Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Tidur bersama Papah


Daniel menatap wajah putrinya yang masih basah oleh air matanya. "Baiklah. Saya akan tidur di sini malam ini." Putusnya kemudian.


Ibu tersenyum. Begitu pula dengan Zeline. "Papah..." Zeline mengulurkan kedua tangannya pada Daniel meminta untuk digendong.


Daniel segera meraih tubuh putrinya dan menggendongnya. "Jangan menangis lagi." Ucap Daniel sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Zeline.


"Papah inda mau bobo sini tadi makanya Zel nangis ini." Adunya lalu menjatuhkan wajahnya di bahu Daniel.


"Maafkan Papa." Balas Daniel yang diangguki oleh Zeline.


"Ayo masuk." Ajak Ibu yang diangguki oleh Daniel.


*


"Mamah... napa inda bobo sama Papah dan Zel saja?" Pertanyaan Zeline menghentikan langkah Naina yang hendak masuk ke dalam kamar Amara.


Naina membalikkan tubuhnya lalu menatap Zeline dengan tersenyum. "Mama kan tadi sudah menjelaskannya pada Zel." Balas Naina sambil mengelus kepala Zel.


"Besok ja nikah ya. Zel mau tuh Mamah dan Papah bobo sama." Pintanya dengan wajah polosnya.


Naina dan Daniel saling pandang. "Tidak bisa begitu. Untuk menikah Mama dan Papa harus mempersiapkan banyak hal lebih dulu." Tutur Naina lembut.


Zeline mengangguk saja tanpa menjawab kembali.


Naina pun kembali melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Amara. Tak lama Naina pun kembali dengan memegang boneka kelinci kecil milik Zeline.


"Ayo masuk." Ajak Naina pada Daniel.


Daniel mengangguk lalu mengikuti Naina masuk ke dalam kamarnya.


"Maaf jika kamarku tidak nyaman untukmu tidur." Ucap Naina sungkan.


"Tak masalah. Kamarmu cukup nyaman." Balas Daniel.


"Zeline, ayo sini." Naina meraih tubuh putrinya lalu menidurkannya di posisi biasa Zeline tidur. Tak lupa Naina meletakkan di atas perut Zel boneka kelinci kecilnya.


"Ada apa, hem?" Tanya Naina lembut.


"Mama inda bobo sini ja?" ucap Zeline untuk ke sekian kalinya.


Naina hanya tersenyum tanpa menjawab. Pandangannya pun beralih pada Daniel yang tengah menatapnya intens. "Aku sudah mempersiapkan baju ganti untukmu di sana." Naina menunjuk meja riasnya. "Itu adalah baju dan celana ayah yang masih baru belum terpakai. Sepertinya muat untukmu." Naina berusaha berucap tenang walau jantungnya saat ini berdegup kencang.


Daniel mengikuti arah pandangan Naina. "Terimakasih." Balas Daniel yang diangguki oleh Naina.


"Kalau begitu aku keluar dulu. Jika ada masalah kau bisa menghubungiku." Tuturnya kemudian. Sebelum meninggalkan kamar, Naina mengecup sejenak kening putrinya dengan sayang. Dan pergerakannya itu tidak lepas dari pandangan Daniel.


*


"Papah..." Zeline melambaikan tangannya pada Daniel saat Daniel baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah mengganti pakaiannya.


"Ada apa sayang?" Tanya Daniel lembut saat sudah berada di samping Zeline.


"Zel senang sekali bisa bobo sama Papah ini." Zeline merapatkan tubuhnya pada Daniel lalu memeluk tubuh kekar Daniel. "Papah halum sekali." Pujinya sambil mengendus aroma tubuh Daniel.


Daniel membalas pelukan putri kecilnya. "Papa juga senang bisa tidur dengan princess Papa." Balas Daniel sambil mengelus rambut putrinya yang tergerai.


"Pah... Zel mau Papah bobo sini ja ya lama-lama. Zel inda mahu Papa jauh bobonya itu." Pinta Zeline menatap Daniel dengan tatapan polosnya.


Daniel tertegun. Rasanya ia sungguh tidak tega mematahkan ucapan putrinya. Namun ia juga tidak bisa memberi harapan pada Zeline sebelum ia sah menjadi suami Naina.


"Bagaimana kalau besok Zel saja yang tidur di rumah Papa?" Tawar Daniel yang membuat wajah Zeline berubah sumringah.


***


Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).


Terimakasih☺️