
"Tatak Nai... oo Tak..." suara Zeline terdengar cukup nyaring memanggil nama Naina saat sudah berada di depan rumahnya.
Naina yang baru saja selesai memakai baju sehabis mandi pun buru-buru keluar dari dalam kamarnya mendengar teriakan Zeline.
"Zeline... jangan teriak-teriak nanti Ayah bangun." Suara Amara yang baru saja keluar dari dalam kamarnya menghentikan aksi Zeline memanggil nama Naina.
"Tak Nai mana Tak?" Tanya Zeline tanpa memperdulikan ucapan Amara. Lagi pula Ayah tidak akan pernah marah pada cucu kesayangannya itu.
"Kakak di sini. Ada apa Zel mencari kakak?" Tanya Naina berjalan mendekat pada Zeline. "Ibu dimana?" Tanyanya lagi saat tak melihat keberadaan ibunya.
"Da. Ibu dalam garasi itu." Balas Zeline menunjuk ke arah samping.
Amara yang mendengarkan ucapan Zeline pun segera keluar dari dalam rumahnya untuk membantu ibunya membawa barang belanjaan masuk ke rumah.
"Jadi Zel kenapa teriak-teriak hem?" Tanya Naina.
"Emh... kenapa ya? Lupa Zel tuh!" Mengetuk-ngetuk keningnya seolah tengah berpikir.
"Ibu..." melihat kedatangan ibunya, Naina pun segera mengambil alih belanjaan dari tangan ibu.
"Asik banget ini ada martabak!" Amara menunjukkan sekotak martabak di tangannya.
"Napa angkat-angkat Tak? Punya Ibu itu!" Protes Zeline sambil menggelengkan kepalanya.
"Punya Ibu berarti punya kita juga!" Balas Amara lalu menjulurkan lidah pada Zeline.
"Inda... punya Ibu itu!" Zeline berusaha mengambil kotak martabak dari tangan Amara.
Melihat itu Amara pun semakin menaikkan kotak martabak ke atas.
"Punya Ibu..." Zeline mulai merengek merasa tak sampai mengambil apa yang ia inginkan.
"Sudah-sudah. Kalian ini selalu saja ribut." Ucap Ibu menghentikan perdebatan kecil Amara dan Zeline. "Amara kemarikan!" Titah Ibu pada Amara yang dilakukan Amara dengan cepat.
"Ini Ibu beli untuk kita semua. Jadi kita bisa memakannya bersama." Ucap Ibu memberi pengertian.
"Yah... Tak Mala nda usah kasih itu." Ucap Zeline lalu menatap sebal pada Amara yang kini menjulurkan lidah padanya.
Ibu mengangguk lalu menyerahkan kotak martabak pada Naina. "Ayah belum bangun juga?" Tanya Ibu.
"Belum. Ayah masih pulas tidurnya, Bu."
"Ohh... kalau begitu Ibu ke kamar dulu lihat Ayah." Ucap Ibu yang diangguki oleh Naina.
"Napa masuk piling itu Tak?" Tanya Zeline sambil memperhatikan apa yang Naina kerjakan.
"Ini untuk Ayah. Dan ini untuk kita." Balas Naina sambil menunjukkan satu persatu tempat martabak.
"Kemarikan Kak. Mara mau itu." Pinta Amara yang diangguki oleh Naina.
Tak berselang lama, Ibu pun telah kembali lagi bergabung bersama mereka di ruang tamu.
Saat sudah menjatuhkan bokongnya di atas sofa, ibu menatap Naina dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Ada apa Ibu?" Tanya Naina yang seolah menangkap arti tatapan ibunya.
"Ada yang ingin ibu tanyakan kepadamu, Nai."
"Apa itu Bu? Katatakan saja." Balas Naina lalu kembali menyuapkan martabak ke dalam mulut Zeline.
"Tadi saat membeli martabak, Ibu dan Zel bertemu dengan rekan kerjamu di kantor."
"Rekan kerja Nai? Siapa Bu?" Tanya Naina dengan kening Naina mengkerut.
"Itu loh Tak. Tak Danteng!" Timpal Zeline disela mengunyah martabak.
"Kak ganteng?" Naina mengulang ucapan Zeline. "Apa Kak Aga? Kak Dimas? Atau Kak Thoriq?" Tanya Naina menyebutkan satu persatu nama rekan kerja pria di divisinya.
"Bukan Tak. Itu lo lebih danteng. Tak Niel itu loh..." balas Zeline lalu kembali mengunyah martabaknya.
*
Lanjut lagi? Komen, vote dan like dulu yuk😊