
"Maafkan kami Naina. Kau tidak memiliki kesalahan apa-apa. Kamilah yang bersalah karena terlalu penasaran dengan dirimu yang sepertinya tidak begitu peduli dengan keberadaan kami di kampus waktu itu. Hingga kami melakukan hal yang membuatmu terluka dan berefek buruk pada dirimu." Ucap Kevin semakin merasa bersalah.
Naina mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya. "Apa kalian tahu selama ini aku melewati hidup dengan perasaan bersalah yang teramat pada putriku karena tidak bisa mengakuinya sebagai anakku sendiri? Bertahun-tahun aku menahan rasa sakit karena putriku sendiri memanggilku dengan sebutan Kakak bukan Ibu."
"Naina..." Daniel yang turut merasakan kesedihan Naina tanpa sadar mengelus punggung Naina untuk menenangkannya.
"Kami sadar efek dari perbuatan kami sangat menyakitkan untukmu Naina. Kami terlalu bodoh melakukan hal tanpa memikirkan efek ke depannya. Dulu kami hanyalah pria yang memiliki pemikiran dangkal dan hanya ingin bersenang-senang." Kevin menunjukkan wajah semakin bersalahnya dan Naina dapat melihatnya.
"Jika diceritakan mungkin satu buku pun tak dapat menampung rasa sakitku selama ini." Lirih Naina. Bagaimana tidak, ia harus melewati kehamilan seorang diri tanpa sosok ayah dari anaknya di sampingnya. Menahan rasa sakit hati mengingat perbuatan Daniel dan teman-temannya seorang diri karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya ikut terluka jika mengetahui jika hatinya baik-baik saja. Melewati persalinan tanpa sosok Daniel hingga merawat Zeline tanpa Zeline tahu jika dirinya adalah ibunya bukan kakaknya.
"Sekali lagi maafkan kami Naina. Walau pun seribu kata maaf tidak akan mengubah rasa sakitmu di masa lalu, namun kami sangat mengharapkan ketulusan hatimu untuk memaafkan kami."
Naina kembali mengusap pipinya yang basah. "Aku sudah mencoba berdamai denga masa lalu dan itu cukup membuat hatiku menjadi tenang. Jika Tuhan saja mampu memaafkan kesalahan umatnya, lantas kenapa aku yang hanya hambanya tidak mau memberikan maaf." Ucap Naina.
"Naina..." Daniel dibuat tak dapat berkata-kata mendengar ketulusan hati Naina.
Naina menghela nafas panjang sebelum kembali berbicara. "Lagi pula kesalahan itu juga karena aku ikut terbuai dalam permainan yang kalian ciptakan. Jadi dalam hal ini aku juga turut bersalah." Ucap Naina kemudian.
"Terimakasih Naina. Kelakuan buruk kami di masa lalu cukup menjadi pelajaran untuk kami agar bisa berubah menjadi sosok yang lebih baik lagi." Ucap Kevin.
"Maafkan aku juga Naina. Dan terimakasih atas kebesaran hatimu." Tambah Marvel. Dio pun turut mengucapkan permintaan maafnya pada Naina.
Naina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku harap kedepannya kalian tidak lagi memandang rendah seorang wanita." Ucap Naina.
"Semoga saja." Ucap Naina.
"Mamah... apa Mamah sudah selesai bicala?" Kedatangan Zeline ke meja mereka membuat perhatian mereka teralihkan pada sosok Zeline.
"Sudah... kenapa kau ke sini?" Naina mengelus rambut putrinya.
"Teman-teman dah mau pulang itu Ma." Tunjuk Zeline pada teman-teman bermainnya yang sudah berada dalam gendongan orang tua mereka.
"Agh ya. Sepupuku sepertinya sudah mau pulang." Ucap Dio.
"Ya Om. Teman sudah mau pulang itu. Apa boleh Zel main sini saja?" Zeline nampak malu-malu mengungkapkan keingininnya.
***
Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).
Terimakasih☺️