Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Tak ingin berpisah


"Sejak di taman waktu itu dan di beberapa tempat aku dan Zeline sering bertemu tanpa diduga." Balas Daniel.


Aga menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Pandangan Aga pun beralih pada Naina yang nampak gugup setelah mendengarkan pertanyaannya.


"Naina, jika Zeline masih mau bermain di sini biarkan saja. Lagi pula Daniel bukanlah orang lain dan kau dapat percaya padanya." ucap Aga pada Naina.


Naina mengangkat kepalanya yang tertunduk. Menatap wajah Aga yang kini juga menatapnya. "Aku hanya tidak ingin Tuan Daniel kerepotan menjaga Zeline, Kak." Ucap Naina merasa sungkan.


"Saya tidak merasa direpotkan." Timpal Daniel yang turut berbahasa formal.


"Tak Nai dengal itu? Tak Niel nda melasa dilepotkan kok." Tambah Zeline. Zeline pun semakin mempererat pelukannya di tubuh Daniel.


Naina menghela nafas panjang. Melihat betapa Zeline sangat menginginkan Daniel walau putrinya itu belum mengetahui siapakah Daniel sebenarnya membuat hatinya terasa tercubit.


"Tapi sepertinya Kak Daniel ingin berenang. Zel akan merepotkan jika tinggal di sini." Ucap Amara berusaha membantu Naina saat melihat Naina tidak nyaman dengan kondisi saat ini.


"Kenapa Tak Mala dan Tak Nai melalang Zel belmain dengan Tak Niel? Hua..." Zeline pun akhirnya menangis.


"Eh." Amara dibuat terkejut dengan reaksi Zeline.


"Naina... Amara... Sudahlah." Ucap Aga menatap Naina dan Amara secara bergantian.


Melihat putrinya yang menangis dan mulai mengeluarkan air mata Daniel pun angkat bicara. "Bagaimana jika Kak Aga, Naina dan Amara di sini saja lebih dulu sampai jam makan siang. Setelah itu kalian bisa membawa Zel pergi untuk istirahat siang." Saran Daniel.


"Hua... Zel inda mahu pelgi... Mau sini ja!" Raung Zeline sambil menggelengkan kepalanya.


Aga dan Naina saling pandang beberapa saat kemudian mengangguk menyetujui perkataan Daniel. Lagi pula tidak ada gunanya mereka memaksa Zeline untuk pergi jika Zeline tetap bersikeras untuk tetap tinggal.


Beberapa menit berlalu, Aga dan Daniel pun memutuskan untuk berenang bersama sambil membawa Zeline berenang karena gadis kecil itu tidak ingin lepas dari gendongan Daniel.


Naina tak membalas ucapan Amara. Karena saat ini ia sedang larut dalam lamunannya dengan wajah yang nampak gelisah.


Merasa Naina tak menanggapi ucapannya, Amara mengalihkan pandangan kepada Naina yang terlihat melamun. Amara menghela nafas panjang. Ia sangat paham apa yang dirasakan Naina saat ini dan Amara tak ingin membuyarkan lamunan Kakaknya yang pasti sedang mencari jalan keluar atas permasalahannya saat ini.


*


Malam harinya, di villa khusus keluarga Aga, Daniel nampak menikmati makan malam bersama Aga, Naina, Zeline dan juga Amara atas permintaan Zeline yang tidak ingin jauh darinya. Setelah dua puluh menit berlalu, makan malam mereka pun selesai.


"Maaf, saya pamit lebih dulu karena ada pekerjaan yang harus saya kerjakan malam ini." ucap Daniel.


"Yah... Napa pelgi Tak?" Tanya Zeline merasa tak setuju.


"Zeline..." Naina menggelengkan kepalanya.


Melihat gelengan kepala Naina, Zeline pun terdiam dengan kepala tertunduk. Lagi pula ia sudah berjanji tidak meminta apapun lagi setelah Daniel makan malam bersama dengan mereka.


Daniel menarik tipis kedua sudut bibirnya melihat wajah cemberut putrinya. "Kita bisa bermain bersama lagi esok hari." Ucap Daniel menenangkan hati putrinya.


***


Yang sudah tidak sabar detik-detik terungkapnya rahasia besar Daniel dan Naina tunggu di bab berikutnya, ya😌


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya baru aku Bukan Sekedar Menikahi.


Yuk berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara vote, komen dan likenya. Teman-teman juga bisa memberikan dukungan dalam bentuk gift loh🤗