Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Gadis kecil di taman


"Wanita yang menjadi kekasih Aga?" Jemari Daniel mengetuk-ngetuk bolpoin di tangannya ke atas meja. Senyuman sinis nampak tercetak di sudut bibirnya. "Ternyata kalian bergerak dengan cepat." Ucapnya sambil mencengkram erat bolpoin di tangannya.


Siang itu Daniel nampak tak konsentrasi dalam bekerja karena pemikirannya kini penuh dengan nama wanita yang sudah beberapa tahun belakangan ini mengganggu pemikirannya.


Tring


Bunyi telefon di atas meja kerjanya menghentikan lamunan Daniel tentang masa lalunya.


"Ada apa?" Tanya Daniel saat panggilan sudah terhubung dengan sekretarisnya.


Tuan Kevin kini berada di luar ruangan anda dan ingin masuk menemui anda, Tuan.


"Baiklah." Balas Daniel lalu menutup sambungan telefon. Semenjak kedatangan tiga sahabatnya dan Queen yang sering masuk tanpa seizinnya ke dalam ruangannya, Daniel memang memerintahkan pada Marko untuk menyuruh tukang untuk membuatkan kode akses masuk ke dalam ruangannya.


Setelah menekan sebuah remot dan pintu otomatis bisa terbuka, Kevin pun masuk ke dalam ruangannya.


"Apa kau sibuk siang ini, Daniel?" Tanya Kevin tanpa basa-basi. Kevin menatap pada laptop Daniel yang masih tertutup. "Sepertinya kau sedang tidak sibuk." Ucapnya menyimpulkan sendiri.


"Ada apa?" Tanya Daniel yang dapat menangkap maksud kedatangan Kevin siang ini.


"Aku ingin mengajakmu menghadiri acara pembukaan tempat bermain anak milik Mamiku. Rasanya aku sungguh malas untuk menghadirinya karena di tempat itu pasti banyak anak-anak dan ibu-ibu yang nantinya akan menjadikanku bahan untuk berfoto-foto mereka selama berada di sana." Terang Kevin.


"Lantas apa untungnya jika kau mengajakku?" Tanya Daniel merasa bingung.


"Jika aku mengajakmu, aku bisa memiliki alasan pada Mamiku untuk sebentar saja berada di sana karena harus pergi bersamamu untuk bekerja." Ucap Kevin.


"Aku tidak bisa." Daniel menolak dengan cepat.


"Kau tidak bisa menolak karena aku yakin kau sedang tidak sibuk hari ini. Lihatlah, kau bahkan mengabaikan laptopmu." Tekan Kevin.


Daniel mendengus. "Namun aku tetap tidak bisa." Ucapnya lagi.


"Kau boleh saja menolak ajakanku saat ini. Namun jangan salahkan aku jika besok aku juga menolak ajakanmu untuk membohongi Queen." Ancam Kevin.


"Ya begitulah." Balas Kevin dengan santai.


Dan mau tidak mau siang itu Daniel pun mengiyakan ajakan Kevin untuk pergi ke tempat bermain anak yang akan diresmikan Mami Kevin.


Saat sudah sampai di tempat yang Kevin maksud, kepala Daniel dibuat berdenyut melihat banyaknya anak-anak yang sudah berkeliaran di sekitar tempat bermain.


"Kenapa anak-anaknya banyak sekali!" Gerutu Daniel pada Kevin sambil terus berjalan menuju tempat acara.


"Sudahlah. Tidak perlu mengeluh begitu. Lagi pula kita hanya sebentar di sini." Ucap Kevin mengingatkan.


Daniel medengus kecil sambil terus berjalan. Namun belum sampai di tempat acara berlangsung. Langkah Daniel dibuat terhenti saat melihat sosok gadis kecil dan gadis remaja yang baru saja masuk ke area tempat bermain.


"Lame lo Tak Mala teman-teman sini..." Suara gadis kecil yang sangat familiar di telinganya itu membuat pandangan Daniel kini terpusat ke arahnya.


"Bukankah gadis itu yang kita jumpai di taman waktu itu?" Tanya Kevin yang diangguki oleh Daniel.


Gadis kecil yang nampak kegirangan itu terus berjalan bersama Kakaknya hingga sampai di tempat Daniel berdiri.


"Loh... Tak Danteng ini? Main sini juga, Tak?" Gadis kecil itu nampak begitu senang sambil meloncat-loncat saat melihat wajah Daniel untuk kesekian kalinya mereka berjumpa.


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺