedua tangannya ke tubuh Zeline.


Zeline menggeleng cepat di pelukan Daniel. "Inda mahu... Ayah nanti pukul lagi itu." Ucapnya menolak.


"Tidak... Ayah tidak akan memukul Kak Daniel... Ayo masuk ke kamar, Ayah dan Ibu ingin berbicara dengan Kak Daniel." Amara berusaha membujuk Zeline.


"Inda mahu..." Suara Zeline terdengar meninggi.


Daniel menjauhkan sedikit tubuh putrinya agar dapat melihat wajah Zeline. "Zeline... Kakak tidak apa-apa. Dan Ayah tidak akan lagi memukul Kakak. Percayalah." Ucap Daniel sambil mengelus rambut putrinya.


"Ayah jahat itu..." ucap Zeline di sela isakannya.


Daniel menggeleng seraya tersenyum. "Ayah tidak jahat. Ayah seperti itu karena Kakak bersalah. Bisakah Zel masuk ke kamar lebih dulu agar Kakak bisa meminta maaf dengan Ayah? Jika Kakak sudah meminta maaf, Ayah tidak akan lagi marah pada Kakak." Daniel berucap dengan lembut. Berharap putrinya dapat mengerti.


Kepala Zeline menoleh ke arah belakang sambil menatap takut pada Ayah. "Hua..." Zeline kembali menangis kencang. Rasa takut saat melihat Ayah memukul Daniel membuatnya tidak berani menatap pada Ayah.


***


Jangan lupa berikan dukungan dengan cara like, komen, gift dan votenya ya untuk lanjut ke bab berikutnya.


Sambil menunggu cerita Naina dan Daniel update, silahkan mampir ke karya aku yang baru yang berjudul Bukan Sekedar Menikahi. Terimakasih teman-teman🌹