Dia Anakku, Bukan Adikku

Dia Anakku, Bukan Adikku
Minuman untuk Papa


Zeline terlihat terbangun lebih dulu dibandingkan Daniel yang masih terlelap nyaman dalam tidurnya. Gadis kecil itu nampak mengusap-usap matanya setelah duduk di atas ranjang. Pandangannya terarah ke samping dimana Naina tadi malam tidur memeluknya namun ia tidak melihat keberadaan Naina di sana. Pandangan Zeline pun beralih pada sisi sebelahnya dimana Daniel masih terlelap di sana.


"Papah bangun..." Zeline mengusap-usap wajah Daniel dengan tangan mungilnya berharap dapat membangunkannya.


Merasa tidurnya terusik akibat ulah tangan putrinya, kedua kelopak mata Daniel pun perlahan terbuka. Pemandangan yang sangat indah pun ia dapatkan karena saat membuka mata melihat wajah cantik belahan jiwanya.


"Zeline sayang..." ucapnya dengan suara serak.


"Papah bangun ini..." Zeline tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi kecilnya.


Daniel turut tersenyum. Ia lalu bangkit dari ranjang untuk duduk. "Putri Papa sudah lama bangun?" Daniel mengarahkan pandangan pada jam yang berada di atas nakas sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Kepala mungil Zeline mengangguk-angguk. "Mamah ilang itu. Dah pelgi masak dapul kayanya itu." Tunjuknya pada ranjang yang sudah kosong.


"Oh... Mama sudah bangun lebih dulu, ya." Tangan Daniel terulur mengusap rambut putrinya yang berantakan hingga membuat wajah Zeline terlihat semakin menggemaskan. Lalu menurunkan kakinya dari ranjang. "Ayo mandi dulu, Princess Papa." Tangan Daniel terulur ke arah Zeline yang masih duduk di atas ranjang.


Zeline mengangguk lalu bangkit berdiri. Lalu berjalan mendekat pada Daniel dan membenamkan tubuh mungilnya di dada bidang Daniel. "Asikna mandi sama Papah ini." Ucapnya seraya mengeratkan pelukannya di tubuh Daniel.


Daniel tersenyum. Ia berikan satu kecupan di kening putrinya lalu menggendong putrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Papah inda siapkan baju dulu ini? Mamah siapkan baju dulu itu balu bawa Zel kamal mandi." Ucap Zeline saat Daniel tengah membuka bajunya.


"Nanti saja, ya, Papa melupakannya." Daniel tersenyum kaku.


"Ya deh." Zeline pun turut tersenyum.


*


"Mamah..." mendengar suara Zeline terdengar mengalun dari arah pintu dapur membuat Naina mengarahkan pandangan ke sana.


"Zeline..." Naina melebarkan senyumannya melihat wajah cantik putrinya yang terlihat menggemaskan dengan bedak bertaburan di wajahnya.


Zeline pun berjalan ke arah Naina lalu memeluk kakinya. "Zel sudah tantik gini." Ucapnya sambil mengusap wajahnya di celana Naina.


"Papah mandiin ini loh..." adunya.


"Papah? Apa Papah sudah bangun?" Naina sedikit terkejut mendengar ucapan putrinya. Ia pikir Zeline habis dimandikan oleh Amara.


"Dah Mah... Papah lagi celita itu sama Kakek." Ucapnya sambil menunjuk arah depan rumah.


Naina mengangguk paham. Ia matikan api kompornya lalu berjalan ke arah rak piring.


"Mamah mau apa ini?" Tanya Zeline mengikuti langkah Naina.


"Mama mau membuatkan teh untuk Papa. Zel duduk di kursi kecil dekat meja makan dulu ya." Ucap Naina tanpa menatap wajah Zeline.


Zeline menganggukkan kepalanya walau Naina tak melihatnya. Kaki mungilnya pun berjalan ke arah meja makan lalu duduk di sana.


"Mamah, Zel mau minum juga ini." Protes Zeline melihat Naina hanya menyiapkan minuman untuk Daniel namun tidak untuk dirinya.


"Sebentar, ya, Mama antarkan minuman untuk Papa dulu baru membuatkan susu untuk Zel." Tuturnya lembut.


"Ya, Mah." Balas Zeline menurut.


"Baiklah kalau begitu Mama ke depan dulu mengantarkan minuman untuk Papa." Ucap Naina dan Zeline menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


***


Jangan lupa berikan dukungan untuk Naina dan Daniel dengan cara like, komen, vote dan giftnya. Semakin banyak dukungannya, SHy semakin semangat menulisnya ini🌹


Sambil menunggu DABA update, silahkan mampir di karya SHy yang lainnya, ya. Hanya Sekedar Menikahi (End), Serpihan Cinta Nauvara (End), Oh My Introvert Husband (End), Bukan Sekedar Menikahi (On Going).


Terimakasih☺️