Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Tidak seperti biasanya


"Sayang..." Suara Queen terdengar mengalun. Bibirnya melengkung saat melihat tunangannya kini tengah duduk di kursi kerjanya sambil memejamkan matanya.


Daniel yang baru saja memejamkan kedua matanya kembali membuka kedua kelopak matanya saat mendengar suara kekasihnya memanggil namanya.


"Queen... kau sudah datang?" Ucap Daniel saat Queen sudah berada di dekatnya.


Queen mengangguk lalu tersenyum. "Sesuai janjiku. Aku datang membawakan makanan untukmu." Balasnya sambil mengarahkan pandangan pada rantang di depannya.


Daniel menegakkan tubuhnya. "Kau terlalu repot, Queen." Ucap Daniel sambil menatap rantang di depannya.


Queen menggeleng. "Tidak ada yang merepotkan jika itu tentang dirimu." Balas Queen dengan lembut.


Daniel dibuat terdiam. Rasa cinta Queen yang terlalu besar untuknya membuatnya sangat takut akan menyakiti hati wanita itu nantinya.


"Kenapa kau diam? Apa kau tidak senang dengan kedatanganku?" Tanya Queen dengan kening sedikit mengkerut.


"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan." Kilah Daniel.


"Aku sungguh tidak lelah. Melihatmu saja sudah cukup membuat semangatku kembali bangkit." Queen tersenyum dengan manisnya. Tangannya pun terulur meraih tangan Daniel. "Ini semua aku lakukan karena aku sangat merindukanmu, sayang..." Ucap Queen dengan manja. "Kau juga merindukanku bukan?"


"Tentu saja aku juga merindukanmu." Ucap Daniel tidak sesuai dengan hatinya. Karena hari-harinya terasa biasa saja seperti sebelum-sebelumnya saat mereka berjauhan.


Queen menggenggam tangan Daniel. "Kau terlihat tidak bersemangat. Apa ada yang mengganggu pemikiranmu sayang?" Tanya Queen.


"Tenanglah... tidak ada yang mengganggu pemikiranku." Daniel mengelus tangan Queen untuk menghilangkan banyaknya pemikiran di benak kekasihnya.


"Lalu ada apa? Aku bisa melihatnya dengan jelas, Niel..." Queen masih merasa tak percaya.


"Jika kau lelah maka istirahatlah. Kau bisa menggunakan sedikit waktumu untuk beristirahat. Jangan terlalu memaksakan tenagamu untuk bekerja." Queen memasang wajah khawatir.


"Tidak perlu cemas begitu. Aku jadi merasa bersalah membuatmu cemas seperti ini." Daniel tersenyum lalu bangkit dari duduknya. "Bukankah kau membawa makan siang untukku? Rasanya aku sudah sangat ingin menikmati masakanmu." Ucap Daniel mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kau ingin makan sekarang?" Tanya Queen. Wajahnya yang cemas sudah kembali tersenyum.


"Ya. Aku ingin makan berdua denganmu." Balas Daniel.


Queen semakin mengembangkan senyumannya. Wajahnya terlihat sangat bersemangat. "Duduklah di sofa lebih dulu. Aku akan menyiapkannya untukmu." Balasnya lalu bangkit dari tempat duduknya.


Daniel menurutinya.


Tak memakan waktu lama menyiapkan makanan untuk Daniel dan untuk dirinya, dua piring nasi beserta lauk pauk pun sudah terhidang di depan mereka.


"Apa rasanya enak?" Tanya Queen saat satu sendok nasi sudah masuk ke dalam mulut Daniel.


"Rasanya tetap enak seperti biasanya." Balas Daniel lalu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Perbincangan kecil diantara mereka pun terus berlanjut walau pun Daniel hanya menanggapi ucapan Queen seadanya. Dan seperti biasanya, Queen tak mempermasalahkan sikap kekasih hatinya itu karena cintanya yang terlalu besar untuk Daniel.


Entah mengapa aku merasa kau semakin berubah akhir-akhir ini, Daniel. Batin Queen menatap pada kekasihnya yang kini sibuk pada ponsel di tangannya setelah menikmati makan siang bersamanya.


Aku harus membuktikan jika dugaanku saat ini salah. Queen beranjak dari tempat duduknya lalu tanpa aba-aba duduk di atas pangkuan Daniel. Ia ingin melakukan apa yang biasanya ia lakukan untuk menggoda Daniel.


***