
"Papa tidak bisa tidur di sini karna tidak ada kamar untuk Papa tidur." Naina mengelus rambut Zeline lalu mengecup kening Zeline.
"Inda ada kamal?" Kening Zeline mengkerut. "Kamal Tak Nai kan ada."
Naina tersenyum. "Di kamar kita tidak akan muat untuk Papa Niel tidur. Badan Papa Niel cukup besar sedangkan ranjang kita hanya cukup untuk kita berdua." Naina mencoba memberikan penjelasan yang cukup masuk akal pada Zeline.
Kepala Zeline mengangguk. "Ya deh. Kasul kecil itu. Papah inda muat." Bibirnya mengkerut. "Kalau Mama dah gajian beli kasul besal ya!" Pintanya dengan mata berkedip-kedip.
"Kalau uang Mama cukup, kita beli kasur yang lebih besar ya." Balas Naina tak ingin terlalu memberi harapan pada Zeline.
"Ya deh. Beli kapan ja Ma. Nanti uang inda cukup itu." Zeline mengecup kedua pipi Naina lalu menjatuhkan wajahnya di pundak Naina.
"Apa Zel sudah mengantuk?" Naina menatap mata Zeline yang nampak sayu.
Zeline mengangguk. "Mau tidul Zel ini." Adunya sambil menguap.
Naina tersenyum. "Kita ke kamar sekarang ya." Melangkah masuk ke dalam rumah lalu berpamitan pada Ibu dan Ayah membawa Zeline ke dalam kamar untuk ditidurkan.
*
Keesokan harinya, Naina berangkat bekerja dengan senyuman yang tak luntur di wajah cantiknya. Bagaimana tidak, sejak tadi malam hatinya sudah dibuat bahagia saat Zeline menyebutnya dengan panggilan Mama bahkan dalam tidurnya Zeline mengigau memanggilnya dengan Mama.
"Mama sangat menyayangimu." Naina mengelus foto putrinya yang menjadi walpaper ponselnya. Senyuman terkembang di wajah Naina hingga ia masuk ke dalam lobby perusahaan.
"Naina, kau terlihat senang sekali." Naina mengelus dadanya saat Sasa tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"Sasa, kau mengagetkanku!"
Sasa tertawa. "Aku tidak mengagetkanmu. Kau saja yang terlalu fokus tersenyum hingga tak menyadari aku berada di dekatmu."
Naina menurunkan tangannya dari dadanya. "Apa begitu terlihat?" Tanya Naina.
"Cukup terlihat. Apa kau sedang begitu bahagia?" Tanya Sasa kembali.
Naina mengangguk. "Ya. Aku sangat bahagia saat ini." Balasnya sambil tersenyum.
"Kau bahagia karena apa?" Tanya Sasa.
Langkah Naina kembali terhenti. "Rahasia." Balas Naina lalu kembali berjalan.
Wajah Sasa berubah masam. "Kau ini sungguh menyebalkan sekali!" Menepuk lengan Naina.
Naina tertawa. Mereka pun masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
"Kau hutang penjelasan padaku, Naina." Tekan Sasa saat pintu lift sudah terbuka.
"Penjelasan tentang kebahagiaanmu saat ini."
Naina mengangkat kedua bahunya. "Aku akan memberitahumu jika waktunya sudah tepat." Balas Naina yang kini memasang wajah serius.
Sasa mengangguk saja walau saat ini ia sudah sangat begitu penasaran. Saat sudah masuk ke dalam ruangan, langkah Naina terhenti saat matanya bertatapan dengan mata Aga yang kini menatapanya. Sedangkan Sasa terus melanjutkan langkahnya menuju meja kerjanya.
"Kak Aga." Sapa Naina dengan tersenyum.
Aga turut tersenyum. "Apa kau sudah membuka ponselmu pagi ini?" Tanya Aga.
Naina mengangguk. "Sudah. Aku juga sudah membaca pesan Kakak namun belum sempat membalasnya."
"Jadi bagaimana? Apa kau bisa pergi nanti malam?" Tanya Aga.
Naina mengangguk. "Kakak ingin mengajakku kemana?"
"Apa kau begitu penasaran?" Mengangkat sebelah alis matanya.
Naina mengangguk.
"Kau akan mendapatkan jawabannya nanti malam."
Bibir Naina mengkerut. "Kakak selalu saja membuatku penasaran."
Aga tersenyum tipis. "Aku hanya ingin mengajakmu pergi menemaniku makan malam di rumah Paman Alexander nanti malam." Jelas Aga.
"Tu-tuan Alexander?"
***
Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir ke karya aku yang lainnya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
- Hanya Sekedar Menikahi (End)
- Bukan Sekedar Menikahi (On Going)
Terimakasih☺️