
"Nai... Kau tidak makan?" Tanya Dimas yang sejak tadi memperhatikan Naina hanya sibuk menyuapkan bubur ayam ke mulut Zeline.
"Ya. Sebentar lagi." Balas Naina lalu kembali fokus menyuapi Zeline.
"Dah, Tak... Tenyang ini..." Ucap Zeline sambil mengelus perutnya.
Naina tersenyum senang. Satu mangkok bubur ayam itu nampak sudah hampir habis dimakan Zeline.
"Ya sudah, ayo minum dulu." Ucap Naina sambil memberikan segelas air putih pada Zeline. Dan segala pergerakan Naina itu tidak lepas dari pandangan Aga yang juga diam-diam memperhatikan tingkah Naina.
"Ayo Nai dimakan dulu sotonya." Ucap Sasa yang diangguki oleh Naina.
Sekitar dua puluh menit berada di tempat sarapan, akhirnya mereka pun berangkat menuju rumah Thoriq yang berada tidak terlalu jauh dari lokasi mereka saat ini.
"Mau mana ini, Tak?" Tanya Zeline saat mobil Sasa mulai bergerak masuk ke dalam jalan raya.
"Ke rumah Kak Thoriq. Kita mandi dan ganti baju di sana, ya." Balas Naina mengelus lembut rambut putrinya.
"Ya, Tak." Balas Zeline dengan tersenyum.
Lima belas menit berkendara, akhirnya mereka pun telah sampai di depan rumah lantai dua yang cukup mewah milik orang tua Thoriq.
"Ayo turun, Nai!" Ajak Sasa sambil membuka pintu mobilnya.
"Ayo." Balas Naina lalu membantu Zeline untuk turun.
Tak lama mobil milik Thoriq pun turut menyusul masuk ke dalam perkarangan rumah.
"Loh, Aga mana?" Tanya Sasa saat hanya melihat Thoriq dan Dimas yang turun dari dalam mobil.
"Makanya jangan langsung ngegas aja sampai gak lihat kalau Aga itu bawa motor sendiri." Cibir Dimas lalu menjitak kening Sasa.
"Aw... Sakit tahu!" Rutuk Sasa mengelus keningnya yang sakit.
"Tu Tak Aga!" Seru Zeline menunjuk motor besar yang baru saja masuk melewati pagar.
"Tumben lama amat sih, Ga?" Tanya Dimas merasa heran. Karena biasanya Aga-lah yang lebih dulu sampai dari pada mereka.
"Obat? Obat apa itu?" Tanya Sasa.
"Obat merah. Buat ngobati luka Zeline." Balas Aga dengan datar.
Sontak jawaban Aga membuat Dimas, Thoriq dan Sasa pun saling pandang satu sama lain. Dan sedetik kemudian senyuman miring pun terbit di bibir mereka masing-masing. Sedangkan Naina, wanita itu lagi-lagi dibuat tertegun melihat sikap Aga yang begitu perhatian pada putri kecilnya.
"Zeline... Ayo sini Kakak obatin kakinya." Ucap Aga lalu menggendong tubuh Zeline.
"Ya, Tak. Atit masi ini." Adunya sambil memasang wajah sedih.
"Ya sudah, ayo masuk!" Ajak Thoria lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Kau tinggal sendiri di rumah ini?" Tanya Naina karena melihat rumah Thoriq nampak kosong.
Thoria mengangguk. "Ya... Sudah enam bulan belakangan ini aku tinggal sendiri." Balasnya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Memangnya keluargamu ada dimana?" tanya Naina merasa heran.
"Orang tuaku sudah pindah ke kota lain untuk melanjutkan usaha mereka di sana. Dan mereka juga membawa adik-adikku untuk tinggal di sana." Jelas Thoriq.
Naina mengangguk paham. Pandangannya pun kini beralih pada Aga yang terlihat mulai mengobati kaki Zeline.
"Atit, Tak..." Adunya menatap pada Naina.
"Iya... Sebentar aja kok sakitnya." Ucap Naina mengelus rambut putrinya saat Aga mulai mengoleskan obat merah di lutut Zeline.
Sedangkan di seberang sofa tempat mereka duduk, Sasa terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Dimas. "Aku rasa Aga sudah mulai menyukai Naina." Bisiknya pada daun telinga Dimas.
"Aku rasa juga begitu." Balas Dimas yang juga ikut berbisik.
***
Mana nih like, komen dan votenya😌