Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Ketampanan yang tidak berubah


"Maka katakanlah hal yang sedang menjadi beban bagimu itu padaku, Nai. Apa pun itu, aku akan menerimanya." Ucap Aga dengan yakin.


Naina menghela nafas panjang. "Maaf, untuk saat ini aku tidak bisa mengatakannya, Kak." Ucap Naina yang masih merasa berat mengungkapkan kenyataan yang ada.


"Baiklah. Jika kau tidak ingin mengatakannya sekarang aku tidak akan memaksa." Ucap Aga dengan tenang.


"Terimakasih telah mau mengerti, Kak." Balas Naina yang diangguki oleh Aga.


Malam itu pembicaraan mereka pun terus berlanjut hingga mereka memutuskan untuk pulang saat jam kian beranjak tinggi.


*


Hari-hari terus berlalu, hubungan Aga dan Naina pun semakin dekat setelah Aga mengungkapkan perasaanya walau sampai saat ini Naina belum menjawab ungkapan cintanya.


"Naina... Apa kau sudah melihat chat di grup perusahaan pagi ini?" Tanya Sasa saat baru saja sampai di ruangan divisi Humas.


"Belum. Aku bahkan belum menyalakan ponselku setelah kehabisan daya." Balas Naina dengan jujur.


"Kau ini kebiasaan sekali. Apa Kak Aga tidak pernah menghubungimu ketika pagi hari sehingga kau melupakan menghidupkan ponselmu?" Selidik Sasa.


"Pernah. Tapi aku sangat jarang membalasnya." Balas Naina apa adanya. Karena jika pagi hari Zeline bangun lebih awal, maka Naina akan disibukkan untuk mengurus putrinya lebih dulu.


"Oh ya ampun Naina... Kau itu terlalu polos sekali..." Kepala Sasa dibuat menggeleng melihat sikap rekan kerjanya.


"Sudahlah... Memangnya ada informasi apa di grup perusahaan?" Tanya Naina sedikit penasaran.


Daniel akan bertunangan? Batin Naina mengulang perkataan Sasa.


"Dia akan bertunangan dengan Nona Queen?" Tanya Naina sambil menahan perasaan aneh yang mulai menyerang dadanya.


"Ya. Tentu saja Presdir Niel akan bertunangan dengan kekasihnya yaitu Nona Queen." Balas Sasa.


Naina menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Apa kau akan datang?" Tanya Naina meragu untuk datang.


"Ya. Tentu saja. Aku akan datang. Karena aku ingin ikut menyaksikan betapa mewahnya acara pertunangan mereka nanti." Ucap Sasa begitu bersemangat. "Memangnya kau berniat tidak datang?" Tanya Sasa menatap heran pada Naina yang terlihat biasa saja.


"Entahlah... Aku masih ragu untuk itu." Balas Naina apa adanya.


"Ayolah... Kau harus datang, Nai. Acara pertunangan Presdir hanya terjadi sekali dan tidak ada kesempatan lagi kita meramaikan acara Presdir. Lagi pula nanti kita akan datang bersama dengan Kak Aga, Dimas dan Thoriq juga." Jelas Sasa.


"Ya... Akan aku usahakan." Balas Naina yang diangguki oleh Sasa.


Apakah aku harus datang di hari bahagia pria yang telah menyakitiku sedalam ini? Batin Naina meragu dengan ajakan Sasa. Naina pun segera menghidupkan layar ponselnya yang sempat mati untuk melihat pengumuman yang Sasa maksud. Dan saat pesan berisi undangan itu ia buka, entah mengapa Naina merasakan sesak di dadanya melihat foto Daniel dan Queen yang ikut tertera di dalam undangan.


"Di foto ini kau sudah semakin terlihat dewasa... Ketampanmu tidak pernah luntur di wajahmu. Aku akui kau begitu tampan. Namun aku tidak memungkiri kenyataan jika sosok dirimulah yang membuat aku jatuh sejatuhnya hingga aku merasa duniaku ingin runtuh jika saja aku tidak memiliki keluarga yang mau memaafkan segala kesalahan terbesarku." Gumam Naina mengusap foto Daniel di layar ponselnya.


****


Ketemu Daniel dan Naina kalau komen, vote dan likenya banyak, ya!😉